Baca juga yang ini

Alhamdulillah...satu tahap perjuangan telah dilalui...

Rasulullah bersabda :"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fi sabilillah hingga ia kembali.(HR.Muslim) Jum'at...

Sunday, April 28, 2013

5 Menit Ke depan...

"5 menit ke dapan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi"
. Itu sepenggal kalimat yang diucapkan almarh. Ustad Jeffry kepada Bidadari Dunianya, mba Pipik Dian Irawati sebelum beliau wafat.
" Didalam kehidupan, apapun bisa terjadi sesuai kehendak Sang Pencipta.

 Kun Fa Yakun.

Begitulah dengan Rizqi, jodoh dan umur  manusia.  Ada di tangan Allah. Tidak ada satupun makhluk yang mengetahuinya. Wafatnya U.Je di hari Jum'at dini hari, mengejutkan banyak orang. Bukan hanya di tanah air, namun sampai di banyak negara tetangga. 

 Innalihi-wa-innailaihi-rojiun

 Uje adalah Sosok Kyai yang membumi, yang gaya ceramahnya merakyat, santun dan  dapat diterima  disegala jenjang usia. Mulai anak-anak, orang dewasa hingga nenek-nenek. Ini menjadi sejarah dalam dua dasa terakhir.

Hari Jum'at nan mulia menjadi saksi. Ribuan jamaah memadati masjid Istiqlal Jakarta untuk menyolatkan jenazah U.Je. Jeritan hati, Hujan air mata menghantar  jasad U.Jey ke tempat peristirahatannya yang terakhir. 
Bumi dan langitpun seolah ikut berduka..Gema  Tasbih, Tahlil, Takbir menghayutkan setiap yang mendengarnya. 

Ya...Semesta hanyut dalam duka dan rasa sedih yang teramat sangat. 


Namun  saya yakin, di alam sana...U.Je pasti tersenyum bahagia. 
Ia telah kembali kepada Sang KHALIQ. Kembali di tempat yang terbaik. Dimana ia dapat bertemu dengan Muhammad saw, Kekasih Allah.....Nabi akhir zaman yang dirindukannya selama ini. 

Setelah ia berada di titik jenuh...kini .ia berada di tempat yang menggembirakan. 


Bismika Ahya Wa Bis-mika amuut.
Ya  Allah...
Bimbinglah hamba...
Orang tua hamba 
Suami hamba
Anak-anak hamba
Saudara-saudara hamba Muslimin dan Muslimat
Dimanapun berada di Bumi-Mu
Selalu berjalan di rel yang lurus
Sirathal Mustaqiim...disegala sisi kehidupan
Senantiasa dalam naungan Ridho-Mu
Hingga kami semua kembali kepada Engkau
Amin Allahumma Amin.

01 Mei. Lima hari mengenang U.Jey yang wafat tgl 25 April 2013

Wednesday, April 24, 2013

Aku, Perempuan Perindu Syurga


Sebuah kualitas harus  teruji waktu. Saya menyakininya. Namun apakah demikian halnya dengan  cinta’? Apakah cinta juga harus melewati sang waktu nan panjang untuk dapat dibuktikan kadar cintanya? Apakah cinta antara pasangan suami istri akan semakin kuat dengan bertambahnya usia perkawinan?  Idealnya memang demikian. Semakin tua usia pernikahan semestinya akan semakin mencintai pasangan. Karena di sepanjang jalan yang telah terlewati, pasti telah banyak hal yang terjadi yang dialami bersama. Baik  itu kisah suka yang bertabur tawa, maupun cerita duka lara banjir air mata.  Kebersamaan mereka dalam menghadapi ujian, pasti akan  menambah rasa saling memiliki.

Seperti juga perjalanan cinta saya bersama suami. Tahun 2013 ini, tidak terasa  duapuluh dua tahun sudah kami telah melewatinya. Duapuluh dua tahun bukan waktu yang singkat. Banyak rasa yang sudah kami rasakan. Asam, garam, manis, pahit, dan getir. Banyak hal yang telah terjadi untuk menguji perjalanan cinta kami. Dari awal memasuki gerbang rumah tangga, memiliki anak-anak, menemani tumbuh kembang mereka, dipenuhi warna-warni masalah. Dari masalah ringan hingga masalah yang tidak  ‘ringan’. Cemburu, salah paham, saling curiga, saling ego, saling menyalahkan, dan saling lainnya. Merasa disepelekan pasangan, kurang dimengerti,  kurang dihargai, kurang dicinta, kurang disayang, dan lain-lain.  Namun alhamdulillah, kami berhasil melewatinya, walau dengan tertatih. Jatuh..bangun, jatuh... dan bangun lagi. Ya, ibarat masakan  masalah dan ujian tersebut kami jadikan bumbu penyedap. Kami berusaha mengolahnya dengan pas. Tidak kurang yang menjadikan hambar atau berlebih yang menjadikan 'keasinan'

Persoalan kerap bermula dari persoalan kecil. Ketika anak-anak masih kecil, anak terjatuh, anak sakit bisa menjadi pemicu pertengkaran. Ketika mereka mulai remaja, anak malas belajar, anak pulang terlambat, anak bermasalah dengan pelajaran, anak mulai mengenal ‘cinta’, pun sering menjadikan kami bertengkar.

Seperti yang terjadi hari itu.  Anak-anak sudah beranjak remaja. Putri sulungku duduk di bangku lanjutan atas, sementara adiknya duduk di jenjang pertama. Siang itu matahari bersinar sangat terik. Saatnya jam pulang  sekolah, tapi anak-anakku tak kunjung datang. Sambil menunggu mereka  pulang, aku duduk di belakang rumah. Ngadem. Tubuhku bermandikan peluh karena sepanjang pagi hingga jelang siang berjibaku  dengan pekerjaan rumah  Untuk membuat tubuh ini sedikit nyaman, setelah menyelesaikan urusan ‘hidangan makan siang’ aku merebahkan diri di bangku belakang rumah. Aku keasyikan membaca sebuah artikel di sebuah majalah wanita, hingga tak menyadari kehadiran suami pulang.
“ Assalamulaikum……”,
Aku kaget, suamiku sudah berada di depan mata. Ia pulang lebih awal dari biasanya.
“Waalaikum salam….Mas, sudah pulang?”  Aku terbata membalasnya.
“ Enak ya…di rumah bisa nyante,  tiduran, baca buku…” Suami tiba-tiba memberondongku dengan kata-kata yang cukup  menusuk hati. Batinku. Ada apa? Aku membatin.

Tidakkah ia tahu, aku baru saja memasak  setelah sebelumnya berjibaku dengan segunung baju setrikaan, sebelumnya lagi bersibuk ria dengan pakaian kotor,dan sebelumnya lagi beberes rumah? Aku tidak  suka dengan ucapannya. Tapi aku tak berani berbantah, mungkin hari ini suami,  sedang banyak masalah di kantor, batinku berpositiv thinking.

“Mas, ada apa…?” Aku memberanikan diri bertanya.
Kuperhatikan raut wajahnya,  tidak sumringah.
“Anakmu sedang ngobrol dengan teman laki-laki, di ujung gang…”  Nadanya tinggi.
“ Tidak sopan!!“
Walau pelan tapi tetap terdengar jelas di telinga.
“ nggak becus ngurus anak"
Duh! Kata-kata itu yang paling kubenci.
 " Suruh  mereka masuk…!!
“Ya…ya..” tanpa ba-bi-bu, aku setengah berlari  ke ujung gang.
Dan benar, di sana mereka sedang asyik. Laki-laki. Entah apa yang diobrolkan.  Sesekali diiringi dengan tawa dan canda.
“Hhhmmm….ini yang membuat suamiku marah?”, tanyaku dalam hati. 
Suamiku memang  tidak senang  melihat anak perempuanya berdua  dengan lain jenis. Walau hanya  teman sekolah.
Setelah dekat, aku  berbisik di telinga anakku.  
“Ayuk, ajak temanmu mampir. jangan berbincang di jalan’ ga enak sama  tetangga”.

“Terima kasih Bu…sudah siang, saya pulang...”  Teman anakku menolak ketika aku menyuruhnya mampir. Ia langsung berbalik  arah menjauh.
 “ Ada apa sih Ma…”
“Masuk dulu, nanti kita  bicara di rumah…”
.Anakku  mengekor di belakangku.
Raut wajah suami masih kusut. diam seribu basa. Dan aku tahu diamnya adalah marahnya.
Begitulah, suamiku. Tidak pernah memarahi anak  secara langsung. Setiap kali ada perilaku anak yang tidak berkenan di hati, marahnya ditujukan kepadaku. Dan kata-katanya selalu pedas, menoreh luka.
“Kurang becus ngurus anak..”
Itu kalimat yang seringkali kudengar bilamana ia sedang marah soal anak. Dan aku kerap menangis karenanya.
“Sudah, tidak banyak  alasan.
 Itu setiap kali aku mencoba beragumen.

Untuk mengamankan ‘keadaan’ akupun hanya diam. Bagiku diam adalah emas, karena aku tahu semakin  membela diri, marahnya  akan bertambah.

Sepanjang sisa siang hari  itu, suami bukan cuma mendiam’kanku. Makanan yang kuhidangkanpun tidak disentuhnya. Ia hanya makan sepotong dua potong lauk Sekedar mengobati rasa ‘lapar’ nya.  Selesai makan ia masuk kamar lagi.

Sesaat  suami menyendiri di kamar, aku masuk kamar anakku. Mencoba bicara dari hati ke hati.
Aku mendekat duduk di sebelahnya.
“Sayang, kamu tahu kan...Ayahmu paling tidak  suka melihatmu pulang sekolah tidak langsung masuk ke rumah ”,
“Apalagi  ngobrol, bercanda, dengan seorang  laki-laki ..”
 “Tapi  Maaa... ia cuma teman"
Anakku  nampak mau menyela
“Iya mama tahu
ok, ….nanti kita bicara lagi ya.., ganti baju, terus makan...”
“Mama sudah siapkan makanan kesukaanmu”.
---------------------

“kamu ga becus ngurus anak”.
 Sepenggal kalimat itu terus terngiang di kedalaman pikiranku. Cuma empat deretan kata, tapi sungguh dalam maknanya buatku.

Menemani buah hati terlebih di saat  mereka memasuki usia remaja memang tidak mudah. Karena di usia ini anak  kerap menunjukkan ke-aku-annya. Sejauh ini aku sudah berusaha menjadi 'sahabat' untuk semua anak-anakku.  Menjadi pendengar yang baik. Menjadi wadah anakku berkeluh kesah, menumpahkan semua beban di hati. Dengan demikian mereka  merasa aman dan nyaman. 
Aku  juga memahami,  'menerima' perasaan mereka apa adanya. Pun perasaan ‘cinta’ yang mulai bersemi dan  bergejolak di hati remajanya. Perasaan yang wajar seperti remaja lainnya yang mulai menyukai teman lawan jenisnya.
Ya, sebagai ibu aku sudah berusaha mendidik anakku dengan baik.  Tapi salahkah bila dalam perjalanan anakku berlaku belum sesuai harapan?

@@@@@@@@@@

Hingga malam hari, suamiku masih terlihat suntuk. Setelah menyantap makan malam, ia kembali berbalik masuk kamar. Dan kudengar "Klik..!Suara pintu di kunci. .

Mengunci pintu artinya ia ingin menyendiri. Tidak memperbolehkan siapapun mengusik. Tidak juga aku istrinya. Dan aku harus tidur di kamar anakku. Disaat seperti itulah, kekhawatiranku akan dosa-dosa istri kepada suami  menyambangiku.
Astaghfirullah...
Ya Allah, jauhkan hamba dari golongan perempuan/ istri seperti itu.  Batinku tak henti  melantun doa.
Sunnguh, aku paling takut dengan murka Allah yang ditujukan kepada istri-istri yang tidak berbakti kepada suami.

“Maa…apakah  menyukai seseorang itu dosa,?” Tiba-tiba  putriku keluar dari kamar.
 Meski lirih tapi cukup mengagetkanku. Anakku merapat  disebelahku. Sambil menonton acara realita di sebuah stasiun telivisi, kami melanjutkan pembicaraan siang tadi.
“Tentu saja tidak”, jawabku.
“kemampuan hati untuk menyukai seseorang itu adalah karunia dari Allah.
"Namun ingat ya, ada hukum-hukum Allah yang harus dipatuhi.
Pergaulan bebas sama sekali tidak diperbolehkan.
Dan yang terutama harus menjaga hati.” Aku mencoba mengurai tentang bagaimana rasa cinta tumbuh dan berkembang.
“ Bagaimana caranya?”
“Bila kamu jatuh cinta pada seseorang, akui saja kalo memang kamu suka, tapi sebisa mungkin simpan di hati. Jangan biarkan dia tahu. Dan jangan berbuat apapun yang membuat kamu tambah suka padanya. Biarlah kuncup cintamu mekar, tapi cukup di hati. Dan bila kamu tidak tahan dan ingin becerita  pada orang lain, samarkan nama dan identitasnya.”
“Mengapa?” Tanya anakku penasaran.
“Supaya orang tidak menyebarkan gossip, supaya namamu dan  nama orang yang kamu sukai terjaga.
Karena kamu tidak akan tahu, siapa dia dalam masa depanmu. Mungkin saja ia akan menjadi suami teman, sahabat atau teman suamimu.
Bayangkan bagaimana perasaan sahabat  atau suamimu kelak, kalau mereka mendengar tentang yang pernah terjadi”.

“Pasti akan menimbulkan konflik “.  
Anakku hanya mengangguk...
 “Makanya dalam Islam tidak ada istilah pacaran ya…”tanya anakku lagi
“Memang  pacaran itu apa?” tanyaku untuk lebih menegaskan pada anakku.
“Seperti yang dilakukan orang-orang. Makan berdua, belajar berdua, pergi kemana-mana berdua”.
“ Nah..semua dimasukkan dalam katagori mendekakati zina.…"
“Tapi kata teman-teman yang tidak punya pacar kuper”.
Aku tersenyum mendengar penjelasan anakku .

“Percayalah…Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan”.
 Tiba-tiba suamiku muncul dari kamar dan menyela pembicaraan kami.
Ia duduk  di antara kami. Meskipun kaget, aku mencoba bersikap biasa.
” Dan pasangan hidupmu kelak, akan datang pada saat yang tepat nanti”, urai suamiku lebih lanjut.
Anakku tersipu malu mendengar penjelasan dari ayahnya dan langsung berbalik ke kamar.

Aku dan suamiku saling pandang. Aku merasakan tangannya menyandar  di bahu. Ia memandang wajahku dan  menatap setiap jengkalnya.
“maafkan atas kejadian tadi siang…“ bisik suami
"maafkan saya juga ya..."
 Setelah ia berjanji tak akan lagi mengucap 'kalimat' yang tidak aku suka seperti diatas, aku merasa lega. Sangat bahagia. Dan aku sudah tidak mendengar lagi  kalimat berikutnya.

Bagiku kata maaf yang terucap dari bibir kami masing-masing adalah segalanya. Karena seketika itu juga lenyap sakit hatiku, lenyap  kemarahan, lenyap kekhawatiranku... menjadi perempuan dan istri yang dilaknat Allah. Subhanallah.

Tulisan ini diikutkan dallam lomba Menulis GA: AJARI AKU MENCINTAIMU...

Happy Wedding Anniversary ke-8
Semoga kebahagiaan, kesuksesan dan keberkahan senantiasa terlimpah untuk mba Naqi dan keluarga. Amin