Baca juga yang ini

Alhamdulillah...satu tahap perjuangan telah dilalui...

Rasulullah bersabda :"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fi sabilillah hingga ia kembali.(HR.Muslim) Jum'at...

Friday, December 23, 2011

Lelaki Pilihan Mama


Lelaki Pilihan Mama ada di buku Kepentok Jodoh dengan judul
Sepenggal Cintaku

Kalau saja mama tak memaksaku pulang, mungkin aku tak akan pulang sebelum meraih gelar sarjana. Tapi, hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari pembicaraanku dengan mama di suatu siang jelang sore. Saat makan siang di waktu yang telah terlewat. Kami bercerita banyak hal. Hingga tak terasa semburat jingga di ujung senja menyambut hadirnya sang malam. Akhir curahan hati mama berakhir tentang kondisi perekonomian keluarga yang sedang terpuruk. Usaha mama mengalami kebangkrutan .

Mama tersangkut hutang yang banyak kepada beberapa rentenir di kota kami. Semua harta peninggalan almarhum ayah ludes. Bahkan rumah yang kami tempati, satu-satunya harta yang tersisa harus rela kami lepaskan. Dengan uang yang tersisa mama mengontrak rumah mewah alias rumah mepet sawah. Sebuah rumah mungil yang amat , sangat sederhana.

Di sinilah satu periode cerita kehidupanku bermula. Ketika mama memintaku untuk menerima lelaki pilihannya untuk menjadi pasangan hidupku. Ini mama lakukan karena mama harus membalas budi atas kebaikan keluarganya, yang telah banyak membantu mama dalam hal keuangan.

“Rangga namanya, ia anak Juragan Beras Haji Syarif ”
Urai mama sambil menunjukkan sebuah foto.
Aku menatap mama, tanpa sekilaspun mataku mengarah ke gambar yang ditunjukkan mama.
“ mah…kuliahku belum selesai, aku …”, ingin membantahnya tapi sulit mengungkapkan kata yang tepat untuk menolaknya.
“Tapi Ma, aku belum ingin menikah”.
“Jangan membantah, mama hanya ingin yang terbaik untukmu”.

Aku menghela nafas panjang dengan kesat. Titah mama seperti pagar duri yang akan menghalangi langkahku. Kemauan mama tidak akan dapat dipatahkan oleh siapapun.

“Bersiaplah.., pekan depan keluarga Haji Syarif akan datang melamar”, kata mama lebih lanjut. Aku terdiam. Membisu. Mencari kebenaran dari mata mama. Tapi yang kudapat hanya sorot mata mama yang sejuk, seteduh Syurga yang Allah janjikan pada setiap anak yang berbakti pada seorang Ibu. Selanjutnya mama mengurai cerita, bahwa selama satu tahun terakhir uang yang dikirim untuk biaya kuliahku adalah hasil pinjaman dari orangtua Rangga.

“Ah, inikah yang menyebabkan mama tak kuasa menolak lamaran Rangga?”. Batinku.

Karena sepeninggal ayah, mama adalah pejuang tertangguhku. Mama bekerja keras demi sesuap nasi, dan biaya untuk kuliahku. Aku tak kuasa membantahnya, aku takut menorehkan luka di hati mama.

“ mama yakin, Rangga pemuda yang baik. Sekarang ia tinggal di Jogja, ia seorang guru di sebuah sekolah lanjutan”.
“Dan yang pasti… Rangga sudah memiliki nomor induk pegawai. Ia memiliki masa depan yang sangat cerah, dengan dana pensiun yang sudah mutlak akan ia miliki” mama terus berkhayal akan calon mantunya.

“Oya, setelah menikah, kau bisa tetap kuliah, meraih gelar sarjanamu..”, lanjut mama dengan mata binar.
“ Mama yakin, kalian berjodoh, kalian akan bahagia “.

Aku menyerah. Takut Takut menjadi Malin Kundang tiba-tiba bila terus saja melawan perkataan mama. Meski hati masih limbung, kuterima kenyataan ini.
“Aku ingin membahagiakan mama”, aku coba berdamai dengan hatiku yang bergemuruh dengan riak-riak egoku yang menentang.

“Ya bersegeralah menikah, cinta diawal sebelum pernikahan tidaklah mutlak, jika kita memang mencintai karena Allah, tentulah Allah akan memberikan nikmat itu”.

Aku baca berulang nasihat seorang sahabat lewat sms. Aku menceritakan semua yang terjadi. Bahwa aku akan menikah tanpa cinta.

Cinta .
Satu kata yang tidak pernah habis diperbincangkan, satu kata yang tak terdefinisikan. Cinta bisa hadir kepada siapa saja dan di mana saja. Seperti cinta yang pernah menghampiriku, dan sempat kujatuhkan pada seseorang tanpa ia ketahui.
Cinta itu hadir, memporak porankan hati.
Cinta yang menyelinap di sudut hatiku secara diam-diam, dan secara diam-diam pula ‘berakhir’ di ujung senja, hari itu.
----------------------------------
Siang jelang sore, saat angin sepoi mengibaskan daun cemara dihalaman fakultas Ekonomi. Jarum jam menunjukkan angka dua lebih sedikit. Kampusku mulai sepi dari iring-iringan mahasiswa yang biasanya berjalan bergerombol untuk datang dan pulang kuliah. Lama kutunggu, ia belum nongol juga. Sampai matahari dibelahan barat makin menurun, hingga tempias sinarnya kian menerpa bumi.

Tak sadar bibirku berkali-kali menyuarakan namanya. Ardian. Benarkah kau hanya menganggapku hanya sebagai teman…
Entahlah. Aku mengenal Ardian secara tidak sengaja. Ia mahasiswa semester tujuh di Fakultas Sospol, jurusan Administrasi Pemerintahan. Kampus Ardian bersebelahan dengan kampusku. Aku sering meredam melodi keroncong di perutku dengan menyinggahi kantin yang ada di belakang fakultasnya. Aku sering melihat Ardian sedang melakukan hal yang sama. Karena seringnya kami berpapasan, memaksa kami untuk saling melempar senyum, saling sapa dan…

Makan siang di kampus menjadi jadwal tersendiri untuk bertemu. Terjalinlah persahabatan. Dan terasa ada yang kurang, bila sehari saja aku tak melihatnya. Sesungguhnya penampilan Ardian biasa-biasa saja. Wajah bersahaja, namun kuakui sangat menarik dengan selarik senyuman. Langka, itulah.- lelaki yang memiliki pijar mata secerah bintang, dengan kulitnya yang cenderung hitam. Ah, hitam legam kulitnya yang mermbuatku terpikat. Tapi memang selama ini aku lebih sering memanggilnya dengan ‘, Si Hitam manis..”, seperti lagu jadulnya Bung Eddy Silitonga.

“hitam manis….hitam manis
O..hitam manis…
Pandang tak jemu, pandang tak jemu…”

Sejak mengenalnya hidupku lebih berwarna, lebih segar, ringan dan begitu indah bila bersamanya. Ya, diam-diam aku jatuh cinta padanya.
Jatuh cinta berjuta rasanya, masih kata bung Eddy Silitonga.
Kangen, rindu, senang, bahagia, benci, takut dan sebagainya. Karena rasa cinta tersebut, aku menjadi takut kehilangan Ardian. Ketakutan tersebut mendorongku untuk menutup rahasia tentang keluargaku, tentang ayahku.Aku takut, Ardian tidak sudi lagi berteman denganku setelah mengetahui segalanya. Aku tidak ingin itu terjadi.

“aku bahagia menjadi sahabatmu, aku takut kehilanganmu.,” kataku setelah Ardian duduk tepat di depanku.
Ia, tercenung seolah aneh melihatku bicara serius.
Ada apa, kok tiba-tiba kamu berkata seperti itu.”

Itulah, , aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku ingin mengungkapkan semuanya. Sebelum terlambat..Sebelum rasa cintaku menggunung pada Ardian. Kataku di batin.
Sungguh… aku takut sekali . Tapi aku harus mengatakan sekarang, sebelum rasa cinta yang ada di dalam dada bergejolak dan akhirnya meletus bagai erupsi awan panas merapi yang meluncur tak tertahan..
“Ardi..aku mencintaimu”, lirih suaraku karena malu. Tapi aku yakin Ardian jelas mendengarnya.
“aku juga menyayangimu”, tidak diduga dan tidak disangka secepat itu Ardian membalas.
Aku mencintai dan menyayangimu bukan sebagai sahabat..kataku hampir menjerit. Tak kuperdulikan beberapa mahasiswa yang menengok kearah kami duduk.

Tapi Ardian menatap mataku dengan tajam, seolah ingin mengokohkan jawabannya.
..
“Aku juga cinta dan sayang, seperti cintanya perempuan pada laki-laki..”
Deg.! Jawaban yang kuinginkan, tapi justru membuatku menjadi lebih takut.
Aku takut Ardian merubah rasanya, setelah mengetahui apa yang akan aku katakan nanti. Aku merasa ada yang tercekat di sudut tenggorokanku. Ada getaran yang tak kuasa kuhindari. Mataku terasa basah, lalu bulir-bulir bening menetes dipipiku.

Aku menggeleng. Aku harus mengatakan sebelum terlambat. Tapi rasanya aku tak kuat lagi. Begitu berat rasanya. Karena bagaimanapun apa yang akan kukatakan dapat tumbuh menjadi virus membahayakan . Vonis ganas yang mengancam hubungan kami.

Perhatian Ardian selama ini, begitu berarti. Membuatku semangat menjalani hidup.
Tapi, bukankah hubungan antara laki-laki dan pertempuan dalam Islam dilarang? Tidak ada pacaran sebelum menikah.

“Tidak…!!, setelah lama kami saling berdiam diri.
Aku harus mengatakan pada Ardian.
Aku menarik nafas, mencari kekuatan, agar mampu meneruskan pembicaraan yang kurasa ssangat perih.

“Ardi…aku ingin mengatakan rahasia yang selama ini kututupi, kalau aku..aku adalah anak seorang tahanan politik. Aku keturunan PKI (Partai Komunis Indonesia), aku…. dan seterusnya dengan lancar dan detail aku menceritakan apa adanya diriku. Tak ada secuil sejarah dariku yang ku coba kututupi lagi.

Ardian hanya melongo, tapi matanya kulihat ada sedikit mendung. Aku yakin Ardian terkaget-kaget dengan kenyataan ini.
Tapi perasaanku menjadi lega. Sebelum hubungan kita dilaknat Allah, memang sebaiknya berpisah. Dan aku bersyukur, bisa menemukan satu alasan kuat untuk itu.

“Kau tahu Ardi, terlalu riskan bagimu bila harus mempertahankan hubungan kita.
Keluargamu…terutama Ayahmu…Ayahmu tentara, seorang perwira pasti tidak akan rela anaknya berhubungan dengan anak mantan PKI. Akupun tidak yakin, apakah gelar sarjanaku nanti masih berguna untuk mencari pekerjaan atau tidak. Orang akan menanyakan latar belakang keluargaku, seperti juga keluargamu akan sulirt bila kau nekad tetap memilihku.”

Masa laluku kelam, masa depanku hitam..masa lalu abadi, terpatri dan tak mungkin beranjak sedikitpun dari kegelapan, kataku putus asa. Serasa gunung merapi yang telah memuntahkan lahar panas di setai awan panas, hatiku menjadi plong telah mengatakan jati diriku yang sesungguhnya. Aku tak yakin, setelah ini apakah Ardian masih mau melanjutkan perstemanan ataukah tidak.

Tergesa kami menurui anak tangga sore itu di Gedung Pusat kampus biru. Kampus di mana kami sama-sama menuntut ilmu. Kami berjalan, menyusuri Boulevard, menikmati desir cemara dan mekar bunga jingga, yang entah apa namanya.

“ Pake jaketku…” tiba-tiba Ardian memecah kesunyian, ‘Agar kulitmu tidak menjadi gelap kayak kulitku”. Canda yang biasanya membuatku tergelak, tapi kali ini tidak.
Aku diam. Sunyi. Sepi. Hanya suara sepeda motor mahasiswa atau mobil dosen yang sesekali berlalu. Warna lembayung senja mulai kentara, yang biasanya terlihat indah kini membuat hatiku kelabu. Bunga jingga yang sengaja kau petik kemudian kau berikan padaku, aku selipkan di saku jaketku. Bunga jingga yang aku tahu, akan menjadi bunga terakhir dari Ardian..

Kami terus berjalan dan mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Karena sejak saat itu, kami tak pernah lagi betemu. Ardian menghilang entah kemana, seolah ditelan bumi. Cintaku yang bersemi di taman kampus biru, cantik, indah tapi aku bersyukur berhasil menerabasnya, membersihkan dari hatiku. Walau butuh waktu bertahun- bertahun lamanya.
__________________________
Dua bulan setelah keluarga Rangga melamarku, kamipun menikah. Menikah dengan jodoh yang dipilihkan mama. Menjadi Istri Rangga adalah keinginan mama. Namun demikian aku akui, Rangga adalah lelaki yang baik, dewasa dan bersahaja. Berkat bimbingan Ardian aku dapat menyelesaikan gelar sarjanaku dengan baik. Aku bangga dapat meraih gelar sarjanaku disela kesibukanku menjadi isri bagi suamiku dan ibu dari kedua anakku.

Sekarang aku telah menjadi perempuan matang. Selama belasan tahun menikah kami selalu bersama. Rangga adalah suami idaman. Dia menikmati perannya sebagai suami yang sabar dan romantis. Tidak jarang aku dibuat salah tingkah dengan kebiasaan suamiku yang memberikan bunga, menggenggam jemari di depan banyak orang, bahkan sering mencium di keningku. Tak perduli di depan anak-anak.

Bahkan kata mas Rangga, pasangan suami isteri sebaiknya memperlihatkan kemesraan di depan anak-anak, sebagai tanda kebahagian dan keharmonisan orangtuanya. Padahal selama ini, banyak dari kita yang lebih sering mempertontonkan pertengkaran dibanding keharmonisan. Tidak baik bagi perkembangan mental dan emosi anak-anak.

Satu lagi kelebihan mas Rangga Ia mampu menjadi favorit bagi anak-anak. Sampai sekarang aku mengagumi kemapuan mas Rangga bergaul dengan anak-anak, juga komitmen mas Rangga untuk tidak melewatkan pertanyaan anak-anak, atau membiarkannya tanpa jawaban.

Kata mas Rangga; “kalau mereka bertanya, itu berarti sedikitnya mereka percaya pada orang tuanya.” Mengingat itu semua, aku sering mendapatkan hati nurani berbisik, mengajakku berdamai dengan perasaanku : “balaslah cintanya…atau kau akan menerima kebencian para malaikat pada istri yang durhaka pada suaminya?”

Naudzubillahi min dzalik…Namun untuk membalas cinta Rangga, suami hasil perjodohan. Bagaimana bisa. Sedang aku masih belum bisa mengikis karat cinta Ardian di hati? Sejujurnya, aku belum bisa menghapus bersih nama Ardian di sudut hatiku. Cintaku padanya terlalu dalam, karena ia cinta pertamaku. Tapi , aku selalu diganggu rasa bersalah bila selamanya aku acuhkan cinta Rangga . Sanggupkah aku terus membisu, menghadapi semua gurauan, rayuan bahkan perlakuan manis suamiku? Aku luluh. Maka sebisa mungkin aku membalas cinta Rangga. Meski perih dan degup jantung yang selalu berdenyut untuk satu nama yakni Ardian. Lelaki yang lebih dulu memenangkan hatiku. Tapi aku harus melenyapkannya dari hatiku.

Subhanallah…setelah perlahan aku mampu menghapus nama Ardian dari lembaran kehidupanku, banyak hal luar biasa yang di syukuri karena perjodohan ini. Sulit melukiskan kebahagiaanku, ketika perlahan mas Rangga suami yang dipilihkan mama, mampu menumbuhkan tunas-tunas cinta dihati. Bayangan suami yang aku inginkan ada padanya. Aku bersyukur karenanya.

Tuesday, December 20, 2011

Untuk Anakku: Di milad ke 17

"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah…”(Q.S-Alaq)

Anakku tercinta...
Segumpal darah itu mula dirimu, Nak...
Lalu 9 bulan penuh bertapa dalam gua teduh bunda..
bernama rahim yang sangat kuat...
Yang melindungimu dari berjuta ancaman ..

Detak jantung bunda adalah detak jantungmu..
Darahmu mengalir senada aliran darah bunda...
Kau tumbuh dan terus tumbuh karena sari pati makanan bunda..
Yang menjadikanmu kuat...dan kuat...
Untuk kemudian meluncur perkasa dari lautan kawah bunda...
Di hari yang telah tertulis di suratan taqdirmu...



Subhanallah...Alhamdulillah..Allahu Akbar...
Karunia-Mu Ya Allah..sungguh tak ternilai untuk hamba...
Mampu menjadi sumber dari segala sumber Kekuatan...
Saat hati sedang lemah dan linglung mencari pegangan...
Mampu menjadi sumber dari semua keceriaan...
Saat hati diam-diam menangis...

Saat ujian demi ujian dari-Mu mengguncang jiwa..
Saat sayap terkoyak karena angin badai..
Saat ombak-ombak samudera menggoncang...
Biduk Perahu layar kehidupan..
Saat nahkoda sedang tak pasti dengan arah kompas di tengah samudera..
Saat itulah, anakku menjadi arah cahaya mata..
Malaikat kecil peyejuk hati....

(untuk anak-anakku yang sekarang tidak kecil lagi : 17 tahun usiamu...
Q.S Asy Syu'raa (26) : 84) : " Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang yang-orang yang datang kemudian..". ). Putriku sayang : " Jadikan dirimu menjadi buah tutur yang baik untuk orang-orang yang ada di sekelilingmu ". Dan Ingatlah ! Di usiamu...yang sudah tidak kecil lagi, Allah akan mengganjar, semua amal dan perbuatanmu, untuk kelak dipertanggungjawabkan....Doa bunda senantiasa menyertaimu..."

MENGHARGAI 'KARYA'

Copas dari Miftachul Huda
Terlepas dari baik atau buruknya, saya selalu menghargai sebuah karya (khususnya buku). Bahkan saya kerap mengutip kalimat bijak berikut ini, “seburuk-buruk gagasan dalam tulisan, masih lebih baik daripada sebaik-baik pendapat tapi tidak ditulis.” Sebab, setiap buku bermakna silent revolution.

Seburuk apapun sebuah buku, masih lebih baik dibandingkan kita ngomong ngalor ngidul dimana orang akan lupa satu jam kemudian. Lain halnya jika kita menulis. Apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, masih lekat dalam ikatan. Jikapun terlupa, siapa saja bisa membuka buku/tulisan tentangnya.

Tak jauh berbeda dengan buku yang kita bicarakan ini. Kita wajib memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap sebuah buku. Mengapa perlu menghargai? Sebab, tidak jarang diantara kita justru tidak menghargai sebuah buku.

Banyak sikap yang bisa disebut tidak menghargai itu. Ada yang tidak mau membaca, mencibir dan mencemooh isinya, dan ada juga yang tidak mau membeli dan justru meminta gratis kepada penulisnya. Untuk yang terakhir ini saya kerap mengalaminya.

“Wah, selamat ya. Bukunya dah terbit. Paketin satu ya buat saya. Tapi gratisan ya, hehehe…,” pinta seorang teman ketika salah satu bukuku terbit.

Sembari bercanda, saya pun menjawabnya. “Oh ya, boleh saja. Tapi kalau mau gratis, pakai surat keterangan miskin dari RT/RW setempat. Nanti saya kasih berapapun mintanya.”

“Hahaha……,” Dia tertawa. Bagaimana mungkin membuat surat keterangan miskin, wong Dia dosen.
Saya hanya ingin mengatakan, menghargai sebuah karya adalah membeli dan membacanya. Bukan persoalan uang. Tapi sikap yang mau membeli buku – sekalipun penulisnya adalah temannya sendiri – jauh lebih berharga dari sekedar uang yang mungkin jumlahnya tidak seberapa. Semoga kita semua bisa melakukan ini.

Datar
Ketika menerima buku ini, saya langsung membacanya secara cepat. Dulu saya sering menjadi resensor. Membuat resensi sebuah buku dan dimuat di koran atau majalah. Dalam membaca, kita tidak selalu membacanya kata per kata hingga selesai. Kalau buku hingga ratusan halaman, bisa ‘kejang’ mata nantinya, hehe…. Maka, walaupun belum sepenuhnya membaca kata per kata dalam buku ini, saya sudah bisa memberikan penilaian.

Mengkaji buku, tidak perlu membaca seluruhnya. Kita hanya perlu membacanya secara cepat. Ini tips saya. Sebab, otak manusia ternyata dianugerahi kemampuan yang hebat dalam membaca. Coba simak teks di bawah ini:

Kemauan mbecmaa cpeat trkeiat eart dngean kmaemuapn mngelnaei ktaa. Mnuasia mngenelai breabgai ktaa lweat bkuu dan tlisaun ynag dbiacaayn. Ktaa-ktaa tbuesret dsimiapn dlaam mmorei oatk dan aakn dinalkei lbeih cpeat ktikea dtemuikan kmblaei pdaa baahn baacan ynag brau.
Libeh habet lgai tnyatera uturan ktaa tdiak tlaleru ptineng aslaakn psoisi hruuf preatma dan trekahir tdiak bruebah. Adna hnaya ckuup mngelnaei hruuf preatma dan trekahir tdai kmeduian dnegan kmemapaun laur baisa aakn mngeanilnya sbegaai sbeauh ktaa spereti ynag Adna bcaa skeranag. Ini mneuurt rsiet ynag prenah dlikaukan Uinvertisas Cmabrigde, Ingrigs.

Saya tak perlu menjelaskan secara panjang lebar bahwa ini bisa dijadikan sebagai tips membaca cepat. Anda bisa menyimpulkan sendiri.

Setelah membaca cepat, kesan saya, walaupun kita wajib memberi penghargaan sebagaimana saya tulis di atas, buku ini datar-datar saja. Namun, ini saya pahami setelah saya membaca pengantar. Saya tidak tahu apa-apa mengenai buku ini, tapi setelah membaca pengatar saya kemudian mengetahui sedikit tentang proses lahirnya buku ini. Buku ini ternyata ditulis dalam waktu kurang dari 24 jam.

Waktu yang tidak panjang. Walaupun sebenarnya juga lebih dari cukup jika ditulis dengan serius dan sungguh-sungguh. Dalam pengalaman-pengalaman saya menulis buku, waktu menulis yang dibutuhkan bermacam-macam. Ada yang hanya dalam hitungan mingguan, bulanan bahkan tahunan. Ketika menyusun buku berjudul Meraih Sukses dengan Menjadi Aktivis Kampus (Leutika, 2009), saya menyelesaikannya dalam waktu 2 minggu. Persis 2 minggu.

Lain lagi, ketika menulis dua (2) buku saya yang terakhir, Corporate Social Responsibility Kunci Meraih Kemuliaan Bisnis (Samudra Biru, 2011); dan Self Publishing: Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri (Samudra Biru, 2010) saya butuh waktu sekitar tiga (3) bulanan. Saya tulis setahap demi setahap. Bahkan yang lebih melelahkan lagi, ketika menulis dua buku saya yang pertama, Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial Sebuah Pengantar (Pustaka Pelajar, 2009); dan Ikhwanul Muhammadiysi Benturan Ideologi dan Kaderisasi dalam Muhammadiyah (SM, 2007) saya membutuhkan waktu sekitar setahunan.

Ringkasnya, saya hanya ingin menuliskan bahwa melahirkan buku yang berkualitas itu butuh waktu dan kesabaran. Waktu yang panjang dan melelahkan seperti yang sudah saya habiskan untuk menulis buku-buku saya di atas pun, belum tentu bagus.

Setiap buku, perlu memiliki daya ‘gigit’. Entah itu bersifat kritis, inspiratif, atau sekalian saja membuat siapapun yang membaca bisa tersenyum lebar, (Wahahahahahaha……….)

Semua Hari Adalah Milikmu Ibu...

Semua Hari Adalah Milikmu, Ibu

Dua puluh dua Desember
orang bilang adalah hari ibu..
Hari di mana orang menyatakan kecintaannya..
sayangnya...pada orang yang menjadikannya ada di bumi Allah ini..

Namun sebenarnya..Dua-dua Desember...
hanya satu hari dari 365 hari milik-NYA
Yang Rahman dan Rahim-NYA
Hadir lewat tangan-tangan lembut seorang ibu....

Untuk anak-anaknya...
buah hati..cahaya mata orang tua..
Dengan sejuta do'a dan harapan..
Agar senantiasa tegar di segala rintangan yang menghadang ..

Ya, engkau adalah seorang perempuan...
Sumber rasa kasih sayang dan air mata rahmat...
Bayangan yang selalu memberi keteduhan...
kesejukan dan kedamaian...


Engkau adalah seorang ibu...
Yang melahirkan 'sosok' yang di cintai
Engkau adalah seorang Ibu..
Malaikat pelindung bagi hati-hati kecil yang Allah amanahkan..

Ibu...Oh, Ibu..
Aku selalu berdoa, semoga Allah menerima..
Senandung tasbih, takbir, dan tahlilmu..
Yang menggema di setiap hela nafasmu..

Aku meminta dan memohon ..
Allah mencatat dan menggandakan balasan..
Di setiap langkahmu adalah amal..
Adalah Ibadah kepada-Nya..

Ya Allah..
Aku sungguh memohon kepada-Mu..
Memasukkan ibuku, ke dalam barisan hamba-hamba-Mu
Yang mendapat Anugrah dan Syafaat....

Amin ya Rabbal Alamin

Sunday, December 18, 2011

Indahnya Menjadi Isteri 2

 Di suatu bazaar buku, saya membeli  sebuah buku  berjudul ”Menjadi Istri Paling Romantis”.  Cover buku berwarna pink.. Tapi  ..bukan warna pink yang membuat saya tertarik  namun  judul buku tersebutlah, seolah magnet yg menarik rupiah keluar dari dompet.

Tidak membutuhkan waktu  lama untuk menikmati  buku tersebut. Namun untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, butuh waktu sepanjang perjalananku mendampingi suami. Bagaimana menjadi istri paling romantis, seperti yang ditulis penulisnya ternyata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Sekedar sharing saya ungkapkan bahwa yang menjadi inti, dari sebalik buku ini adalah bahwa untuk menjadi isteri paling romantis bukan berarti kita harus bersikap romantis seperti; suka kirim bunga, ungkapan sayang yang bertubi, umbar ciuman, umbar kata cinta atau selalu lengket dengan pasangan bak perangko dengan amplopnya.

Namun yang lebih penting adalah mempelajari secara terus-menerus, memahami dengan hati bahwa ia harus menjadi wanita idaman terlebih dahulu. Lalu seperti apa wanita Idaman tersebut? Dalam buku disebutkan: Wanita Idaman adalah wanita yang banyak keturunannya, menyenangkan apabila dipandang suami dan menjaga harta dan kehormatan suami apabila suami pergi.

Dan diam-diam.... berulang-ulang saya membaca buku tersebut. Saya berjuang keras, bersusah payah, trial error, terkadang juga makan hati, pahit dan perasaan perih lainnya mewarnai perjalananku dalam menggapai cita-cita menjadi wanita idaman.

Pesan Rosul dalam sebuah hadis Jadilah wanita yang berakhlak mulia. Menurut pendapat Ali ra. Bahwa akhlak yang mulia itu terdiri dari tiga perkara; menjauhi segala sesuatu yang dilarang, mencari sesuatu yang halal dan melapangkan terhadap keluarga.
Salam bin Muthi’ pernah ditanya tentang akhlak yang mulia, Maka ia menjawab melalui syairnya:

Engkau melihatnya jika engkau mendatanginya dengan gembira. Seolah-olah engkau memberinya sesuatu yang engkau memintanya. Meskipun dia tidak ada dalam gengamannya kecuali nyawa, tentu dia akan memberinya, Maka takutlah kepada Allah sambil memninta kepada-Nya. Dialah lautan dari arah manapun engkau mendatanginya. Kebaikan dan kedermawanannya menjadi dua pantainya.

Indahnya Menjadi Isteri

Dalam suatu obrolan ringan bersama ibu-ibu saat mengantar anak sekolah, ada pertanyaan yang cukup menggelitik di hati, hingga mendorong saya untuk menulis tema  tersebut dalam tulisan saya kali ini. Pertanyaan tersebut adalah “Bagaimana ya...membuat suami kita setia?

 “Bagaimana selama 20 tahun saya menjalani karir sebagai isteri? Dalam  pandangan  mereka, rumah tangga terlihat adem ayem...damai, aman-aman saja.
Adakah godaan, rintangan dan bagaimana saya menyikapinya?
Pertanyaan mereka  menyentak kesadaran, bahwa tidak terasa sudah 20 tahun saya menjadi seorang isteri sekaligus seorang ibu. Umur saya pun sudah tidak muda lagi.

Pertanyaan selanjutnya yang terlontar dari mereka adalah adakah resepnya sehingga kami terlihat tambah mesra dan tambah romantis? Saya tersenyum dalam hati dan hanya menjawab ringan sambil berlalu. Jadilah istri yang cerdas.  Jawaban yang pasti meninggalkan seribu tanya di benak mereka.

He he he...padahal saya bukan seorang perempuan yang pintar. Banyak perempuan yang lebih pinter, lebih cantik yang ada di sekitar saya, namun rumah tangga kerap terjadi kecekcokan.
Hhm, maaf. Bukan pula berarti rumah tangga saya berjalan lurus, mulus, adem ayem, tentram tanpa keributan tanpa ketegangan. Dan bukan pula saya menganggap mereka adalah perempuan yang tidak cerdas. Tidak sama sekali. Kecerdasan yang saya maksudkan di sini, lebih menekankan pada upaya seorang istri dalam memahami perannya sebagai perempuan terlebih dahulu. Untuk bisa paham dan mengerti tentu diharuskan ada  ilmunya.

Saya masih ingat bertahun yang lalu, saat rumah tangga ada di fase jenuh.  dan kerap terjadi keributan hanya karena masalah sepele. Masalah anak, kebutuhan ekonomi yang semakin melambung dan masalah lainnya. Kebahagiaan sudah menjadi barang mewah dan langka. Beruntung saya menyadari kondisi tersebut. Di saat genting seperti itu, yang saya lakukan hanya satu. Membaca. Iqra! Seperti perintah Allah terhadap Nabi saat menerima wahyu yang pertama. Iqra! Iqra dan Iqra!

Saturday, December 17, 2011

Hobby Oh My Hubby

“Suami yang menikahi aku..
Tidaklah semulia Muhammad SAW
Tidaklah setaqwa Ibrahim AS
Pun tidaklah setabah Ayyub AS
Ataupun segagah Musa AS
Apalagi setampan Yusuf AS

Suamiku, kekasihku
Hanyalah pria akhir zaman
Yang punya cita-cita membangun keturunan yang sholeh
Yang mengajarkan kami berkewajiban sama
Mengajarkan kami iman dan taqwa
Mengajarkan kami untuk sabar meniti kehidupan
Untuk menggapai ridho ALLAH SWT”

Dua puluh tahun menikah, sulit bagiku untuk mencari kekuranganmu, sebaliknya harus kukatakan begitu banyak pelajaran yang kau ajarkan padaku, dengan sayang, dengan cinta. Dua puluh tahun bersamamu, mungkin cukup lama menurut orang, tapi bagiku serasa hari kemarin kau ajak aku mengarungi biduk bernama rumahtangga. Dan selama dua puluh tahun bersamamu, tidak sedetikpun perasaanku terhadapmu berubah. Bahkan yang terjadi, aku semakin sayang dan cinta.

Walaupun begitu, duapuluh tahun menikah, bukan berarti perjalanan rumah tangga kau dan aku tanpa sandungan dan konflik. Konflik kecil tiba-tiba menjelma menjadi masalah besar hanya karena salah kata atau prasangka tak berdasar antara kita. Soal cemburu, soal keuangan, soal selera makanan, soal bersih-bersih rumah , soal anak-anak, seputar hobby suami yang terusik, dan lain-lain pernah singgah mewarnai perjalanan cinta kita.

Seperti kejadian beberapa bulan yang lalu. Karena ketelodaranku, seekor burung peliharaan suami terkapar, mati karena kedinginan terguyur derasnya air hujan.
Kisah tersebut aku ceritakan kembali sebagai pengingat dan semoga dapat diambil hikmah oleh yang membacanya. Oya, suami bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah lanjutan tingkat atas di kotaku. Untuk mengisi waktu senggangnya, ia paling suka(hobbi) memelihara hewan-hewan ternak. Ada beberapa ekor ayam, yang menghuni gubug di halaman belakang rumah kami. Juga tiga ekor burung bersuara merdu menghuni sangkar cantik di dalam rumah kami.

Karena kecintaannya pada hewan-hewan piaraannya, ia benar-benar sepenuh hati merawatnya. Kebersihan tempat tinggal hewan-hewan sangat diperhatikan. Apalagi makanannya. Sungguh istimewa. Kala pagi menjelang, sebelum ia sendiri sarapan ia sudah terlebih dahulu menyajikan pakan untuk ayam-ayamnya. Sekepal nasi putih hangat dicampur dedak disedu dengan air hangat siap dilahap hingga ludes oleh ayam-ayamnya. Kemudian disapu bersih disekitar kandang. Setelah selesai dengan sang ayam, ia ganti memperlakukan burung-burung kesayangannya dengan perlakuan yang sama.Pakan dan air minum diganti setiap pagi. Sangkarnya sangat cantik. Dengan warna keemasan dan bentuknya yang meninggi, membuat burung-burungnya bebas bergerak terbang mengepakkan sayapnya dengan indah. Suaranya terdengar merdu. Seolah ingin berucap terima kasih pada tuannya yang telah memperlakukannya dengan sangat baik.

Disaat suami sedang bepergian, yang ada dalam benaknya cuma hewan-hewan kesayangannya. Terbukti sepulang dari tempat kerja, sebelum masuk rumah ia sempatkan menengok terlebih dahulu ayam dan burungnya. Terkadang aku merasa cemburu. Cintanya terbagin bahkan aku merasa kepada ayam dan burunglah ia lebih kangen, lebih ia khawatirkan. Hiks…hiks, aku merasa diduakan.

Hingga pada suatu hari, di hari Minggu yang cerah. Matahari bersinar panas. Amat menyengat. Seperti biasa, ia menjemur burung beserta sangkarnya di depan rumah agar terkena langsung hangatnya sengatan sang mentari. Katanya, sinar matahari sangat baik untuk kesehatan sang burung, selain untuk mematikan virus-virus yang mungkin menempel di sangkar.

Baru sekitar sepuluh menit ia dan burungnya berjemur, ia mendadak ingat bahwa ia harus pergi untuk suatu urusan penting. Ia memintaku untuk menjaganya. Selanjutnya aku asyik dengan pekerjaan rumah tangga. Mencuci, memasak, menyetrika, beres-beres rumah, dan lain-lain.

Saat itu sedang musim pancaroba, cuaca mudah sekali berubah. Jelang siang hari, awan hitam berkelebat dan dalam sekejab menutup kotaku. Tidak lama kemudian, merubah rinai gerimis menjadi hujan yang teramat deras. Bagai air bah ditumpahkan dari langit-NYA. Saat gerimis mulai turun, aku bergegas menyelematkan jemuran pakaian yang ada di belakang rumah. Saat itu jemuran pakaian super banyak. Jemuran hari kemarin ditambah jemuran hari itu. Aku sibuk memilah-milah antara jemuran yang sudah kering, setengah basah dan masih basah. Hingga membuatku terlupa dengan satu hal. Ya, pesan suami terabaikan, sangkar dan burungnya belum saku selamatkan. Owalaaah, kenapa saya bisa melupakan pesan suami? Ketergesaan dan keasyikanku menyelamatkan jemuran pakaian, membuatku terlupa dengan nasib burung kesayangannya.

Secepat kilat, aku berlari dengan langkah kaki seribu menuju ke halaman depan di mana sangkar burung tadi tersematkan. Ketika tangan hendak meraih sangkar burung suami datang. Urung menggapai sangkar burung. Aku hanya diam terpaku, mematung. Tak hendak menatap bola mata suami yang merah berkilat. Aku terus menunduk antara kaget dan pasrah. Aku langsung bisa membaca pikirannya. Ia sangat marah karena saya melalaikan pesannya. Suami melangkah melewatiku, dan secepatnya menyambar sangkar hendak menyelamatkan burungnya yang nampak menggigil kedinginan. Namun sayang, karena cukup lama kedinginan, dua jam kemudian makhluk mungil nan cantik, tepar dan mati.

Bisa dibayangkan amarah suami. Menggunung. Ia diam tak bergeming. Membuat suasana menjadi beku. Dalam hati, diriku sangat menyesal. Tapi apa yang bisa aku lakukan ? Menjelaskan alibi saat kejadian, bukanlah waktu yang tepat. Apapun alasan yang aku paparkan pasti tidak bisa diterima, Apalagi jika berdalih, dari sekian hari dia bergelut dengan hobbi yang satu ini, rasanya baru sekali itu aku melakukan kesalahan. Ya, mengemukakan alasan hanya akan memperkeruh keadaan. Selanjutnya yang terjadi adalah ‘perang dingin’. Dia diam akupun diam. Walau begitu, aku tetap melayani keperluan-keperluannya. Aku siapkan hidangan santap sorenya tapi aku biarkan suami makan malam sendiri. Aku berkurung diri di dalam kamar

Hingga jelang waktu tidur, sampai pada keputusan aku harus bertindak untuk mengakhiri kebekuan. Aku yang mulai terlebih dahulu, karena aku merasa yang bikin masalah.
“ Maafkan untuk kesalahan dan kelalaianku tadi siang”, kataku setengah berbisik. Sungguh, aku tidak sengaja”, terbata aku ungkapkan semua rasa sesalku. Walau cukup lama akhirnya suami berbalik menghadap ke arahku. Menatap lekat setiap jengkal wajahku.

“Ya, ya sudah saya maafkan, dan bla…bla…”, uraian kata yang keluar dari mulut suami sungguh menyejukkan di hati.
” burung tadi sudah nyaman di alamnya sekarang”. Bisik suamiku mengakhiri jawabannya dengan senyum terindahnya. Ah, betapa lega hati dan perasaanku.
Begitulah cara kami menyikapi setiap perrmasalahan. Siapa yang merasa bersalah akan meminta maaf terlebih dahulu. Biasanya tidak langsung pada saat itu. Ada masa cooling down(pendinginan= tenggang waktu untuk saling muhasabah), biasanya kalau permasalahan terjadi siang hari, kami menyelesaikan di malam hari jelang waktu tidur. Bahkan kerap kami lakukan di tempat tidur. Ya, suasana malam hari yang hening dan permasalahan yang telah kami endapkan selama beberapa waktu/jam membuat hati dan pikiran kami, lebih mampu mencerna permasalahan dengan jernih. Dengan duduk bersama, bicara dari hati ke hati berbekal cinta yang kami miliki, suatu masalah, baik sengaja/tidak sengaja kami lakukan dapat kami atasi. Sejauh ini pertengkaran, konflik kecil, dan benang-benang ruwet bunga kehidupan dapat kami pecahkan sendiri tanpa bantuan pihak ketiga. Seperti permasalahan ‘matinya sang burung kesayangannya’ tersebut. Semua itu membuat perjalanan cinta kami yang jelang angka dua puluh tahun , baik-baik saja. Alhamdulillah.

99% CASSH Cantik Sehat Shalihah



Judul : 99% CASSH Cantik Sehat Shalihah
Tahun : 2011
Tebal : 232 hal.
Genre : Antology Panduan Kecantikan dan KEsehatan Muslimah
Penerbit : Leutika Publisher
Penulis : Riawani Elyta, Risa Mutia, dr. Maya Suryanti, dan kontributor terdiri dari:
1. Ade Anita,
2. Anita Ba'daturohman,
3. Avis Unsoed,
4. Futicha Turisqoh II,
5. Mursyidah Mesra,
6. Ika Maya Susanti,
7. Ella Sofa,
8. Dewi Irianti,
9.Tia Marty Al-Khairoh,
10.Neti Suriana,
11.Ema Rachmaniawaty,
12.Iir Harun.


Assalamualaikum wr.wb.

Teman2 pasti sebelumnya udah sering lihat cover pinky-winky ini berseliweran di wall FB ‘kaan? Yup! Benar…ini adalah antology first project dari Tarapuccino Group yang insya Allah akan terbit dan beredar di toko2 buku pada awal Februari 2011.

Saya hanya mau nambahin aja, ‘fakta2-anti-lebay-tapi-nyata’ tentang antology ini yang mungkin belum teman2 ketahui :

1. Ini antology yang buat pertama kalinya menggabungkan praktisi kecantikan (dokter kecantikan, pengasuh rubrik kecantikan) dan praktisi kesehatan (dokter umum, dokter gigi, mentor kesehatan bumil) serta penulis2 wanita yang care ama kesehatan/kecantikan wanita, so, teman2 gak perlu ragu2 lagi ama info yang kami sampaikan, karena emang ditulis langsung oleh para praktisi sesuai ilmu dan pengalaman

2. Antology yang memadukan cara merawat kecantikan dan kesehatan full dari ujung rambut-kaki, juga cara meningkatkan inner beauty dan memaknai kecantikan dalam satu buku panduan lengkap, padat dan bermanfaat

3. Antology yang memuat 10 kisah ringan para pemenang lomba kisah ringan kecantikan /kesehatan yang diselenggarakan oleh Tarapuccino Group bekerjasama dengan Leutika Publisher, kisah2 yang fresh, ringan, dan pastinya berhikmah

4. Antology yang udah ‘ludes’ 300 eks bahkan sblum proses naik cetak!

5. Antology yang juga bermanfaat bagi para cowok, buat dijadiin hadiah bermanfaat utk orang2 tersayang ( baca : yang sah), ya kakak, adik, istri, yg udah nentuin hari H juga boleh, seru ‘kan, kalo judulnya; kupinang engkau dengan…CASSH? ^^
Ya CASSH bukunya, CASSH maharnya….hihi…

Dan semua ini bisa kamu dapatkan dengan harga yang sangat bersahabat …..hanya Rp.38.000,-!

Trus, cara ngedapetinnya gimana? Gampang banget :
1. Buat yang doyan ke TB, sambil liat2 den bagus, eh, buku bagus2 maksudnya, jgn lupa pantengin si pinky ini awal bulan depan yah !

2. Buat yang modis, alias modal diskon, bisa pesen langsung ke Leutika lewat program Elbe atau Mitel (nih bagi yg modis en hobi bisnis), yg belum tahu, cek aja notes2 nya Leutika ya (dah pada tahu deh pastinya…)

3. Buat yang mau belanja sekalian mempererat silaturahim, langsung pesen aja ama para kontributor dan pemenang yang terlibat di antology ini…khusus yang mau pesen ama yang lagi promo, selagi kamu masih tinggal di negeri tercinta ini, en selama stok masih ada, silahkan nuju inbox, dijamin bebas ongkir!

Oh ya, kita juga bakal ngadain lomba pilih artikel dan kisah favorit dari buku ini dengan hadiah paket buku ratusan ribu rupiah dari Leutika! Tunggu aja pengumumannya ntar yah! So, tunggu apa lagi? Ayo, tukerin cashmu dengan Cassh…dijamin Cassh mutunya!

Salam ukhuwah,
Riawani Elyta


Hal-hal Sederhana Yang Aku Rindukan

Hal-Hal Sederhana yang Saya Rindukan
Oleh. Anita Triana
Malam telah larut, suara binatang malam nyaring bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Saya terjaga dari tidur. Lalu melangkah menghampiri ketiga anak-anak di kamarnya masing-masing, Putri Ramadhany (Putri 18 tahun), Muhammad Iqbal Fahmi (Iqbal 16 tahun) dan Aufa Nurfiana Rahman (Aufa 8 tahun), terlelap dalam indahnya mimpi. Saya tatap wajah mereka satu persatu. Putri tumbuh menjadi gadis yang pintar, mandiri dan dewasa, Iqbal yang gagah(hatinya) dan Aufa gadis kecilku yang imut. Semua sungguh menumbuhkan rasa syukur dan bangga yang dalam di hati.
Masih terbayang dalam benak saya, tawa, tangis dan celoteh lucu mereka saat mereka masih bayi. Mengayun, menggendong, menyuapi, menyanyikan lagu nina bobo, dan mencium harumnya aroma tubuh mereka. Membimbing langkah kaki kecil mereka ketika mulai berlatih jalan, melatih makan walau belepotan di sana-sini, melatih memakai baju sendiri dan lain-lain. Mengeja huruf, kata, kalimat hingga mereka pandai berkata walau kadang tergagap. Keributan-keributan kecil, komentar-komentar lucu, ide-ide mereka yang cemerlang atau doa-doa yang dilantunkan terpatah-patah selesai solat berjamaah. Sungguh, memberi pengalaman yang mengesankan buat saya dan menjadi hal-hal yang sederhana yang akan selalu saya rindukan.
Saya tercenung sesaat. Saya menengok dan menyusur tahun-tahun yang telah saya lewati. Momen berharga di bulan November 1998 saat saya diwisuda dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada di kota Yogyakarta. Kerja keras saya terbayar tunai dengan selembar kertas ijazah strata1. Saya bangga dapat meraih cita-cita menjadi seorang sarjana. Sebuah perjalanan panjang yang menguras mental dan fisik saya. Mengerjakan tugas akhir disambi mengasuh dua balita saya, bukan pekerjaan yang mudah dan ringan. Hanya karena pertolongan dan kebesaran kasih saying Allah swt, saya dapat melewatinya tanpa kendala yang berarti.
Oya, saya menikah di tahun 1992. Setahun setelahnya Putri lahir, disusul Iqbal dua tahun berikutnya. Sedangkan anak ketigaku (Aufa) lahir tahun 2003. Memutuskan untuk menikah disaat saya masih kulih(tinggal tugas akhir/skripsi), bukan tanpa alasan. Tapi saya lebih suka mengatakan semua adalah kehendak-Nya. Terbaik di mata Allah, pasti terbaik juga untuk saya dan suami. Saya bersyukur saat itu suami sudah menjadi pegawai negeri, menjadi guru muda di sebuah sekolah tingkat lanjutan atas di daerah Karangmojo Gunung Kidul.
Saya ingin merawat anak-anak dengan baik. Untuk itu saya ambil cuti kuliah untuk beberapa semester. Saya fokus di rumah untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Tahun 1996, saat Putri berusia 4 tahun, dan Igbal berusia 2 tahun, saya aktif kembali untuk mengerjakan tugas akhir/skripsi saya yang terbengkelai. Selama dua semester saya bergelut dengan buku dan data-data yang njlimet. Dan alhamdulillah, akhir bulan Agustus 1998, di depan empat dosen penguji, saya dinyatakan lulus ujian pendadaran dengan nilai memuaskan.
Syujud Syukurku pada Ilahi. Perjalanan panjang meraih gelar S-1 dapat saya akhiri. Dengan gelar sarjana yang telah saya dapatkan, keinginan dan hasrat saya untuk menjadi wanita karir begitu menggebu. Namun, melihat kenyataan bahwa anak-anak menempati skala prioritas di level tertinggi yang paling membutuhkan saya saat itu, saya memilih meneruskan pilihan saya untuk tetap di rumah. Saya masih tidak tega membiarkan anak-anak diasuh orang lain, apalagi bukan sanak saudara. Lebih-lebih Putri sulungku mengidap penyakit asma(sesak nafas), penyakitnya bisa kambuh di setiap waktu. Alasan lainnya tipe suami yang tidak mudah menerima orang lain(khodimah), masuk dalam kehidupan keluarga apalagi ikut tinggal di rumah.
Walau terkadang terselip rasa kecewa, namun dengan prasangka baik pada Allah dan demi kenyamanan semua hati, saya memantapkan hati untuk tetap di rumah mendampingi anak-anak. Duapuluh empat jam, sehari semalam, mefokuskan hati dan pikiran untuk suami dan anak-anak. Hari terus berganti, minggu, bulan, hingga tahun demi tahun terlewati. Hingga pada tahun 2000 kami sekeluarga pindah mengikuti tugas suami kembali ke kota asal. Ketiadaan informasi dan rutinitas pekerjaan rumahtangga yang monoton pada akhirnya membuat saya tertekan. Saya stress. Saya merasa rendah diri, malu dan perasaan negatif lainnya. Bahkan yang paling parah, saya harus main kucing-kucingan bila bertemu dengan teman lama atau mantan guru
“Apa? Tidak bekerja? Cuma ibu rumahtangga? Bukankah kamu dulu selalu juara? Kuliah di Universitas anu? Fakultas anu? Dan bla… bla… bla”. Rentetan pertanyaan yang membuat saya mendadak menjadi manusia paling gagap. Lalu menyebar menjadi virus akut yang menggeroti kepercayaan diri saya. Wuih, sebel. Rasa bahagia mendadak menjadi barang mewah.
Negative thinking membuat hati dan pikiran saya terkotak. Dunia terasa hanya selebar daun kelor. Saya merasa seperti katak dalam tempurung. Semua yang saya kerjakan sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang ibu. Memasak, mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika, dan lain-lain. Semua saya kerjakan tanpa makna, tanpa hati dan tanpa logika. Hati dan otak saya telah tercemari sindrom feodalistik yang mengotori otak saya dengan membisikkan kalimat yang menjatuhkan ’kamu cuma seorang ibu rumahtangga’.
Namun disaat yang tepat, kilatan Nur Ilahi menyergapku di munajatku malam itu. Allah membentangkan tangan memelukku yang datang tertatih. Tersadar betapa Allah telah memberikan karunia-Nya yang amat banyak kepada saya. Cinta Allah, cinta suami dan cinta anak-anak adalah sumber energi yang aku butuhkan, bukan cinta-cinta kedunian lainnya yang semu.
Subhanallah. Tersadarkan, luar biasa nikmatnya menjadi stay at home mommy. Betapa indahnya menjadi saksi utama dan pertama disetiap tahap perkembangan anak. Betapa bangganya menjadi yang pertama dicari untuk berbagi cerita disepanjang hari itu. Betapa lega dan merasa puas, saat saya mampu menjadi obat pertama kala anak sedang lara dan gundah. Bahkan seringkali hanya dengan dekapan dan pelukan, mampu menjadi P3K(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Dan betapa senangnya disaat menemani mereka belajar, saya berfungsi sebagai buku pintar/ensiklopedia yang pertama mereka buka saat mereka membutuhkan sebuah jawaban cepat dari berbagai tugas sekolahnya. Kemudian di menit berikutnya saya bertindak menjadi buku kamus super kilat yang mampu menerjemahkan kata asing yang ditemuinya. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Daerah. Namun dari semuanya saya bangga karena bisa menjadi teman dan sahabat untuk anak-anak saya. Kapanpun saya dibutuhkan saya selalu ada, setia setiap saat mendampingi mereka.
Tersadarkan, anak adalah amanah. Artinya, saya harus berbuat yang terbaik untuk anak-anak. Saya berusaha untuk bisa memenuhi hak anak-anak saya, saya mencoba untuk memahami mereka sebagai anak yang penuh keterbatasan, tidak sekedar menuntut mereka untuk bisa segala-galanya. Saya mencoba untuk melibatkan pendapat dan ide-ide mereka mengenai sesuatu hal yang menyangkut kepentingan keluarga dan kepentingan mereka sendiri, tanpa memaksakan cara-cara saya. Saya mohon pada-Nya agar apapun yang saya lakukan, terhindar dari perilaku melalaikan amanah.
Saya juga selalu ingat, Allah menyebut anak sebagai fitnah. Saya mengartikan itu, sebagai kehati-hatian yang harus saya lakukan agar jangan sampai posisi anak berubah ke posisi fitnah. Karenanya saya menekankan pentingnya contoh yang baik/uswatun hasanah dari orangtua kepada anak-anak. Nasihat verbal itu perlu, tapi harus ditunjang dengan contoh. Misalnya anak akan melihat bagaimana orangtuanya merawat saat ia sakit, saat ia gamang, mendidik dan bekerja untuk membiayainya dan lain-lain. Alhamdulillah, semua itu berbuah dengan sangat manis. Anak-anak saya tumbuh mandiri dan dewasa.
Kini anak-anak sudah besar. Kini mereka bukan anak kecil lagi. Putri sudah menjadi gadis remaja, adiknya menjadi remaja pria tampan, sedang Aufa 8 tahun, menjadi gadis kecilku yang manis. Kini saya lebih leluasa mengatur waktu, Sebagian besar waktuku, masih tetap untuk mengurus rumahtangga, seorang diri tanpa pembantu. Untuk mengatasi kejenuhan saya melakukan banyak hal. Salah satunya dengan mencari teman bicara. Suami dan anak-anak adalah teman bicara paling setia. Namun ada teman bicara lainnya yang membuat hati lebih nyaman yakni menulis. Dengan menulis setiap kegelisahan, kegembiraan, ketakutan dan lain-lain, tidak jarang membawa saya pada jalan keluar yang tadinya terasa buntu.
Menulis merupakan jendela besar bagi saya untuk melihat indahnya dunia. Lewat tulisan saya merenda harapan dan cita-cita besar pribadi. Salah satunya menjadi penulis. Seorang penulis dengan buku-bukunya yang mencerahkan dan menginspirasi orang lain. Untuk mewujudkan cita-cita, saya mencoba melakukan banyak hal. Antara lain mengikuti berbagai event lomba menulis, belajar sekolah menulis secara on-line, masuk dalam grup/ komunitas penulis dan lain-lain. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah memiliki 4 buku antologi yang sudah beredar di masyarakat sedang dua buku antologi lainnya masih dalam proses terbit. Menulis adalah berjuang, menjadi ibu yang baik juga berjuang. Dua-duanya akan saya perjuangkan hari ini, esok dan selamanya.
Beberapa saat kemudian saya pandangi kembali wajah ketiga anak-anak saya di tempat tidur masing-masing. Mereka tidur dengan senyumnya yang amat indah. Di dalam hati saya berjanji akan menyayangi, mencintai, dan selalu mendampingi mereka dalam suka dan duka. Hingga mereka siap menjadi diri mereka, menjadi pribadi yang tangguh, tanggung jawab pada dirinya, bangsanya dan agamanya. Amin.
Dan apa kesan anak-anak saya setelah sekian lama bersama saya?
Putri Ramadhany mengatakan: “Ibuku adalah oksigen dalam hidupku. Kehadiran ibu bagai tabung oksigen yang aku butuhkan saat asmaku kambuh. Kehadiran ibu yang setiap saat ada, mampu menyalurkan nafas segar kala hati sedang pepat oleh permasalahan keseharian seorang anak. Masalah pelajaran, teman dan lain-lain. Ibuku adalah temanku, di malam-malam yang hening, sunyi dan senyap. Saat aku sakit, saat malam ujian/tes ulangan…kala orang lain terlelap. Ibu bertahan selalu ada di sepanjang waktuku. Terima kasih Ibu”.
Iqbal berujar malu-malu kucing: “Ibuku adalah buku harianku. Tempat menggoreskan segala kegelisahan dan kebahagiaan yang aku alami sepanjang hari itu. Walau aku belum sehebat anak lainnya, tapi ibu selalu mengatakan: “kamu anak yang hebat”. Ah, Ibu…aku bangga padamu. Aku tidak akan mengecewakan harapanmu. Aku yakin meraih apa yang aku cita-citaku. Ya, di mataku Ibu wanita hebat dan di mata ibu aku adalah anak yang hebat”.
Dan Aufa gadis kecilku membisikkan: “ Ibuku adalah teman asyik untuk bermain dan belajar. Menjadi apa saja , siapa saja dan kapanpun Ibu selalu bersedia menemani.”

Hal-hal Sederhana Yang Aku Rindukan



Malam telah larut, suara binatang malam nyaring bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Saya terjaga dari tidur. Lalu melangkah menghampiri ketiga anak-anak di kamarnya masing-masing, Putri Ramadhany (Putri 18 tahun), Muhammad Iqbal Fahmi (Iqbal 16 tahun) dan Aufa Nurfiana Rahman (Aufa 8 tahun), terlelap dalam indahnya mimpi. Saya tatap wajah mereka satu persatu. Putri tumbuh menjadi gadis yang pintar, mandiri dan dewasa, Iqbal yang gagah(hatinya) dan Aufa gadis kecilku yang imut. Semua sungguh menumbuhkan rasa syukur dan bangga yang dalam di hati.

Masih terbayang dalam benak saya, tawa, tangis dan celoteh lucu mereka saat mereka masih bayi. Mengayun, menggendong, menyuapi, menyanyikan lagu nina bobo, dan mencium harumnya aroma tubuh mereka. Membimbing langkah kaki kecil mereka ketika mulai berlatih jalan, melatih makan walau belepotan di sana-sini, melatih memakai baju sendiri dan lain-lain. Mengeja huruf, kata, kalimat hingga mereka pandai berkata walau kadang tergagap. Keributan-keributan kecil, komentar-komentar lucu, ide-ide mereka yang cemerlang atau doa-doa yang dilantunkan terpatah-patah selesai solat berjamaah. Sungguh, memberi pengalaman yang mengesankan buat saya dan menjadi hal-hal yang sederhana yang akan selalu saya rindukan.

Saya tercenung sesaat. Saya menengok dan menyusur tahun-tahun yang telah saya lewati. Momen berharga di bulan November 1998 saat saya diwisuda dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada di kota Yogyakarta. Kerja keras saya terbayar tunai dengan selembar kertas ijazah strata1. Saya bangga dapat meraih cita-cita menjadi seorang sarjana. Sebuah perjalanan panjang yang menguras mental dan fisik saya. Mengerjakan tugas akhir disambi mengasuh dua balita saya, bukan pekerjaan yang mudah dan ringan. Hanya karena pertolongan dan kebesaran kasih saying Allah swt, saya dapat melewatinya tanpa kendala yang berarti.

Oya, saya menikah di tahun 1992. Setahun setelahnya Putri lahir, disusul Iqbal dua tahun berikutnya. Sedangkan anak ketigaku (Aufa) lahir tahun 2003. Memutuskan untuk menikah disaat saya masih kulih(tinggal tugas akhir/skripsi), bukan tanpa alasan. Tapi saya lebih suka mengatakan semua adalah kehendak-Nya. Terbaik di mata Allah, pasti terbaik juga untuk saya dan suami. Saya bersyukur saat itu suami sudah menjadi pegawai negeri, menjadi guru muda di sebuah sekolah tingkat lanjutan atas di daerah Karangmojo Gunung Kidul.
Saya ingin merawat anak-anak dengan baik. Untuk itu saya ambil cuti kuliah untuk beberapa semester. Saya fokus di rumah untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Tahun 1996, saat Putri berusia 4 tahun, dan Igbal berusia 2 tahun, saya aktif kembali untuk mengerjakan tugas akhir/skripsi saya yang terbengkelai. Selama dua semester saya bergelut dengan buku dan data-data yang njlimet. Dan alhamdulillah, akhir bulan Agustus 1998, di depan empat dosen penguji, saya dinyatakan lulus ujian pendadaran dengan nilai memuaskan.
Syujud Syukurku pada Ilahi. Perjalanan panjang meraih gelar S-1 dapat saya akhiri. Dengan gelar sarjana yang telah saya dapatkan, keinginan dan hasrat saya untuk menjadi wanita karir begitu menggebu. Namun, melihat kenyataan bahwa anak-anak menempati skala prioritas di level tertinggi yang paling membutuhkan saya saat itu, saya memilih meneruskan pilihan saya untuk tetap di rumah. Saya masih tidak tega membiarkan anak-anak diasuh orang lain, apalagi bukan sanak saudara. Lebih-lebih Putri sulungku mengidap penyakit asma(sesak nafas), penyakitnya bisa kambuh di setiap waktu. Alasan lainnya tipe suami yang tidak mudah menerima orang lain(khodimah), masuk dalam kehidupan keluarga apalagi ikut tinggal di rumah.
Walau terkadang terselip rasa kecewa, namun dengan prasangka baik pada Allah dan demi kenyamanan semua hati, saya memantapkan hati untuk tetap di rumah mendampingi anak-anak. Duapuluh empat jam, sehari semalam, mefokuskan hati dan pikiran untuk suami dan anak-anak. Hari terus berganti, minggu, bulan, hingga tahun demi tahun terlewati. Hingga pada tahun 2000 kami sekeluarga pindah mengikuti tugas suami kembali ke kota asal. Ketiadaan informasi dan rutinitas pekerjaan rumahtangga yang monoton pada akhirnya membuat saya tertekan. Saya stress. Saya merasa rendah diri, malu dan perasaan negatif lainnya. Bahkan yang paling parah, saya harus main kucing-kucingan bila bertemu dengan teman lama atau mantan guru
“Apa? Tidak bekerja? Cuma ibu rumahtangga? Bukankah kamu dulu selalu juara? Kuliah di Universitas anu? Fakultas anu? Dan bla… bla… bla”. Rentetan pertanyaan yang membuat saya mendadak menjadi manusia paling gagap. Lalu menyebar menjadi virus akut yang menggeroti kepercayaan diri saya. Wuih, sebel. Rasa bahagia mendadak menjadi barang mewah.

Negative thinking membuat hati dan pikiran saya terkotak. Dunia terasa hanya selebar daun kelor. Saya merasa seperti katak dalam tempurung. Semua yang saya kerjakan sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang ibu. Memasak, mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika, dan lain-lain. Semua saya kerjakan tanpa makna, tanpa hati dan tanpa logika. Hati dan otak saya telah tercemari sindrom feodalistik yang mengotori otak saya dengan membisikkan kalimat yang menjatuhkan ’kamu cuma seorang ibu rumahtangga’.

Namun disaat yang tepat, kilatan Nur Ilahi menyergapku di munajatku malam itu. Allah membentangkan tangan memelukku yang datang tertatih. Tersadar betapa Allah telah memberikan karunia-Nya yang amat banyak kepada saya. Cinta Allah, cinta suami dan cinta anak-anak adalah sumber energi yang aku butuhkan, bukan cinta-cinta kedunian lainnya yang semu.
Subhanallah. Tersadarkan, luar biasa nikmatnya menjadi stay at home mommy. Betapa indahnya menjadi saksi utama dan pertama disetiap tahap perkembangan anak. Betapa bangganya menjadi yang pertama dicari untuk berbagi cerita disepanjang hari itu. Betapa lega dan merasa puas, saat saya mampu menjadi obat pertama kala anak sedang lara dan gundah. Bahkan seringkali hanya dengan dekapan dan pelukan, mampu menjadi P3K(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Dan betapa senangnya disaat menemani mereka belajar, saya berfungsi sebagai buku pintar/ensiklopedia yang pertama mereka buka saat mereka membutuhkan sebuah jawaban cepat dari berbagai tugas sekolahnya. Kemudian di menit berikutnya saya bertindak menjadi buku kamus super kilat yang mampu menerjemahkan kata asing yang ditemuinya. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Daerah. Namun dari semuanya saya bangga karena bisa menjadi teman dan sahabat untuk anak-anak saya. Kapanpun saya dibutuhkan saya selalu ada, setia setiap saat mendampingi mereka.

Tersadarkan, anak adalah amanah. Artinya, saya harus berbuat yang terbaik untuk anak-anak. Saya berusaha untuk bisa memenuhi hak anak-anak saya, saya mencoba untuk memahami mereka sebagai anak yang penuh keterbatasan, tidak sekedar menuntut mereka untuk bisa segala-galanya. Saya mencoba untuk melibatkan pendapat dan ide-ide mereka mengenai sesuatu hal yang menyangkut kepentingan keluarga dan kepentingan mereka sendiri, tanpa memaksakan cara-cara saya. Saya mohon pada-Nya agar apapun yang saya lakukan, terhindar dari perilaku melalaikan amanah.

Saya juga selalu ingat, Allah menyebut anak sebagai fitnah. Saya mengartikan itu, sebagai kehati-hatian yang harus saya lakukan agar jangan sampai posisi anak berubah ke posisi fitnah. Karenanya saya menekankan pentingnya contoh yang baik/uswatun hasanah dari orangtua kepada anak-anak. Nasihat verbal itu perlu, tapi harus ditunjang dengan contoh. Misalnya anak akan melihat bagaimana orangtuanya merawat saat ia sakit, saat ia gamang, mendidik dan bekerja untuk membiayainya dan lain-lain. Alhamdulillah, semua itu berbuah dengan sangat manis. Anak-anak saya tumbuh mandiri dan dewasa.

Kini anak-anak sudah besar. Kini mereka bukan anak kecil lagi. Putri sudah menjadi gadis remaja, adiknya menjadi remaja pria tampan, sedang Aufa 8 tahun, menjadi gadis kecilku yang manis. Kini saya lebih leluasa mengatur waktu, Sebagian besar waktuku, masih tetap untuk mengurus rumahtangga, seorang diri tanpa pembantu. Untuk mengatasi kejenuhan saya melakukan banyak hal. Salah satunya dengan mencari teman bicara. Suami dan anak-anak adalah teman bicara paling setia. Namun ada teman bicara lainnya yang membuat hati lebih nyaman yakni menulis. Dengan menulis setiap kegelisahan, kegembiraan, ketakutan dan lain-lain, tidak jarang membawa saya pada jalan keluar yang tadinya terasa buntu.
Menulis merupakan jendela besar bagi saya untuk melihat indahnya dunia. Lewat tulisan saya merenda harapan dan cita-cita besar pribadi. Salah satunya menjadi penulis. Seorang penulis dengan buku-bukunya yang mencerahkan dan menginspirasi orang lain. Untuk mewujudkan cita-cita, saya mencoba melakukan banyak hal. Antara lain mengikuti berbagai event lomba menulis, belajar sekolah menulis secara on-line, masuk dalam grup/ komunitas penulis dan lain-lain. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah memiliki 4 buku antologi yang sudah beredar di masyarakat sedang dua buku antologi lainnya masih dalam proses terbit. Menulis adalah berjuang, menjadi ibu yang baik juga berjuang. Dua-duanya akan saya perjuangkan hari ini, esok dan selamanya.

Beberapa saat kemudian saya pandangi kembali wajah ketiga anak-anak saya di tempat tidur masing-masing. Mereka tidur dengan senyumnya yang amat indah. Di dalam hati saya berjanji akan menyayangi, mencintai, dan selalu mendampingi mereka dalam suka dan duka. Hingga mereka siap menjadi diri mereka, menjadi pribadi yang tangguh, tanggung jawab pada dirinya, bangsanya dan agamanya. Amin.
Dan apa kesan anak-anak saya setelah sekian lama bersama saya?

Putri Ramadhany mengatakan: “Ibuku adalah oksigen dalam hidupku. Kehadiran ibu bagai tabung oksigen yang aku butuhkan saat asmaku kambuh. Kehadiran ibu yang setiap saat ada, mampu menyalurkan nafas segar kala hati sedang pepat oleh permasalahan keseharian seorang anak. Masalah pelajaran, teman dan lain-lain. Ibuku adalah temanku, di malam-malam yang hening, sunyi dan senyap. Saat aku sakit, saat malam ujian/tes ulangan…kala orang lain terlelap. Ibu bertahan selalu ada di sepanjang waktuku. Terima kasih Ibu”.
Iqbal berujar malu-malu kucing: “Ibuku adalah buku harianku. Tempat menggoreskan segala kegelisahan dan kebahagiaan yang aku alami sepanjang hari itu. Walau aku belum sehebat anak lainnya, tapi ibu selalu mengatakan: “kamu anak yang hebat”. Ah, Ibu…aku bangga padamu. Aku tidak akan mengecewakan harapanmu. Aku yakin meraih apa yang aku cita-citaku. Ya, di mataku Ibu wanita hebat dan di mata ibu aku adalah anak yang hebat”.
Dan Aufa gadis kecilku membisikkan: “ Ibuku adalah teman asyik untuk bermain dan belajar. Menjadi apa saja , siapa saja dan kapanpun Ibu selalu bersedia menemani.”

Monday, December 12, 2011

Awal Masuk Dunia Kata 3

Di Facebook aku terhubung kembali dengan sahabat Jazimah Al-Muhyi. Seperti menemukan mutiara yang hilang. Aku menemukan semangat hidupku. Hari-hariku mulai berwarna. Terlebih saat suami tercinta membelikan seperangkat komputer. Aku mulai asyik dengan dunia baruku, dunia tulis menulis.

Mulai saat itulah aku masuk rimba kata dengan sebenarnya. Aku memberanikan diri menulis di catatan. Catatan pertama yang aku tulis tanpa judul. Terdiri dua paragrap tentang arti BAHAGIA. Sederetan kalimat yang bagi orang lain mungkin tak ada artinya. Tapi bagiku sangat bermakna.

Jazimah selalu memotivasiku untuk terus menulis dan menulis. Aku mulai menambah jumlah pertemananku, khususnya para penulis. Berbarengan pula, aku mulai rajin membuat catatan. Catatan pertama, kedua, ketiga, kesepuluh, limapuluh bahkan sampai angka ratusan.

Sunday, December 11, 2011

Awal Masuk Dunia Kata 2

Di jejaring sosial bernama Facebook, aku berkenalan dengan satu group persahabatan yaitu grup “UNTUK SAHABAT”. Sebuah grup yang dicreate oleh pesbuker bernama Dang Aji Sidik dari kota Surabaya. Grup yang mewadahi dan menampung anggotanya untuk berkreasi, berkarya apapun termasuk menulis.

Juga untuk menjalin persahabatan yang anggotanya tersebar di seluruh pelosok Indonesia, juga di seluruh penjuru dunia. Grup UNTUK SAHABAT pula yang telah mengenalkan aku dengan event atau lomba menulis. Aku mencoba ikut dalam lomba kepenulisan yang kerap diadakan oleh grup tersebut. Mencoba dan mencoba terus.

Hingga pada suatu lomba, yang diadakan dibulan Desember dalam rangka Hari Ibu, aku memenangkan lomba menulis dengan tema Ibuku Adalah…Dan tulisanku bersama penulis lainnya dibukukan dengan judul buku IBUKU ADALAH..Dan itu adalah buku pertamaku. Ya, meskipun buku Antologi tapi aku bangga menjadi salah satu penulisnya.

Buku Pertama disusul buku berikutnya. Buku 99% CASS CANTIK, SEHAT & SHALIHAT. Buku ketiga sebuah antologi bertemakan tentang jodoh adalah buku KEPENTOK JODOH, bersama Dang Aji Sidik dkk.

Awal Masuk Dunia Kata 1

Hari itu, tidak sengaja aku membeli sebuah buku berjudul “Yuk, Nulis Cerpen” penulis Muhammmad Diponegoro di salah sudut kotaku. Entah kenapa, mataku terpentok pada halaman depan buku yang sedang aku lahap, pada sederetan angka. Sebuah nomer ponsel dari penerbit yang sedang kunikmati. Keinginan tahuku yag besar mengenai dunia tulis-menulis menggerakkan tanganku untuk mengirim pesan pada penerbit yang berwilayah di Jogja tersebut.

“Assalamualaikum.
Bisa saya diperkenalkan dengan salah seorang penulis anggota FLP daerah Jogjakarta? Terima kasih.”
Aku tekan send pada hape jadulku.
Aku menunggu sebuah balasan berhari-hari hingga aku menyelesaikan membaca buku tersebut.
Hingga pada suatu hari, kala senja merangkak memasuki malam, saat aku melahap buku lain, terdengar dering hape. Sebuah sms masuk.
Namanya Jazimah Al-Muhyi. Silahkan berhubungan langsung dengannnya. Ia akan memberikan banyak ilmu tentang kepenulisan.
“Terima kasih”, aku tekan send.

Hari-hari selanjutnya aku warnai hari-hariku dengan saling berkirim sapa dan kabar lewat sms dengan Jazimah Al-Muhyi. Dalam hati, aku membenarkan kata penerbit Neo Santri, Jazimah seorang penulis yang sangat baik, bahkan sangat sangat baik. Ia bersedia berbagi/ menerimaku sebagai seorang teman dan sahabat walau hanya via sms atau kerap melayangkan selembar surat. Di sela kesibukannya sebagai ibu bari dari anak pertama Aulia, ia menyempatkan menulis surat kepadaku. Ia sangat memahami keinginanku untuk bisa menulis sepertinya. Ia mengirimiku sebuah buku yang berjudul KETIKA HARUS BEDA. Sebuah buku yang sangat berarti.

Mei 2006

Cinta 200 Persen

Cinta 100 persen? Sering kita dengar, tapi cinta 200 persen, 300 persen atau bahkan 1000 persen? Jujur saja, kita memang jarang atau bahkan belum pernah mendengar nya. Tidak seperti ungkapan banyak anak banyak rezeki, kita sering dari orang-orang tua di sekitar kita. Namun ungkapan banyak anak nambah cinta? Bukankah nambah anak hanya akan menambah beban biaya hidup, nambah repot, nambah cape, dan nambah segalanya?

Cinta, semua orang mendambakan. Namun cinta yang mana ? Apakah cinta itu indah dan akan selalu indah? Apakah cinta itu agung dan selalu agung? Menurut M. Anis Matta dalam bukunya yang berjudul "Biar Kuncupnya mekar jadi bunga" Cinta merupakan salah satu perasaan manusia yang sifatnya fluktuatif, mengalami naik turun sebagaimana perasaan- perasaan yang lain . Seperti rasa suka, benci, senang, bahagia, malu dan semacamnya. Kadarnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Pada suatu saat dalam perjalanan panjang sebuah perkawinan Cinta sepasang suami isteri mengalami -erosi cinta- itu sah-sah saja, karena itu suatu keniscayaan.

Saat masih pengantin baru, cinta suami kepada istri atau istri kepada suami pastilah 100 persen untuk pasangan. I laove you full. Cinta mati. Makan sepiring berdua sampai tidur beralaskan kertas koran bekas , asalkan berdua-pun rela. Belum lagi ungkapan cinta lainnya yang kesemuanya melukiskan cinta pada pasangan.

Namun seiring bertambahnya usia pernikahan, dan bertambahnya jumlah anggota keluarga dengan hadirnya anak-anak sebagai buah cinta, permasalahanpun mulai menyapa. Masalah anak, masalah kebutuhan ekonomi yang mulai meningkat, dan masalah-masalah rumah tangga lainnya. Berbagai masalah ini, tak jarang menimbulkan konflik antara pasangan suami isteri. Kata-kata cinta yang mulanya bertebaran di awal pernikahan, kini mulai jarang terungkapkan. Cintapun pelan-pelan tergerus oleh derasnya arus urusan pernak dan pernik kehidupan berkeluarga.

Ketika anak pertama lahir cinta 100 persen untuk istri itu susut, tinggal 50 persen saja. Anak kedua lahir cintapun terbagi menjadi tiga dan seterusnya. Masuk akal juga, karena sebelum memiliki anak pusat perhatian suami hanya pada satu orang, yaitu istri. Namun dengan kehadiran anak demi anak di tengah mereka, cintapun terbagi kepada istri dan anak-anaknya. Menjadi setengah, sepertiga, seperempat. Itu andai cinta bersifat matematis(persentase*).

Namun yang sebenarnya, menurut M. Agus Irkham seorang penulis dari kota Batang, dalam artikel di media Majalah Wanita UMMI Edisi bulan Juni tahun 2009, urusan cinta tidak dimasuki hitung-hitungan seperti di atas. Karena dalam hitungan cinta, 100 dibagi dua, sama dengan 200, dibagi tiga sama dengan 300 dan seterusnya. Karena cinta itu bersifat given, limpah dari Allah SWT. Dalam Islam kehadiran anak adalah limpah Rahmat Allah SWT. Mustahil, Rahmat Allah justru menjadi sebab hamba-Nya sempit hati, mengacuhkan anak, men'cuek'i istri. Karena cinta terhadap anak adalah Rahmat dari Allah, sehingga semestinya para suami bermental limpah pula.

'Matematis Cinta' ala Agus M. Irkham tersebut semestinya membuat setiap keping keluarga menjadi keluarga yang harmonis, hangat, mesra, dan senantiasa bertabur kata cinta . Seorang istri tidak perlu khawatir apalagi takut untuk menambah anak, karena cinta suami tidak akan berkurang justru semakin berganda. Cinta dan anak adalah rahmat, cinta dan anak adalah anugrah, cinta dan anak adalah karunia dari Allah SWT kepada hamba-Nya, tidak mengurangi tapi malah bertambah dan berlipat-lipat. Subhanallah.

Dengan memahami sepenuhnya 'Matematis Cinta' menurut Allah SWT, akan bisa mengurangi angka 'perceraian', Kekerasan Dalam Rumah Tangga ( KDRT), karena alasan beratnya beban ekonomi akibat jumlah anak yang bertambah. Insyaallah.

*Agus M. Irkham (2009) Cinta 200 Persen” Ummi edisi Juni, hal 35}

Pentingnya Pendidikan Seks Anak

Perlukah memberikan pendidikan seks pada anak? Tabukah bicara seks pada anak? Bagaimana kita menyikapi pergaulan anak-anak dengan tantangan teknologi yang semakin canggih dan mulai akrab dengan mereka?

Sekarang ini, di daerah tempat tinggal saya, banyak anak usia SD sudah pegang HP dengan berbagai macam tipe. Mulai yang hanya bisa untuk sms dan telpon, sampai bisa untuk internetan. Fenomena FaceBook yang sedang naik daun, menjadikan Warnet tumbuh subur bak jamur di musim hujan.

Bermula dari tuntutan pelajaran TIK ( Teknologi Informatika Komputer ) yang dipelajari di tingkat sekolah menengah, yang mengharuskan setiap anak SMP sudah memilik akun di Fb. Menjadikan mereka beramai-ramai mengubah haluan yang tadinya tidak tahu (gaptek ; gagap teknologi), mereka sudah tak canggung lagi dengan keyboard komputer. Orang dewasa saja bisa melantur apabila sudah ada di depan komputer. Apalagi anak-anak/ remaja kita yang rasa ingin tahunya lebih besar,

Hal ini membuka peluang mereka untuk melanglang dunia maya dengan bebas. Tanpa ada aturan main. Tidak masalah di rumah belum ada komputer, karena pintu warnet(warung internet) terbuka dimana-mana. Bisnis warnet ramai, bersemai bak jamur di musim hujan. Setiap waktu di serbu para penjelajah baru di dunia maya. Semakin banyak uang yang mereka bawa, semakin bebas, lama dan terbuka bagi mereka untuk mengakses segala yang mereka inginkan.

Sebenarnya ini kemajuan yang menyenangkan, kalo mereka benar-benar hanya mengakses yang sifatnya 'baik'. Tapi namanya remaja, rasa penasaran mereka yang begitu menggebu terhadap 'sesuatu' sementara tidak / kurang ada pengetahuan dan bimbingan yang baik dari orang-orang yang dekat disekitarnya, dalam hal ini orang tuanya, memungkinkan mereka mengakses 'sesuatu' yang sebenarnya belum waktunya. Ini di daerah saya, mungkin tak beda jauh di tempat/ kota lain. Dampaknya bisa kita baca di berbagai media, baik koran ataupun di telivisi.

Fenomena kasus penculikan anak di bawah umur, oleh teman Fb-nya, dan kasus-kasus lainnya akhir-akhir ini menyadarkan kita sebagai orang dewasa terutama para orang tua/ guru untuk lebih memperhatikan anak-anak kita.

Sejauh ini saya tidak begitu 'ngeh' member, Menerangkan tentang seks pada anak hanya sambil lalu saja. Tidak secara khusus menerangkannya. Mungkin karena selama ini saya merasa aman-aman aja, anak-anak saya tumbuh kembang secara normal seperti anak-anak lainnya. Saya selalu mendampingi anak entah itu nonton TV, baca buku, juga selalu menemani mereka di depan layar komputer. Itu karena saya seorang ibu yang full di rumah.

Kemarin siang sepulang dari berbelanja di pasar, saya kembali terhenyak kaget, sedih dan ngenes, ketika secara tak sengaja terbaca, di kertas bungkus yang hendak saya buang, Bocah 3 tahun diperkosa. What...?Apa...? Kertas koran yang sudak kucel saya ambil, saya penasaran untuk membacanya. Apa saya tidak salah baca, kubaca ulang, ulang lagi untuk memastikannya, bukan sekedar berita 'bohong, alias gosip, alias berita ngarang...Tapi nyata dan benar adanya. Seorang anak perempuan (ditutup) wajahnya sedang dipangku bundanya. Bocah cilik usia 3 tahun depresi berat akibat pemerkosaan. Yang palakunya tak lain adalah orang dekat / tetangga yang masih kehitung kerabat. Astaghfirullahal Adziem....

Ini mungkin salah satu contoh ketelodoran kita sebagai orang tua yang kurang memberikan pengetahuan tentang seks pada anak-anak kita. Sedini mungkin memang kita mesti dan kudu memberikan pendidikan seks kepada mereka, juga tentang bahaya yang mengancam mereka setiap waktu. Paling tidak harus bisa mengatakan 'tidak' / atau menolak bahkan berontak dengan berteriak bila ada orang yang akan melakukan hal yang menyakitkan mereka. Meski itu orang-orang terdekatnya sekalipun Ini bukan untuk anak perempuan saja, tapi juga untuk anak laki-laki kita. Sulit? Pastinya. Tapi, harus terus dicoba, dan di coba terus membekali anak tentang bahaya itu.

Ya, memberi pengertian biarpun mereka masih balita / batita, ataupun sudah remaja itu sangat penting...Untuk mengantisipasi kejahatan / kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa disekitar anak-anak, akibat menipisnya iman mereka yang sudah terjangkit 'Virus' MSO2 ( ambil istilah Jazimah Al-Muhyi ; Mikir Sing Ora-Ora ). Virus yang paling berbahaya karena dapat mengikis iman di dada. Mungkin akibat tayangan yang berbau 'porno' yang semakin tak tersaring di banyak media dan penjelajahan dunia internet yang tanpa batas.

Anak adalah aset pembangunan Bangsa, Anak adalah Amanah dan karunia Tuhan. Mari kita menjaganya..Agar kelak kita dapat mempertanggung jawabkannya di hadapan ALLAH SWT. Semoga...!

Salam.....Saya ; Yang Sedang Belajar 'Mengikat Makna'.

Merajut Cinta dengan Lansia

“Anakku yang ku sayangi….
Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku...


Seperti apa rasanya menjadi orang tua lanjut usia? Apakah umurku akan sampai meniti di jenjang lansia? Bagaimana kulit wajahku, dimana gerangan aku tinggal? Apakah aku bahagia hidup dalam lingkaran orang-orang yang mencintaiku, atau rasa sepi yang memagut di titian lansiaku?

Pertanyaan-pertanyaan di atas itu terus bergaung dalam hati dan pikiran saya, saat menyaksikan seorang lelaki lanjut usia masih terlihat bahagia menjadi hidup. Dia biasa dipanggil Pak Tua. Usianya jelas sudah lanjut, karena itu kami biasa memangggil Pak Tua. Keriput menghias seluruh kulit tubuhnya. Putih keabu-abuan mewarnai seluruh helai rambutnya. Langkah Pak Tua sangat pasti, meskipun agak terseok menahan beban berat yang terbagi di dua pundaknya.

Ketika kemudian dia menghempaskan badan untuk duduk berselonjor di bawah naungan pohon mangga di belakang rumah, diam-diam saya menyimpan decak kagum dalam hati. Dan diam-diam pula saya menyiapkan sepiring nasi hangat dengan lauk seadanya untuk saya berikan kepada Pak Tua. Tidak lupa satu gelas teh untuk menghangatkan badannya. Saat ia menyantap makanan yang saya sajikan, diam-diam saya menympan tangis dalam dada. Kemana keluarganya? Seperti apa kehidupan di waktu mudanya? Ah. Betapa menyedihkan hidup sendiri tanpa keluarga.

Pak Tua itu terus saja melahap makanan yang saya berikan. Ludes tak bersisa.. Wajahnya yang sudah berkerut merut nampak kembali cerah, lalu bangkit dari duduknya dengan penuh semangat. Hingga terlukis kegagahan di masa mudanya.



Begitulah Pak Tua yang selalu saya temui di waktu pagi. Dengan bekal pundak yang dianugerahkan Allah SAW ia mensyukuri hidup dengan caranya. Menggapai rizki-Nya di atas gunungan sampah. Siraman air hujan dan sengatan matahari di tengah hari bolong, tak berarti apa-apa mengenai kulit tuanya. Hanya menciptakan kerutan di kulit yang semakin legam

Ditengah pergulatan kerasnya hidup, Pak Tua tetap tekun menjalankan ibadah yang wajib, juga digenapi dengan ibadah sunah. Seperti puasa sunah Senin- Kamis, dan puasa sunah-sunah lainnya. Dari bibir Pak Tua, selain selarik senyum yang selalu terlukis di wajahnya, alunan ayat-ayat-Nya seolah tiada henti mengisi hari-harinya. Ah, aura surga terpancar dari binar matanya.

Menyaksikan kegigih-an Pak Tua tadi, membawa pikiran saya kepada lelaki berusia lanjut lainnya yang kini tak lagi perkasa. Seraut wajah lansia milik bapak mertuaku. Usia kira-kira tidak beda jauh dengan Pak Tua 70 tahun-an. Namun secara raga dan jiwa ia lebih lemah. Sudah lebih dari tujuh bulan, tergolek lemah di tempat tidur. Matanya dipenuhi semburat putih pertanda katarak yang membuatnya tak lagi jernih untuk mengenali orang dan benda-benda yang ada disekitarnya. Jangankan untuk berjalan dudukpun sudah tak bisa. Untuk makan, minum dan mandi tidak bisa sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Untuk makan dibantu oleh anak perempuannya. Khusus untuk melayani mandi dan lain-lain, Bapak harus dibantu oleh suami saya sebagai anak lelakinya.


buku antologi Cinta dan Harapan di Masa Lansia. Alhamdulillah...ada tulisan saya di buku tersebut

Kesehatan Bapak Metuaku menurun drastis sejak ditinggal Ibu yang dipanggil terlebih daulu untuk menghadap-NYA, tujuh tahun yang lalu. Saat itu menjadi titik balik kehidupan beliau. Daya ingatnya semakin berkurang, ketahanan mental menurun dan kemampuan fisik semakin melemah. Meskipun demikian, untuk mengisi waktu luangnya beliau bersikeras untuk tetap pergi ke sawah dan kebonnya.

Dengan langkah pasti namun tidak setegap dulu ia pergi menilik kebonnya. Hanya sekedar melihat-lihat tanamannya. Apakah beberapa tanamnya sudah layak panen, ataukah belum. Pokoknya tiada hari tanpa cangkul dan sawah. Tidaklah mengherankan, dalam hidup beliau hanya ada tiga kata yang menemani perjalanan hidupnya, ibadah, istri dan anak-anaknya.

Selanjutnya menyusur kehidupan beliau di masa mudanya. Sanga menantang. mertuaku ini setiap hari sehabis solat subuh. Lelak lansia sudah keluar dari rumah untuk pergi ke kebon untuk mengecek tanaman-tanamannya. Ia berjalan kaki dan selalu berjalan kaki seperti yang selama ini ia lakukan sejauh 7 km-an. Beliau hanya membawa bekal satu poci besar berisi air daun teh pegunungan asli dan sebungkus nasi rames. Harum aroma teh pegungan menggigit aroma penciuman. Berbagai jenis tanaman yang bapak tanaman. Ada cengkeh, lada, kelapa, pisang, papaya dan lain-lain.

Mulai dari tanam, memelihara dan panen beliau lakukan seorang diri. Hanya beberapa orang yang akan dimintai pertolongan apabila ada salah satu dari tanamannya memasuki masa panen. Satu hari panen cengkeh, lain harinya panen lada, atau pisang/papaya dan lain harinya panen padi. Rasa puas tergambar jelas diraut wajah. Namun bila suatu saat beliau gagal panen karena satu dan lain hal beliau hanya diam dalam sedih. Ah,bapak memang orang pendiam tak banyak cakap, tak banyak omong. Hanya selarik senyum getir tergambar di wajahnya.

Atau di masa lainnya ia akan berpindah ke sawah garapannya. Dari mulai membajak, menanam sampai menyiangi ia kerjakan sendiri. Panas, hujan, petir sambung menyambung sudah menjadi sahabatnya selama ini. Tak sedikitpun beliau berkeluh kesah untuk mengeluh. Tanaman rusak, gagal panen karena salah musim, atau serangan hama tanaman seperti wereng, tikus dan ulat tak pernah ia takuti, beliau kembalikan kepada Tuhannya yang Maha pemberi rizki.

Gagal panen hari ini, esok ia menanam lagi. Lagi dan lagi. Tiada pernah terbetikpun dalam benaknya untuk alih profesi, atau berpindah ke lain hati, eh lain pekerjaan. Sepenuh hidupnya ia habiskan di sawah dan kebon. Walau di rumah sang istri membuka warung, beliau ga mau kalau hanya untuk diam di rumah saja. Dengan senang hati beliau membantu mempersiapkan dagangan, membuka warung setiap pagi. Tapi setelah itu ia akan segera meluncur ke sawah/kebon. Beliau tak betah berlama-lama di rumah, sementara sawah dan kebonnya menunggu untuk beliau jamah. Ah, beliau begitu menyatu dengan pekerjaannya,

Hingga suatu hari itu, hujan turun sangat lebat. Kami tersentak dan kaget ketika siang otu Bapak pulang dihantar seorang tukang ojek. Wajah Bapak neringis menahan rasa sakit. Kemudian beliau menceritakan bagaimana ia jatuh terpeset karena menginjak tanah basah yang licin.

Semenjak itu, beliau terkapar di tempat tidur. Semakin lemah. Kondisi kejiwaan inilah yang menjadikan Bapak semakin terlihat renta, dan membuat sebagian dari anak-anaknya banyak yang hilang kesabaran dalam merawatnya.


Kepergian istrinya benar-benar menjadi titik balik kehidupan di masa tuanya. Kehilangan tulang rusaknya menyebabkan Bapa mertuaku kehilangan semangat hidup. Bayangkan, selama ini hanya ada tiga hal yang ada dalam kehidupannya Bapa Delah Istri, anak-anak dan kerja di ladang/kebun dan sawah.
.

Gagal panen hari ini, esok ia menanam lagi. Lagi dan lagi. Tiada pernah terbetikpun dalam benaknya untuk alih profesi, atau berpindah ke lain hati, eh lain pekerjaan. Sepenuh hidupnya ia habiskan di sawah dan kebon. Walau di rumah sang istri membuka warung, beliau ga mau kalau hanya untuk diam di rumah saja. Dengan senang hati beliau membantu mempersiapkan dagangan, membuka warung setiap pagi. Tapi setelah itu ia akan segera meluncur ke sawah/kebon. Beliau tak betah berlama-lama di rumah, sementara sawah dan kebonnya menunggu untuk beliau jamah. Ah, beliau begitu menyatu dengan pekerjaannya, Kesetiaan dan pengabdian yang patut kita tiru.

Beliau tak kuat lagi menopang badannya sendiri, beliau dianjurkan beristirahat di rumah. Kurang lebih tiga bulan dalam pengobatan dan perawatan beliau sembuh. Beliau dapat kembali berjalan. Tapi tidak boleh keluar rumah apalagi ke sawah/kebon. .Namu ternya bapak Delang suka main colong-colongan. Sesekali waktu ia akan menyelinap ke luar. Bahkan tak jarang beliau lakukan di waktu malam hari. Beberapa bula beliau tidak diperbolehkan ke sawah dank ebon menjadikan anggannya berlari kesana. Terbukti kalau malam hari, ia suka menyelinap keluar rumah ke sawah.

Setiap jelang tengah malam, Beliau selalu menyelinap ke luar rumah. Sejam kemudian pulang lagi dalam keadaan belepotan tanah sawah. Ketika di tanya darimana ia menjawab dari sawah, ia rindu menginjak tanah sawah, makanya ia ke sawah meski hanya sawah tetangga yang lokasinya tidak ajau darti rumah. Atau tengah malam yang lain beliau membuka semua pintu dan jendela seolah hari sudah jelang pagi. Ah, duduk-duduk di teras depan rumah seolah sedang meanti seseorang. Setelah dijelaskan bahwa hari masih malam, ia akan kembali ke tempat tidur.


Sejak saat itu beliau butuh bantuan dan perawatan orang lain yang ada di sekelilingnya. Kondisi kejiwaan inilah yang menjadikan Bapak semakin terlihat renta, dan membuat sebagian dari anak-anaknya banyak yang hilang kesabaran dalam merawatnya. hujan turun sangat lebat. Kami tersentak dan kaget ketika siang itu Bapak pulang dihantar seorang tukang ojek.

Beliau tak kuat lagi menopang badannya sendiri, beliau dianjurkan beristirahat di rumah. Kurang lebih tiga bulan dalam pengobatan dan perawatan beliau sembuh. Beliau dapat kembali berjalan. Tapi tidak boleh keluar rumah apalagi ke sawah/kebon. .Namu ternya bapak Delang suka main colong-colongan. Sesekali waktu ia akan menyelinap ke luar. Bahkan tak jarang beliau lakukan di waktu malam hari. Beberapa bula beliau tidak diperbolehkan ke sawah dank ebon menjadikan anggannya berlari kesana. Terbukti kalau malam hari, ia suka menyelinap keluar rumah ke sawah.

Jam dua balas tengah malam, Bapak Delah terlihat sedang terlihat menyelinap ke luar rumah. Sejam kemudian pulang lagi dalam keadaan belepotan tanah sawah. Ketika di tanya darimana ia menjawab dari sawah, ia rindu menginjak tanah sawah, makanya ia ke sawah meski hanya sawah tetangga yang lokasinya tidak ajau darti rumah. Atau tengah malam yang lain beliau membuka semua pintu dan jendela seolah hari sudah jelang pagi. Ah, duduk-duduk di teras depan rumah seolah sedang meanti seseorang. Setelah dijelaskan bahwa hari masih malam, ia akan kembali ke tempat tidur.

Begitulah bertambah hari ia meanbah pikun membuat kami bekerja ekrtra memperhatikan, tapi tetatp saja kami kecolongan. Beberapa kali ia jatuh dan jatuh lagi. Meski tiada luka, tapi kakinya tidak dapat lagi digerakkan. Lumpuh total. Memaksanya beristirahat di tempat tidur. .

Bahkan siang dan malampun sudah tak bisa membedakan. Daya ingatnya semakin melemah dan melemah. Meski kalau disuruh berceria masa mudanya, raut mukanya langsung bersinar dan dengan antusias akan bercerita. menceritakan masa lalunya…ia bersikeras untuk mengingatnya.


Perilaku sang ayah sudah tidak terkontrol secara baik. Ingatannya ssemakin berkurang, ketahanan mental menurun dan kemampuan fisik semakin melemah. Dalam keadaan seperti ini orang tua memang lebih banyak membutuhkan bantuan dan perawatan orang lain yang ada di sekelilingnya. Kondisi kejiwaan semacam inilah banyak yang hilang kesabaran tak terkecuali anaknya.

Seperti yang kerap saya lihat, perilaku seirang lansia kembali seperti anak-anak, membuat anak-anaknya menjadi kurang sabar merawat lansia Di tambah lagi kesibukan si anak yang bekerja sebagai karyawan di sebuah bank swasta. Sang anak kepayahan merawatnya. Sekilas bukan kesenangan dan keikhlasan mendapat 'ladang pahala', malah justru serasa menjadi beban berat bagi sang anak. Hhhmm.... kasihan ya... diusia tuanya, sang ibu banyak menerima hardikan (meski berdalih demi kebaikan ), juga kata-ah, dan sejenisnya dari anak tercintanya.

Suatu hari, saya melihatnya sedang duduk atas kursi rodanya. Sendiri di teras depan rumahnya. Memandang jalanan yang ramai dengan lalu lalang orang dan kendaraan. Apa yang ada di benaknya ya....Mungkin masa bahagianya berkumpul dengan suami dan ke 5 anaknya. Mungkin pula saat-saat bahagianya menemani suami tercinta mencari nafkah di pasar demi pendidikan anak-anaknya. Bersahabat dengan matahari dan hujan yang silih berganti di sepanjang tahun. Namun dari situlah...rizki Allah mengalir selama ini kepada keluarganya hingga ia mampu mengentaskan pendidikan 5 anaknya hingga kejenjang sarjana. Namun kesuksesan anak-anaknya ternyata harus ia jual mahal dengan 'kesepian' dimasa tuanya..Miris...ngenes, sedih ya...

Tapi, meski perkembangan mental dan pikir orang lanjut usia semakin buruk, tetapi perasaan mereka semakin halus dan tajam. Hal ini terbukti dengan firman Allah pada ayat di atas, kata-kata bagian akhir . " ...dan katakanlah perkataan yang mulia kepada mereka." juga. Orangtua punya perasaan yang amat 'sensitif' dan peka. Kehalusan keketajaman perasaan orangtua lanjut usia sangat peka menghadapi tingkah laku atau ucapan anak-anaknya yang tidak bersahabat dengan dirinya. Dalam keadaan bagaimanapun, mereka layak dan mesti kita hormati, kita mengerti, dan kita hargai. Ssstt.... Saya jadi membayangkan...(boleh kan..?) bila saya menjalani kehidupan masa tua nanti....Ah, semoga tetap dalam limpahan kasih sayang anak, cucu juga limpahan kasih-NYA. Amin..

Maka...( mengingatkan pada diri sendiri utamanya..) bila ingin masa tua kita damai dalam limpahan kasih sayang anak cucu, sudahkah kita menjadi anak yang baik untuk orang tua kita..? Sudahkah kita melimpahkan kasih sayang dan perhatian pada orang tua ..?
Memang tidak mudah untuk mendidik anak menjadi shalih dan shalihah. Perlu perjuangan dan usaha yang terus menerus. Lebih baik lagi bila kita yang berubah menjadih shalih terlebih dahulu.. Sesungguhnya Allah Maha Melihat setiap usaha yang kita lakukan.

Malam semakin larut. Malam yang membawa makna besar dalam hidup, waktu yang tidak akan pernah kembali. Ya, Allah beri saya kesempatan untuk memberi yang terbaik kepada orangtua.

Bukan Suami Biasa

"Tulislah kekurangan/ keburukan suami diatas hamparan pasir, agar segera lenyap dihembus angin...Ukirlah kebaikan suami di atas batu , agar bisa terlihat setiap waktu"

Pernahkah ada saat dimana Anda merasa begitu marah dengan suami ? Pernahkah ada saat dimana problema rumah tangga terasa sangat besar dari kemampuan anda menghadapinya? Ya, aku kerap mengalaminya. Saat dimana pertahanan spiritual terasa lemah, akal kehilangan kecemerlangannya, emosi kehilangan kekuatan dan ketajamannya, yang saya rasakan adalah arus logika melemah dan betapa persoalan-persoalan kecil tiba-tiba menjadi masalah besar. Bertambahnya usia pernikahan ternyata tidak menjamin rumah tangga ‘bebas masalah’. Selalu saja ada gesekan, kerikil-kerikil tajam, ataupun duri kehidupan yang membuat hati meradang.

Sudah ribuan kali pekerjaan rumah saya lakoni, idealnya tidak boleh lagi ada kesalahan. Namun, saya hanya manusia biasa, ada hari dimana saya tidak sengaja melakukan kesalahan . Dan pada saat yang sama, suami sedang tidak mood hatinya, entah beban pekerjaan di kantor atau kesehatannya yang tidak prima. Sehingga kesalahan sedikit saja menaikkan kadar emosi. Seperti yang terjadi pada hari itu.

Minggu yang cerah. Namun beberapa hari sebelumnua cuaca alam sedang kurang bersahabat. Para ilmuwan menyebut dengan istilah cuaca ekstrem . Sebentar hujan, sebentar panas. Pagi hari matahari bersinar terang tapi dalam sekejab cuaca bisa langsung berganti mendung, atau hujan turun tanpa permisi. Karenanya, seharian itu saya berlagak seperti satpam ‘penjaga jemuran’. Berlari kesana kemari, mengejar matahari. Dimana matahari terlihat memancarkan ujung sinarnya, saya mengejarnya . Jemuran saya bolak-balik, pindah dari tempat satu ke tempat lainnya.karena saya menginginkan jemuran langsung kering . Hari itu , saya keluar rumah hanya untuk membeli bahan-bahan keperluan memasak, kemudian mengolahnya sebagai menu makan hari itu.

Dua pekerjaan selesai dalam satu waktu. Makanan siap tersaji di meja makan, cucian kering semua. Selanjutnya hampir dua jam saya habiskan untuk menyetrika. Ketika hari menjelang sore, nampak awan hitam perlahan memayungi daerahkuMendung yang sedari tadi menggantung di langit kini mulai memudar menjadi tetes-tetes air hujan. Tak lama hujanpun, turun sangat deras. Airnya seperti tumpah dari langit. Tapi itu semua tidak menyurutkan niatku untuk mandi. Wuih, segar sekali. Ya, betul-betul kunikmati sentuhan air setelah sebelumnya bermandi keringat.

Sesaat kemudian kulihat di luar sana, langit kembali cerah. Hujanpun berhenti. Seperti biasa saya bermaksud untuk mengepel lantai di teras depan karena siraman hujan tadi. Ya, siapa tahu ada tamu? Kan ga oke, kalau ada tamu teras depan masih basah kuyup oleh sisa air hujan. Baru setengah pekerjaan itu saya kerjakan, suami datang dari kantornya. Saya berniat menyambut suami dengan senyum terindah saya. Tapi….

Tepat berbarengan dengan langkah pertama suami menapak teras, aku tersentak kaget, pandangan langsung tepat mengarah ke sangkar burung kesayangan suami yang kubiarkan tersiram air hujan. Owalaaah…Sungguh, kenapa saya bisa melupakan urusan yang amat sangat ‘krusial’ ini ? Saya melupakan menyimpan dan memasukkan binatang piaraanya ke dalam rumah. Sesaat saya melihat ke mata suami, merah berkilat. Saya menunduk takut dan pasrah. Dalam hitungan detik suami melangkah melewati saya, mengambil sangkar burung yang basah kuyup tadi.
Suami langsung bertindak sigap, menyelamatkan makhluk mungil ini. Untunglah, burung terselamatkan. Ia kembali terbang –terbang kecil di dalam sangkar .

Selama proses penyelamatan burung tadi, suami tak bergeming, diam membeku. Penyesalan semakin membani saya. Menyesal atas keteledoran saya, membiarkan binatang kesayangannya kehujanan. Hobbynya ‘terusik’ karena ke’alpaan’ saya. Ia marah besar. Meski kalau saya boleh berdalih, semua yang terjadi bukanlah kesengajaan. Karena dari sekian hari dia bergelut dengan hobbi yang satu ini, rasanya baru sekali itu saya melakukan ketidaksengajaan . Saya tahu suami mungkin sedang ada masalah di kantor, saya tahu mengemukakan alasan hanya akan memperkeruh keadaan. Dia marah saya terima, tapi kalau kesalahannya lain-lainnya ikut dikatakan saat itu, saya tidak terima, Dan selanjutnya yang terjadi adalah ‘perang dingin’ . Dia diam sayapun diam. Meski saya tetap melayani keperluan mandi dan tetap menghidangkan santap sorenya tapi saya biarkan suami makan malam sendiri. Saya berkurung dalam kamar. Bete istilahnya. Perasaan negatip-negatip lainnya meangacak-acak pikiran saya. Bayangan kekurangan dan kesalahan-kesalahan suami berkelebat menggoda, ingin rasanya meneriakkan di depan suami.

Ahh….ini tidak bisa dibiarkan. Lalu apa syang saya lakukan saat bete melanda hati? Untuk menghilangkan amarah yang meledak-ledak di hati? Saya melampiaskan dengan mengalihkan perhatian dan berusaha mengerjakan suatu pekerjaanyang membutuhkan energi., misalnya dengan membersihkan kamar mandi . Dari mulai bak mandi, tembok kamar mandi, sampai peralatan mandi saya bersihkan. Semakin bete dengan pasangan semakin semangat jemari saya menggosok-gosok semua yang ada di depan mata. Masih juga ada rasa mangkal saya lari kedapur, alhasil tiada satu alat dapurpun yang lolos dari sentuhan saya. Peralatan memasak hingga pernik-pernik tempat bumbu, saya rapikan, saya susun dan tata kembali. Yang pasti semakin tinggio tingkat kejengkelan saya semakin kinclong semuanya. Belum lega juga, saya acara ke cuci mencuci. Handuk-handuk, sprei dan perlengkapan lainnya yang jarang saya mencucinya, tapi disaat bete, saya dengan senang hati meremas-remasnya.
Fisik terasa lelah tapi saya puas karena berhasil mengalihkan energi negate ke hal positip. Meski tidak mampu menghilangkan kejengkelan saya, tapi saya senang melihat semua peralatan dapur mengkilap, kamar mandi dan seisinya bersih, dan harum mewangi. Pikiran saya n saya sedikit segar kembali.

Selain itu saya juga terbiasa menuliskan rasa kesal saya di sebuah buku diary, rasa marah saya, kejengkelan dan segunung uneg-uneg saya luapkan pada tulisan, tak ada yang perlu disembunyikan mengenai alasa kenapa saya marah, saya ungkapkan segalanya- tak tersisa- . Benang-benang pikiran yang semula kusut terurai kembali.

Marah itu merupakan godaan dari syetan. Ketika saya dihadapkan pada situasi demikian dan langkah-langkah diatas belum melegakan pikiran maka saya akhiri dengan siraman segar air wudhu, sholat kemudian membaca Al-Qur’an dengan ber huznudhon kepada Allah bahwa hal itu adalah ujian untuk suami dan saya.




Akhirnya sampai pada keputusan harus bertindak untuk mengakhiri perang dingin ini.
Malam harinya, masih dengan perasaan kesal, karena sikap diamnya, saya mendekati suami. Berbekal minyak gosok di tangan kiri, saya pijat kaki suami, selanjutnya menyeluruh ke semua bagian tubuhnya..
“ Maafkan, saya minta maaf untuk kesalahan yang tidak disengaja tadi siang”, . Sungguh, saya tak sengaja membiarkan binatang kesayanganmu kehujanan. Maaf ya..Saya janji, lain hari akan lebih hati-hati dan lebih teliti untuk menjaga kehormatan dan segala bentuk harta mamas, termasuk binatang kesayanganmu…” terbata saya ungkapkan isi hati.
“Ssst, sudahlah. Mas memaafkan, mas tahu itu tidak kamu sengaja.”
Maafkan saya juga ya…, mas tadi marah-marah”
“Mas mencintaimu..”
“Mas menyayangimu,dik…

Alkhamdulillah malam itu, kami mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik. Hati lega dan bahagia.

PingPilu Namaku

Panggil namaku Ping. Aku terlahir dari keluarga terkaya di daerahku. Hidupku bergelimang uang. Apapun yang aku inginkan dengan mudah aku dapatkan. Selesai menamatkan SMU, aku hijrah ke kota Jakarta untuk melanjutkan pendidikanku di unversitas paling bergengsi. Kota penuh gemerlap bintang. Tiada beda antara siang dan malam.
Siang itu, aku tengah menikmati perawatan kecantikan di salon pinggiran kota Jakarta. Saat itulah pegawai salon menawarkan facial dan suntik.
“mba..ingin wajah mulus dan kinclong seperti ini?”, Tanya pegawai salon sambil memperlihatkan sebuah foto perempuan super cantik dengan kulit putih, bersih, dan mulus. Sesaat aku terpana,, suntik apa pegawai salon menjawab, “ suntik biar putih, bersih, mulus, bersinar dan kinclong”.Hhmm.., siapa yang tidak tertarik dengan tawaran seperti itu?
“Cantik itu berkulit putih”, begitulah “edukasi” dari industry kecantikan. Aku mempercayainya. Sesaat aku menyadari kekurangan yang ada pada diriku, gendut dan kulit berwarna gelap, Tentu saja aku tertarik untuk ikut perawatan kecantikan tersebut. Suntik untuk memutihkan warna kulitku yang gelap dan sedot lemak untuk membuat langsing tubuhku. Tampil cantik bak pragawati-pragawati ibu kota adalah impian ku. Hal itu membuat ku menelan mentah-mentah iklan produk perawatan kecantikan tersebut.
Tunggu mas Pram, kau akan bertekuk lutut di depanku. Aku lalu mengingat sebuah nama. Dua bulan lalu aku patah hati. Hatiku remuk redam, saat kekasih hati, memutus hubungan cinta dan berselingkuh dengan sahabatku sendiri haya karena aku kalah putih. Kuakui sahabatku tak cantik, tapi kulit tubuhnya yang putih, mulus telah mencuri perhatian kekasihku.

Tiga bulan aku sudah menjalani perawatan kecantikan Dan aku menikmati hasilnya. Lihatlah, kulitku kini lebih putih dari sebelumnya. Mulus tak sedikitpun bekas penyakit korengku semasa kecil terlukis di sana. Owh, bahagianya aku. Tak jemu aku berputar-putar di depan cermin.
Banyak yang merasa pangling melihatku. Kata mereka, kini Aku menjelma bagai seorang putrid salju, cantik dan mempesona.
Aku mencuri bisikan-bisikan orang.
“Ping sekarang cantik, langsing, berkulit putih, mulus dan bersinar.”
Wow, bangganya aku. Apalagi kala Pram memohon padaku untuk menerima cintanya kembali.
“ tidak bisa Pram”, sombongku. Maaf, kini aku sekarang bisa memilih mana cowok yang pantas untukku.
Banyak orang yang tidak mengenalinya lagi, jika saja ia tidak sedang jalan bareng dengan keluargaku Semua terpana, terpesona dengan Ping yang sekarang. Bukan Ping yang hitam, gendut dan berambut keriting. Ping yang kini, berubah menjadi wanita mirip seorang model. Kulit putih, langsing dan rambut yang sudah lurus mengkilap.
“Sesal kemudian tiada guna”, begitu kata pepatah.
Seiring waktu berjalan, Ping merasa tidak ada efek negatife dari perawatan itu. Namun, memasuki tahun ke dua, Ping mulai sering mengeluh, wajah dan sebagian tubuhnya sembab, kulit melepuh seperti terbakar, bahkan sebagian bernanah akibat suntik pemutih yang berbahan merkuri. Hari ke hari, kondisi tubuhnya semakin melemah. Keluarga sudah membawa Ping ke Rumah Sakit yang bonafid di luar daerahku. Sayang, Allah berkehendak lain, Ping meninggal saat baru dua malam dirawat.
Dokter yang menangani Ping, mengindikasikan bahwa Ping keracunan pemberian zat-zat pemutih kulit. Selama dua tahun menjalani perawatan kecantikan, apalagi tanpa pengawasan dokter, perlahan tapi pasti, lambung dan organ dalam Ping menolak asupan 'benda asing' ( bahan pemutih kulit seperti merkuri, silicon, kolagen dan plasenta palsu), yang disuntikkan ke dalam tubuhnya. Dan operasi sedot lemak yang dijalaninya selama ini, menimbulkan kebocoran di organ dalamnya. Kanula adalah tube kecil yang digunakan dalam operasi sedot lemak. Dan ternyata kanula menusuk terlalu dalam, hingga terjadi kebocoran. Hal ini memperparah kerusakan yang terjadi di dalam tubuh Ping. Selain itu pertukaran antara cairan yang dimasukkan dan disedot juga menimbulkan masalah pada ginjal dan jantung Ping. Inilah yang menyebabkan nyawa Ping tidak tertolong. Waallahu A'lam Bish-shawab.

Ya! Ada banyak cara untuk menjadi cantik. Haruskah cara instant yang dipilih yang berisiko tinggi, bahkan ancaman kematian? Sedangkan Allah berfirman dalam Q.S. An-Nissa ayat 29 yang artinya :"....Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.