Baca juga yang ini

Alhamdulillah...satu tahap perjuangan telah dilalui...

Rasulullah bersabda :"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fi sabilillah hingga ia kembali.(HR.Muslim) Jum'at...

Saturday, April 16, 2011

Hilang

HILANG TANPA JEJAK


Awal bulan Januari tahun 2010, Insya Allah, pernikahan kami akan genap 19 tahun. Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Tahu-tahu ketiga anakkuku sudah tidak kecil lagi. Si sulung sudah berusia 17 tahun dan duduk di bangku SMU kelas 3. Yang kedua seorang anak laki-laki sudah berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMU kalas 1. Sedangkan si bungsu, berusia 7 tahun dan kini duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 2.

Ungkapan ‘tak terasa dan tahu-tahu’ kerapkali digunakan untuk menandakan betapa cepatnya waktu berlalu. Tapi aku menikmati semuanya, seperti aku menikmati tumbuhnya bunga-bunga yang ada dihalaman belakang rumah. Sejak dari bibit hingga layu mengering, sampai akhirnya tanaman bungaku mati karena usia. Aku menilik dan bertanya pada hatiku. Apakah aku sudah berbuat baik selama ini? Apakah aku membuat diriku, anak-anakku dan suamiku menjadi lebih baik? Tidak bisa dipungkiri, pertengkaran kecil, dan salah paham sering mewarnai hari-hari kami. Pertengkaran kecil kerap dipicu oleh masalah sepele, misalnya soal anak-anak. Seperti yang terjadi pada siang hari itu.

Matahari bersinar sangat terik. Aku merasa sangat ‘gerah’ karena dari tadi bergelut di dapur. Untuk membuat tubuh ini sedikit nyaman, setelah menyelesaikan urusan ‘hidangan makan siang’ aku duduk di halaman belakang, leyeh-leyeh sambil membaca sebuah majalah wanita.
“ Assalamulaikum……”,
Aku tersentak kaget, ketika tiba-tiba suamiku sudah berada di depan hidung eh, mata.
“Waalaikum salam….Mas “, Aku mendekat dan mencium telapak tangannya.
“ Enak ya…di rumah bisa enak-enakan, baca-baca buku sambil tiduran”, mendengar ucapannya, yang tidak meng’enak’kan hati, sontak aku tertegun. Hhmm…ada apa? Pikirku.

Tidak biasa kata-katanya tajam menusuk. Tidakkah dia tahu, aku baru saja memasak setelah sebelumnya berjibaku dengan setrikaan dan sebelumnya lagi bersibuk ria dengan urusan cuci mencuci? Aku tidak suka dengan ucapannya. Tapi aku tak berani berbantah, mungkin hari ini, suamiku sedang banyak masalah di kantor, batinku.
“Mas, ada apa…?” Aku memberanikan diri bertanya.
Kuperhatikan raut wajahnya, tidak sumringah seperti biasanya. Belum sempat pertanyaanku dijawab, suamiku berkata lagi.
“Anakmu tuh, kebiasaan ngobrol dengan teman lelakinya diujung gang, tidak sopan santun “ katanya dengan nada masih emosi.
Sebenarnya aku belum ‘ngeh’ banget’ dengan perkataan suami, tapi…suamiku lagi-lagi men’skak’ aku.
“ nggak becus ngurus anak , cepat suruh ia masuk...!!” bertambah ketus nada suaranya.
“Oya..ya…” meski terbata, aku langsung melongok ke ujung jalan sesuai petunjuk suami..
Aku melihat Putri, anak sulungku yang kini sudah menjelma menjadi seorang gadis sedang ngobrol dengan teman lelakinya. Entah apa yang diobrolkan, tapi nampak serius.
“Hhhmmm….ini yang membuat suamiku marah?”, tanyaku dalam hati.
Ya, sebagai seorang ayah, suamiku paling tidak suka melihat anak perempuannya terlihat sedang berdua-dua dengan lain jenis. Walau hanya teman sekolah.
Setengah berlari aku mendekati anakku.
“Ayuk, masuk…jangan berbincang di jalan’ ga enak sama omongan tetangga”. Kataku setelah berada dekat mereka.
“Terima kasih Bu, saya langsung pulang…. bye..” Kata teman anakku dan ia langsung berbalik arah menjauh dari kami.
“ Ada apa sih Bunda..”
“Masuk dulu, nanti kita bicarakan didalam…”
.Anakku berjalan mengekor dibelakangku.
Tampang suami masih kusut, matanya berkilat marah, diam seribu basa, menyambut kami. Tapi aku tahu diamnya adalah marahnya.
Begitulah, suamiku. Tidak pernah memarahi anak secara langsung. setiap kali ada perilaku anak yang tidak berkenan di hati, marahnya ditujukan kepadaku. Dan kata-katanya selalu menoreh luka di hati.
“Kurang becus ngurus anak..”
Itu kata andalannya setiap kali marah.
“Sudah, diam…ga banyak alasan..” , setiapkali aku mencoba mengemukakan alasan.

Untuk mengamankan ‘keadaan’ akupun hanya diam. Bagiku diam adalah emas, karena aku tahu semakin membela diri, marahnya semakin menggunung.

Sepanjang sisa siang hari itu, suami bukan cuma mendiam’kan aku, tapi makanan yang kuhidangkan disentuhnya tanpa selera. Ia makan tidak seperti biasanya. Sekedar mengobati ‘lapar’nya saja. Ahh....rupanya suamiku benar-benar marah, teramat marah.
Sementara suami beristirahat siang di kamar, aku masuk ke kamar anakku, mencoba bicara dari hati ke hati.
“Nak, kamu sudah tahu..ayahmu paling ga suka melihatmu pulang sekolah tidak langsung masuk ke rumah ”, aku menegaskan lagi
“Apalagi sekedar untuk ngobrol yang ga jelas, apalagi dengan anak laki-laki ..”
“Tapi Bun..”
Anakku nampak mau bicara tapi…
“Sssstt….nanti kita bicarakan lagi ya.., ganti baju, dan ,makan siang gih..”
“Bunda sudah siapkan makanan kesukaanmu”.
---------------------
“kamu ga becus mendidiknya,”, kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Cuma empat deretan kata, tapi sungguh sangat menohok hatiku dan menghujam ke jantungku hingga mampu menjatuhkan rasa percaya diriku ke lembah yang paling dalam. Rasanya sebagai ibu aku sudah mendidik anakku dengan baik. Tapi salahkah aku bila dalam perjalanan anakku berlaku belum sesuai harapan?
Ahh….mendidik anak yang sedang menginjak remaja memang tidak mudah… Pada usia ini anak ingin menunjukkan ke-aku-annya. Sebagai seorang Ibu, sebisa mungkin aku berusaha menjadi 'sahabat' untuk anak gadisku. Menjadi sahabat, tempat anak-anakku menceritakan semua beban hatinya, secara aman dan nyaman. Aku selalu mencoba menjadi 'pendengar' yang baik untuk anakku. Aku juga mencoba bisa 'menerima' perasaan mereka apa adanya. Pun perasaan ‘cinta’ yang mulai bersemi dan bersemayam di hatinya. Perasaan yang wajar di usianya seperti remaja lainnya yang mulai menyukai teman lawan jenisnya.

Hingga malam hari, suamiku masih nampak marah. Setelah menyantap makan malamnya, ia melangkah, melewatiku, kembali masuk kamar dan menutup pintunya. Tamatlah aku, batinku.

“Apakah menyukai seseorang itu dosa, Bunda?” Tiba-tiba gadisku keluar dari kamar. Meski lirih anakku berbisik di telinga, tapi cukup mengagetkanku. Ia lalu duduk disampingku. Sambil menonton acara realita di sebuah stasiun telivisi, kami melanjutkan pembicaraan siang tadi.
“Tentu saja tidak… sayang”, jawabku.
“kemampuan hati untuk menyukai seseorang itu adalah karunia dari Allah. Karenanya ada hukum-hukum Allah yang harus dipatuhi. Pergaulan bebas sama sekali tidak diperbolehkan. Dan yang terutama harus menjaga hati.” Aku mencoba menjelaskan tentang bagaimana rasa cinta tumbuh dan berkembang.
“ Bagaimana caranya, Bunda?”
“Bila kamu jatuh cinta pada seseorang, akui saja kalo memang kamu suka, tapi sebisa mungkin simpan di hati. Jangan biarkan dia tahu. Dan jangan berbuat apapun yang membuat kamu tambah suka padanya. Biarlah kuncup cintamu mekar tapi cukup di hati. Namun, bila kamu tidak tahan dan ingin becerita tentang dia pada orang lain, samarkan identitasnya.”
“Mengapa?” Tanya anakkku penasaran.
“Supaya orang tidak menyebarkan gossip, supaya namamu dan nama orang yang kam u sukai terjaga.Kamu tidak akan tahu siapa dia dalam masa depanmu. Mungkin saja ia akan menjadi suami sahabatmu atau teman suamimu kelak. Coba bayangkan bagaimana perasaan sahabatmu atau suami mu kalau mereka mendengar tentang yang pernah terjadi. Kacaukan jadinya?”
Anak gadisku hanya mengangguk.
“Makanya dalam Islam tidak ada pacaran ya, Bund..”
“Pacaran itu apa?” tanyaku untuk lebih menegaskan pada putriku.
“Seperti yang dilakukan orang-orang. Duduk berdua, kemana-mana berdua”.
“Itu semua dimasukkan dalam katagori mendekati zina. Dosa. Makanya tidak ada istilah pacaran dalam agama kita”.
“Kata teman-teman yang tidak punya pacar kuper”.
Aku tersenyum mendengar penjelasan anakku .
“Percayalah…Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan”. Tiba-tiba suamiku keluar dari kamar dan menyela pembicaraan kami, dan duduk tepat di antara aku dan gadisku. Meskipun kaget menyergapku, aku mencoba bersikap biasa.
” Dan pasangan hidupmu kelak, akan datang pada saat yang tepat nanti”, urai suamiku lebih lanjut.
Anakku tersipu malu mendengar penjelasan dari ayahnya dan langsung berbalik ke kamar, setelah mengucap selamat tidur kepada kami. Tak lupa sebuah kecupan, mendarat di pipi.

Aku dan suamiku saling pandang. Aku merasakan tangannya yang kekar melingkar di badan saya. Ia mengeratkan dekapan dan menatap setiap jengkal wajah saya. Kami bertatapan.
“maafkan atas kejadian siang tadi”, aku sudah tak mampu mendengarnya lagi. Begitulah setiap kali kata maaf terucap dibibirnya, mak nyesss…..hilang semua rasa amarah yang tadi meletup-letup di dada. Terbang dan hilang tanpa jejak.

Tuesday, April 12, 2011

Melepas Anak Bergaul

Satu persatu anakku menjadi remaja dan dihadapkan dengan pergaulan dunia luar yang penuh tantangan nan penuh menggoda. Bergaul dengan banyak teman akan memperkaya warna hidup anak kita. Teman A lembut menenangkan, si B pandai berkata-kata, si C hidup seperti didalam pesta, selalu ceria dan tanpa beban- Sementara si D pandai mengatur dan mengarahkan. Jangan tanya mana yang lebih baik untuk menjadi teman anak kita, tapi tanya bagaimana anak kita bisa menjadi yang TERBAIK dalam apapun kondisinya .

Berangkat dari aneka warna kepribadian yang melingkari kehidupan pergaula anak kita, sangatlah diharapkan agar kita senantiasa membingkai/ membekali anak kita, dengan bingkai kepribadian yang Islami. Agar anak kita mampu menjalani hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik walau dihadapkan banyak kepribadian dengan segala tuntutannya.

Membekali seorang anak dengan kepribadian islami sangatlah penting agar ia tidak terombang-ambing dalam ganasnya samudera kehidupan . Kepribadian islami ditandai dengan adanya:
Pertama, salimul aqidah keyakinan kitat terhadap Allah sehingga terbentuklah akidah yang salim, yang selamat, yang lurus.
Kedua, shahibul ibadah, ibadah yang benar. Bila anak kita yakin ibadah sholat itu wajib, maka tentu anak kita akan mendrikan shalat dengan benar.
Ketiga adalah matiinul khuluk, akhlak yang bagus. “ Rasululllah pernah ditanya mana diantara para muslim yang paling imannya? Ternyata jawabannya adalah yang paling akhlaknya.”
Keempat mujahidun linafsihi, artinya semua urusanmu kerjakan dengan professional, dengan teratur, dengan rapi sebab Allah sendiri sangat mencintai seseorang manalkala orang itu bila mengerjakan sesuatu dengan tekun dan professional.

Insya Allah apabila kita sudah membingkai / membekali dari rumah dengan keempat kepribadian seperti tertulis diatas diharapkan anak kita akan mampu berinteraksi dengan lingkungannya.dengan baik. Mreka akan siap bergaul dan berkelana di dunia luar yag penuh tantangan.

Melepas Anak Bergaul

Satu persatu anakku menjadi remaja dan dihadapkan dengan pergaulan dunia luar yang penuh tantangan nan penuh menggoda. Bergaul dengan banyak teman akan memperkaya warna hidup anak kita. Teman A lembut menenangkan, si B pandai berkata-kata, si C hidup seperti didalam pesta, selalu ceria dan tanpa beban- Sementara si D pandai mengatur dan mengarahkan. Jangan tanya mana yang lebih baik untuk menjadi teman anak kita, tapi tanya bagaimana anak kita bisa menjadi yang TERBAIK dalam apapun kondisinya .

Berangkat dari aneka warna kepribadian yang melingkari kehidupan pergaula anak kita, sangatlah diharapkan agar kita senantiasa membingkai/ membekali anak kita, dengan bingkai kepribadian yang Islami. Agar anak kita mampu menjalani hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik walau dihadapkan banyak kepribadian dengan segala tuntutannya.

Membekali seorang anak dengan kepribadian islami sangatlah penting agar ia tidak terombang-ambing dalam ganasnya samudera kehidupan . Kepribadian islami ditandai dengan adanya:
Pertama, salimul aqidah keyakinan kitat terhadap Allah sehingga terbentuklah akidah yang salim, yang selamat, yang lurus.
Kedua, shahibul ibadah, ibadah yang benar. Bila anak kita yakin ibadah sholat itu wajib, maka tentu anak kita akan mendrikan shalat dengan benar.
Ketiga adalah matiinul khuluk, akhlak yang bagus. “ Rasululllah pernah ditanya mana diantara para muslim yang paling imannya? Ternyata jawabannya adalah yang paling akhlaknya.”
Keempat mujahidun linafsihi, artinya semua urusanmu kerjakan dengan professional, dengan teratur, dengan rapi sebab Allah sendiri sangat mencintai seseorang manalkala orang itu bila mengerjakan sesuatu dengan tekun dan professional.

Insya Allah apabila kita sudah membingkai / membekali dari rumah dengan keempat kepribadian seperti tertulis diatas diharapkan anak kita akan mampu berinteraksi dengan lingkungannya.dengan baik. Mreka akan siap bergaul dan berkelana di dunia luar yag penuh tantangan.

Monday, April 11, 2011

Samsara Cita

Dalam perjalanan pulang sekolah hari Sabtu kemarin anakku bertanya : " Bunda, apa cita-cita bunda?"Aku tersentak kaget dan diam tak langsung menjawab pertanyaan anakku yang masih kelas 1 SD. Sampai malam pertanyaan dari anakku masih terngiang di otak dan pikiran saya. Cita-cita..Impian...Keinginan...Masihkah berhak untuk saya miliki...?

Setelah menikah... kemudian menjadi ibu, banyak perempuan termasuk saya yang akhirnya rela tak rela, melepaskan dan melupakan segala impian. Rutinitas rumah tangga sepertinya tak lagi menyisakan waktu dan tenaga untuk bermimpi..apalagi untuk memiliki cita-cita.

Kala itu saya berfikir cita-cita hanya patut untuk atau yang sedang menempuh pendidikan di sekolah saja. Seperti anak SD yang memliki cita-cita untuk menjadi dokter, insinyur, tentara, atau menjadi presiden. saya ingat, cita-cita saya sewaktu SD dulu, bercita-cita menjadi pramugari. Menjadi seorang wanita yang menememani sang pilot terbang berkeliling dunia dengan pesawatnya berkeliling dunia. Alangkah senangnya saya membayangkannya waktu itu. Tapi lain waktu kalo menyaksikan penyiar TV membacakan siaran berita di pesawat Telivisi tetangga, yang kala itu masih hitam putih, saya langsung ibercita-cita menjadi Penyiar TV, seperti Anita Rahman atau Toeti Adhitama, 2 orang penyiar TV ( TVRI) yang terkenal jaman kecil saya. Bahkan terkadang, ikut-ikutan dengan teman yang bercita-cita menjadi presiden.hahaha.... Mungkin dikarenakan saat itu, telivisi lebih sering menayangkan acara-acaranya bapak Presiden. Ada-ada saja..

Mimpi tinggalah mimpi, ketika akhirnya, saya memilih full menjadi ibu rumah tangga setelah menjadi istri. Mimpi yang tinggi atau cita-cita sepertinya tidak berhak lagi menjadi milik saya. Jangankan bercita-cita, sekedar untuk bermimpi-pun saya tak berani. Karena saya menyadari untuk merajut mimpi membutuhkan banyak hal faktor pendukungnya: Dana, tenaga, waktu, usia, dukungan full dari keluarga, dan lain-lainnya. Atau mungkin juga sebenarnya saya hanya berkelit, terlena dan enggan untuk meninggalkan 'zone' nyaman di dalam kehidupan berumah tangga yang sudah saya jalani bertahun-tahun. Diantaranya harus mau bersusah payah, mau berkorban, harus mau capek, harus ini, harus itu, menjadikan saya lebih memilih untuk menguburkan saja semua impian dan cita-cita saya.

Sampai kesadaran itu datang seiring hadirnya teman dan sahabat, yang memasuki kehidupan saya di 3 tahun belakangan, dan 'menggugah' saya dari tidur pajang saya. Seorang sahabat pena saya, seorang penulis dengan buku-bukunya yang 'best seller' (Jazimah Al-Muhyi) di salah suratnya mengatakan bahwa ; " menjadi ibu yang memilih total di rumah bukan berarti mematikan cita-cita. Menjadi ibu justru menantang kita untuk menggali sebanyak mungkin potensi yang telah ALLAH berikan. Menjadi ibu yang full mengasuh anak tidak menjadikan kepintaran kita hilang.Ya, Bagaimana mungkin seorang ibu terhambat pengembangan potensi dirinya jika dia memposisikan dirinya sebagai guru utama bagi anak-anaknya?"

"We are never too old to learn...", tidak pernah ada kata terlalu tua untuk belajar. "We are never too late to start...", tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Kalimat itu jua yang menyemangati saya untuk bangkit dan berani untuk bermimpi kembali. Hidup saya yang merasa tertatih dan tersendat, bergerak pelan atau bahkan mogok dan salah arah, itu adalah realitas yang harus saya sadari dan diterima adanya. Usaha dan proses yang tidak pernah mengenal kata berhenti. Perjalanan untuk menjadi lebih mengerti , lebih paham, lebih baik tidak pernah mengenal kata terlambat. Saya harus me'najam'kan hati bahwa saya sampai usia berapapun, tidak boleh berhenti belajar, tidak boleh berhenti bermimpi dan tetap harus memiliki cita-cita.

Kini saya tak 'diam' kalo anak-anak menceritakan impian dan cita-citanya, sayapun dengan penuh semangat mengatakan cita-cita dan impian saya. Yang tentu saja bukan lagi ingin menjadi pramugari, insinyur, penyiar TV, dokter,presiden, dan lain-lainnya. Islam mengajarkan saya untuk meraih cita-cita terbesar saya yaitu Surga, seperti yang digambarkan dalam busyro (kabar gembira) yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Untuk menggapainya saya punya mimpi-mimpi harian atau mimpi kecil saya yang mesti saya kejar hari demi hari sejalan dengan hidup saya. Sayapun harus berjuang keras seperti anak-anak saya . Tidak boleh kalah dengan mereka. Mimpi, cita-cita, keinginan adalah 'daya hidup', yang membuat saya bergerak, berbuat dan berjuang untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita saya. Buat saya, mimpi itu harus setiap hari, bahkan dalam setiap tarikan nafas..... Bagaimana dengan sahabat.....?


Salam,
Selamat mewujudkan Impian. Semoga Hari esok kita lebih baik dari hari ini.
" Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH dan hendaklah setiap diri memperhatikanapa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); Dan bertaqwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan " . (59 ; 18). Wallahu'alam.
Dit
Buku bagian dari hari-hariku

Thursday, April 7, 2011

Sarapan penuh gizi Pagi ini...(copas dari Riawani Elyta)

Kugoreskan ini buat kalian ....
teman-temanku yang sampai hari ini masih dan terus giat mengutak-atik kibor laptop dihadapanmu, mengkoordinasikan kerja otak dan kreativitasmu demi memunculkan baris demi baris kata di monitormu, pliz, tanpa ragu apalagi sungkan kuucap permohonan ini padamu, goreskanlah kata-kata itu dengan sepenuh hati dan perasaanmu, bagilah selarik kebaikan yang kau ketahui dan ingin kau bagi, sentuh hati kami, pembacamu dengan ketulusan yg akan tercermin dari bait kata yang kau goreskan. Setiap kata yang kau gores dengan ketulusan menyimpan kekuatan yang mungkin tak kau sadari sampai seseorang diluar sana sesenggukan atau merasakan ada yang menggejolak di rongga dada saat melahap dan melumat apa yang kau goreskan dengan sepenuh hatimu itu.

Sungguh, kurindukan semua itu. Kerinduan yang jarang sekali terlerai, akan air mata yang mengalir saat goresanmu mampu menyentuh qalbuku, bukan semata air mata kesedihan tapi air mata keinsyafan akan nilai kebaikan yang kau hadirkan. Semangat yang tertanam saat kata demi kata yang kau bagi menghunjam dalam benakku pun kesadaranku. Kesejukan yang perlahan mengaliri relung kalbu saat dengan lembut kau guyurkan kebaikan itu lewat goresanmu yang halus dan bermakna.

Teruslah menulis, wahai teman-temanku. Iringi goresanmu dengan ketulusan dan semangat untuk mengajak kami pada kebaikan. Libatkan perasaanmu seutuhnya dalam karya yang kau torehkan. Dan kau pun akan ikut menitikkan air mata saat kami, para pembacamu melakukan itu tanpa paksaan. Menggelora semangat kami untuk menjadi lebih baik tanpa harus kau kerahkan dengan kekerasan apalagi todongan senjata, melainkan lewat goresan kata-kata yang dahsyat dalam ketulusan niat juga makna.

Aku yakin, kau mampu melakukannya.
Keep fighting, friend,
inspire us with pure sincere n your best wish.
Surely you can!

Sunday, April 3, 2011

Surat Terbuka untuk Leutika

Kepada Leutika Publisher
di
Bumi Allah

Malam ini biarkan aku mengenangmu. Sebuah kenangan manis saat pertama kali aku mengenalmu. Saat seorang sahabat di jejaring sosial facebook mengenalkan namamu secara tidak sengaja. Malam itu tanggal 11 April satu tahun yang lalu. Seorang sahabat facebook bernama Jazimah Al-Muhyi men-tag dalam sebuah catatan yang diikutkan dalam sebuah lomba menulis. Aku baca dengan seksama lomba yang diadakan oleh sebuah penerbit buku yang berwilayah di Yogyakarta yang bernama Leutika. Lomba diadakan dalam rangka memperingati hari kelahiranmu yang pertama. Tema lomba adalah “Ucap Tulusku Untuk Leutika”. Sementara jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 10 malam yang berarti hanya tersisa waktu dua jam sebelum deadline.

Cinta pada pandangan pertama terjadi antara hatiku dan hatimu. Hingga membuatku tergerak untuk mengikuti lomba menulis. Detik itu juga aku mencoba menulis. Sebuah ungkapan dan harapanku di hari ulang tahunmu yang pertama. Aku berhasil menyelesaikan tulisan dan langsung aku kirim di detik terakhir penutupan lomba. Namun sayang karena kita belum terhubung, aku tak berhasil masuk ke beranda rumahmu. Aku hanya bisa melewati rumahmu, menatapmu dari kejauhan. Hiks, sedih hati ini.

Dan baru esok harinya, kamu membalas jalinan pertemanan dariku. Hilang rasa sedihku dan berganti rasa bahagia. Ya, meski aku gagal mengikuti lomba yang berakhir semalam, namun sungguh mengenalmu menjadi hal terindah dalam hidupku. Karena kamulah penerbit buku pertama yang kukenal dalam perjalananku mengenal dunia baru penuh kata. Dunia kepenulisan yang baru aku jelajahi dalam beberapa bulan sebelumnya.

Leutika namamu. Sebuah nama yang cantik, unik tapi sangat menarik. Slogan yang kubaca ketika aku mengintip profilemu adalah BUKAN PENERBIT BIASA; Read.write.Inspire. Kamu ingin menyalakan obor di hati setiap orang, untuk gemar membaca, menulis dan mengispirasi. Kamu berusaha menyalakan api semangat, terutama bagi pemula sepertiku, yang ingin memberi warna dalam kehidupan.

Dan nyata adanya. Semakin mengenalmu, aku merasa semakin mencintamu, semakin mencintai pula dunia baca dan tulis. Betapa tidak? Beriringan berjalan bersamamu, engkau selalu hadir untuk memberi kejutan-kejutan indah. Dalam hati, aku berdecak kagum dengan semangat kreativitasmu yang membara. Berbagai ajang lomba yang kamu tawarkan, berbagai pelayanan yang kamu berikan, ‘nyata’ sangat memanjakan. - Layanan serta kemudahan yang kamu tawarkan membuat impian kami, menjadi nyata.

Leutika sayang
Usia menapak angka dua di bulan April ini. Namun, mengamati perjalananmu sepertinya kau layak mendapatkan acungan dua jempol. Selalu memberikan sarana kepada para leutikans untuk berkarya dan terus berkarya. Kau selalu menggelindingkan virus membaca dan menulis,untuk leutikans khususnya dan masyarakat pada umumnya. Menulis itu biasa, bagus tulisannya juga biasa tapi menjadi luar biasa adalah biasa menulis. Dan aku ingin menjadi ‘luar biasa’ karena biasa menulis. Dan itu karenamu, bersamamu aku akan membiasakan menulis.

Aku ingin berkarya lewat dunia kata, aku ingin memberi banyak manfaat kepada orang lain. Dan aku yakin aku akan mendapatkan semua yang kuimpikan. Bersamamu dan bersama mimpi-mimpi akan bermekaran satu demi satu.

Leutika sayang,
Aku selalu berdoa agar usahamu untuk menjadi penerbit yang leutik/ 'cantik' akan terwujud. Leutik di hati 'leutikans', baik yang baru menapak di dunia kepenulisan maupun yang sudah 'ahli'nya. Yang pasti di hati semua sahabat yang baru mengenal dunia kepenulisan.

Di penghujung kata aku ungkapkan adalah indah menjadi temanmu. Karena berjalan disisimu menjadi ‘daya hidup’ dan sumber energi yang membuatku selalu bergerak dan berjalan maju terus ke depan. Meskipun aku yang sekarang, belum sehebat orang lain, namun aku bangga bahwa aku yang sekarang adalah aku yang lebih baik dari aku sebelumnya. Karena aku telah menempuh prosesnya bersamamu, Leutika.

Terima kasih Leutika, kamu begitu pas di hatiku. Harapanku di ulang tahunmu yang kedua ini, kamu akan terus menerangi dunia kepenulisan tanah air.

Selamat Ulang Tahun Leutika
Semakin Jaya
Semakin Gemilang
Terangi terus Dunia Baca Tulis Indonesia




Bumiayu,4 April 2011,
Sebuah Kado Ulang Tahun untuk Leutika

Anakku Ngidam Masjid

Anakku Ngidam Masjid

Oleh: Anita Triana

Pengalaman manis bercampur agak-agak pahit, akhirnya saya rasakan juga. Ngidam. Sebuah rasa yang biasa dialami seorang wanita pada trimester pertama kehamilannya. Ngidam seperti menyelami dunia ghaib. Ada, tapi tak terlihat. Terlihat, tapi tak tersentuh. Tersentuh, tapi tak terasa.Sehingga, mereka yang mengalami bisa melihat, menyentuh, dan merasakan sesuatu yang benar-benar baru. Dianggap sepele, tetapi ternyata sulit dicerna karena tidak begitu masuk akal, tidak realistis dan terkesan dibuat-buat.

Begitulah akhirnya saya mengalami juga hebohnya wanita ngidam, meskipun bukan saya yang hamil dan bukan pula saya yang ngidam. Lho, kok bisa? Andai, saya ngan hamil kemudian dibarengi ngidam mungkin hal tersebut dianggap wajar. Ini tidak, perempuan yang mengandung, tapi saya yang ketiban jatah repotnya . Ya, ini terjadi saat adik ipar hamil anak pertama(sekarang usia ponakan ; Nizam Arcshavvin 22 bulan). Adik ipar saya tidak merasakan ngidam, tidak pula suaminya tetapi yang ngidam justru anak bungsu saya, Aufa (saat itu usia Aufa 5 tahun ). Faktor kedekatan emosikah yang menyebabkan itu semua? Wallahu A’lam.

Ngidam yang dialami anak saya benar-benar sesuatu yang sangat 'nggreget’ di hati. Saya memang pernah mendengar cerita-cerita soal ngidam. Baca buku tentang tema itu juga sudah beberapa kali. Tapi, kenyataan benar-benar jauh dari yang pernah didengar dan dibaca. Ya, bersamaan perut adik ipar yang mulai membuncit, ada perasaan baru dalam emosi Aufa, anak saya. Ia lebih sensitive, suka marah, gampang nangis dan sedikit lebih manja. Dalam hal makanan, mendadak ia menyukai sate ayam padahal sebelumnya ia tidak suka. Sejak itu setiap sore sate ayam beserta ketupat harus tersedia untuk makan malamnya. Jika tidak ada ia menangis sejadinya.. Ini berlangsung sepanjang kehamilan adik ipar.

Keanehannya lainnya dalam hal ibadah . Sebenarnya ini sangat baik dan patut saya syukuri, karena itu adalah sesuatu yang baik. Kehamilan adik ipar saya diikuti kecenderungan Aufa yang sangat kuat untuk selalu berjamaah di masjid. Khususnya dua waktu sholat yakni sholat maghrib dan isya. Kalau kecenderungan ini, tidak dipenuhi ia akan menangis hingga sulit menghentikan tangisnya. Tidak perduli dia sedang sakit, gerimis, hujan, listrik padam , bahkan kondisi masjid yang waktu itu baru tahap renovasi dan disana-sini berserakan bahan bangunan, tidak mampu menghalangi Aufa untuk berjamaah di masjid.

Pernah pada suatu hari, saat sedang bertandang di rumah saudara yang ada di lain desa, jelang waktu maghrib Aufa heboh harus pulang. Hari lainnya, saat anakku sakit sedang periksa di ruang dokter, ia memaksa pulang ketika sayup-sayup azan mahgrib berkumandang. Mengapa harus pulang? Aufa tidak mau berjamaah selain di masjid biasa ia sholat. Akhirnya suami yang menunggu obat, kami pulang dengan langkah cepat agar bisa mengejar berjamaah maghrib di masjid.

Atau pada suatu hari, saat alam kurang bersahabat, hujan yang sejak siang mengguyur daerahku dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Bahkan semakin deras disertai kilat yang saling menyambar. Angin kencang yang menerpa pepohonan di sekitar rumah seperti desahan marah Sang Maha Penentu Taqdir.

Masuk waktu sholat isya, hujan bertambah deras. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul 06.40 , bertanda waktu isya sebentar lagi. Artinya waktu untuk berjamaah sholat isya. anakku sedang sakit. Badannya panas, suhunta mencapai 38 derajat. Namun begitu melirik jam dinding ia langsung bersiap-siap untuk sholat. Tas mukenah ia dekap erat di dadanya.

“ Bunda..sebentar lagi isya, …” Tatap matanya sudah mengajak. “Iya, sayang..tapi kamu sedang sakit, bagaimana kalau kita jamaah di rumah?” Jawab saya sambil memeluknya. Aufa tak mendengar penjelasan ibunya, ia ambil tas berisi mukenah dan didekapnya dalam dadanya.
“Di luar masih hujan..,anginnya besar, kali ini kita sholat di rumah ya…” sekali lagi saya mencoba mencari dalih.
Anak perempuan 5 tahunku hanya terdiam. Mulutnya mungilnya mengerut.
Ya, Allah..kesal dan marah saya rasakan. Lelah meminta pengertiannya agar ia bersedia sholat di rumah. Khawatir tangisnya semakin membuncah akhirnya kami berangkat juga ke masjid .
Tadinya saya sempat berharap listrik padam bisa dijadikan alasan untuk solat di rumah. Namun ternyata tidak, meski saat itu alam tidak akur, anakku tidak mundur satu langkahpun. Kami menerobos hujan., “Ya Allah, kuatkan hati kami”. Doaku dalam hati. Saya terus peluk anakku untuk mengurangi udara dingin yang masuk ke dalam tubuh mungilnya.

Setelah berjuang menembus hujan, malam itu kami berhasil berjamaah di rumah Allah. Di atas sajadah, dalam sujud panjangku saya lantunkan doa terindahku
“Ya, Allah ya Rabb.
Inikah nikmat-Mu yang bernama ‘ngidam? Semoga kelak, Engkau menjadikan anak-anakku, mujahid/ mujahidah sejati, yang selalu cinta dan selalu ada rasa rindu yang paling dalam dihati mereka, untuk mencintai Rumah-Mu, Amin.