Baca juga yang ini

Alhamdulillah...satu tahap perjuangan telah dilalui...

Rasulullah bersabda :"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fi sabilillah hingga ia kembali.(HR.Muslim) Jum'at...

Saturday, May 31, 2014

Sebegitunyakah aku....?

Aku terhenyak ketika disodorkan pertanyaan Oleh salah satu  rekan kerjaku.
Bu Anita...sejak Iqbal (putraku) senang naik gunung...panjengan juga senang googling lihat peta ya?
.
Jleb. Saat itu, aku baru  tersadar, kalau seminggu terakhir, selalu ingin googling, melihat..mengamati peta. Aku begitu ingin tahu mengenai letak suatu gunung..dimana pada saat bersamaan sedang didaki oleh putraku dan temen2nya. Seperti beberapa hari terakhir tanpa sadar aku menelusuri semua yang berhubungan dengan hobbi mendaki gunung. Karena pada saat yang bersamaan anakku sedang melakukan perjalanan ke pulau Lombok di mana di situ ada gunung Rinjani. Bukan cuma keelokkan pemandangan yang ditawarkan, tapi tak lupa aku juga googling letak titik gunung Rinjani. Dari mulai map pendakian, topografi, stratifigasi, struktur dan tektonik.

Menjawab pertanyaan dari rekan kerjaku di atas aku hanya menjawab selintas. "Naluri ibu yang sealsedang di sela-sela waktu kerjaku aku selalu ingin tahu persis keberadaan putraku.
Segitunyakah Bu...?

Friday, May 30, 2014

Rinjani...Tak Semudah yang aku Bayangkan...

Kesulitan adalah peluang untuk kita menjadi kuat
Setelah empat hari menunggu kabar dari putraku dengan rasa cemas dan gelisah, sore itu telpon dari nya masuk, mengabarkan kalau ia sudah turun dari gunung dan keadaannya baik-baik saja. Ia seperti paham dan tahu betul kalau saat itu  bundanya sedang  dilanda kecemasan. Empat hari empat malam berada di gunung...mana mungkin ada sinyal? Sehingga ia tak bisa kirim kabar via sms terlebih telpon. 

Sore itu kurang lebih jam 17.17 menit ia mengabarkan, kalau  ia bersama rombongannya ssebanyak lima belas orang  semuanya sehat. Semuanya baik-baik. Alhamdulillah....

Padahal  2 menit sebelum telpon dari putraku masuk, jemariku sudah berada di keypad hendak googling mencari  sebuah kata. Raung. Itu  nama sebuah gunung yang aku dapat, setelah membaca berita di layar televisi (tulisan yang bergerak di bawah televisi) sore itu. 

"Tim Sar mengevakuasi dua pendaki yang mengalami kecelakaan di gunung RAUNG"

Gunung Raung di mana? Jangan-jangan dekat gunung Rinjani. Jangan-jangan anakku langsung melakukan pendakian kesana. Dan berita itu...jangan-jangan...Ah, tidak. Aku menjawab pertanyaanku sendiri. Aku percaya, Anakku baik-baik saja. 

Saat mengetik sebuah nama ganung  itulah, pada saat yang sama  anak bungsuku berteriak.
Bun...telpon dari Kakak...
Setengah berlari aku menghampiri anakku dan dalam sekejab telpon sudah berpindah tangan dalam genggamanku.

"Ya..ya..Bunda disini. Kamu tidak apa-apa kan? Sehat kan? Di mana sekarang? Sudah turun dari Rinjani?"
Aku langsung memberondongnya dengan  pertanyaan-pertanyaan yang beberapa hari terakhir bergantung di kepala dan pikiranku.

"Alhamdulillah..baik, sehat. ga ada apa-apa. Sekarang sudah di Gili Trawangan. Sedang beristirahat. Bunda tenang ya..."

Mungkin kalau pada saat yang sama, aku diberi sebongkah emas, hatiku akan lebih bahagia menerima kabar dari putraku kali  ini. hehe....emang siapa yang mau ngasih sebongkah emas ya... 

Selanjutnya aku tunduk sejenak.  Aku panjatkan Puji syukur pada Ilahi. Yang telah melancarkan, memudahkan pendakian putraku ke gunung Rinjani. 
Ya, ia telah melakukan sebuah perjalanan yang tidak semua orang mau melakukannya.
Ia telah menaklukkan gunung Rinjani. salah satu gunung yang menantang para pendaki gunung untuk menaklukkannya. Tak lama kemuadian, di status bbm-nya ia menulis

"Tidak semudah yang saya bayangkan"

Sepertinya sebelum melakukan perjalanan, ia lupa suevey meski hanya internet. Mungkin karena waktu dan kesibukan kuliahnya tak sempat googling. Putraku sepertinya tidak menduka dan  tak menyangka akan melewati medan yang berat. Biasanya mendaki sebuah gunung hanya membutuhkan waktu satu hari satu malam. Tapi Rinjani dibutuhkan empat hari  tiga malam. Padang savana(padang pasir), hutan, bebatuan, naik turun cadas bebatuan, sedang di kanan-kirinya jurang. 

Dari 13 teman satu rombongan, hanya 7 berhasil mencapai puncak Rinjani (3 perempuan dan 4 laki-laki termasuk anakku). Dari sini bisa dibayangkan beratnya medan. 

Tulisan ini, hanya sebagai ungkapan kebanggan saya sebagai seorang Ibu. Seperti baru kemarin, ia berlatih berjalan. Jatuh, bangun, jatuh, bangun dan jatuh lagi. Hingga ia bisa lancar berjalan dan akhirnya mampu berlari. Satu menitpun tak pernah lepas mata ini mengawasinya. Memasuki masa sekolah, satu jam ia terlambat pulang, saya sudah panik. 

Dan sekarang putraku menjelma menjadi pemuda yang perkasa (Aamiin..).
Mendaki gunung bukan hal yang mudah. Saya sempat khawatir ketika putraku menceritakan hobbi barunya semenjak ia lepas SMK. Bermula dari gunung merapi, kemudian gunung Merbabu, gunung Slamet dan gunung Rinjani pada akhirnya. Menaklukkan gunung  menjadi ajang latihan, betapa tidak mudah untuk mencapai puncak (bisa impian, cita-cita atau hanya sekedar keinginan). Dan setelah berhasil mencapai satu puncak gunung, pasti memiliki keinginan untuk mencapau puncak yang lebih tinggi. 

Begitupun hendaknya bila  memiliki impian. Impian satu terwujud, timbul impian berikutnya. Yang pastinya impian yang lebih indah dari yang sebelumnya. Sukses menggapai satu keinginan, atau satu cita-cita tak menjadikan kita puas lantas berhenti. kita pasti bermimpi dan bermimpi lagi. Bercita-cita lagi yang lebih tinggi. Rintangan, halangan harus dihadapi bukan dihindari. 

Jatuh...bangun....Jatuh lagi....bangkit lagi. Seperti kutipan dalam satu film yang berjudul 5 cm.
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh. Bahwa kamu akan mengejarnya saampai dapat, apapun itu. Segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri. 






Tuesday, May 27, 2014

Masih tentang Rinjani.....

Sepanjang hari ini aku gelisah. Menanti kabar dari putraku baik via sms, bbm atau mungkin telpon. Tapi hingga malam hari, sampai mata ini sepet menahan kantuk tak kunjung datang yang kuharap.
Aku hanya pasrah dan memasrahkan semuanya pada Gusti Allah. Segumam doa terus kupanjatkan pada Ilahi.(Ini hari kedua, sejak nomer hapenya tak bisa di hubungi sejak Minggu malam senin. Sms nya terakhir mengatakan kalau low bat hape-nya).

Tapi kemungkinan terbesar,  semenjak minggu malam, ia dan rombongannya sudah mulai pendakian. Seperti biasa selama pendakian, hape selalu dimatikan. Menghemat batu. Kalaupun nyala, kemungkinan tidak ada sinyal. karena di tengah hutan, naik turun bebatuan yang samping kanan dan kiri jurang menganga ratusan meter

."Ya...Allah lindungi anakku. Berilah kemudahan apabila dalam kesulitan, berilah kelapangan apabila ia dalam kesempitan, berilah petunjuk jalan apabila ia tersesat jalan di pendakiannya, dan berikan kekuatan ia sedang dalam kelemahan".

Bahkan status  bbm  putri sulungku yang menyiratkan kegalauan hatinya tidak aku gubris. Ah, paling sedang berselisih paham dengan teman kos atau teman kuliah. Baru jelang tidur kubalas bbm anakku dengan kutipan dari buku yang sedang kubaca dengan kutipan ayat Q.S. Al-Furqon ayat 20 yang intinya bahwa:

"Dan kami jadikan sebagian kamu menjadi ujian untuk yang lain"

Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri. Dan dalam pergaulan di tengah masyarakat baik dengan  teman, saudara, dan lingkungan sekitar merupakan ujian. Apakah kita mampu bersabar? Dan Allah Maha Melihat.

Di akhir bbm kutulis lagi : Ada masalah dengan teman kos atau teman kuliah?

Dan putriku membalasnya: " Tidak ma...hanya
 ada teman yang usil. tapi sekarang dah baikan..sudah ketawa-tiwi bareng"

Syukurlah, hatiku sedikit plong dan lega,
setidaknya mengurangi cemas dan galau hati ini. Ketika aku menanyakan apakah dapat bbm dari sang adik?
Jawabnya:
"Sebelumnya memang iya, tapi dua hari ini sama,tak lagi bisa bbm"
Ma...beberapa hari yang lalu Iqbal bbm, katanya
ia akan membawakan bunga edelweis untuk mama...
edelweis gunung Rinjani

Edelweis...bunga ini berwarna putih dan bentuknya kecil. Edelweis hidup di dataran tinggi, ribuan meter di atas permukaan laut. Oleh karenanya bunga ini banyak dibawa pulang oleh para pendaki  sebagai bukti dirinya telah menaklukan sebuah gunung. Namun, seiring berjalannya waktu demi kelestarian bunga ini, para pendaki dilarang untuk memetiknya. Bunga edelweis dikenal sebagai 'bunga abadi'. Warnanya putih melambangkan cinta, ketulusan. Letaknya di puncak-puncak gunung tinggi melambangkan pengorbanan. bunga yang bisa bertahan lama. Karenanya disebut bunga abadi.

Aku terharu membaca bbm putriku tentang ini.

Namun yang sebenarnya. Bukan itu yang kuharapkan. Bukan edelweis atau yang lainnya. Anakku
 dapat mencapai puncak, menaklukkan gunung demi gunung terlebih gunung Rinjani, sebagai seorang ibu ikut bangga seperti yang ia rasakan.

Malam makin larut, rasa cemas masih mendera di hati. Nomernya masih belum bisa dihubungi. Bila kutekan nomernya, jawabannya masih sama:
"Maaf..nomer yang anda tuju belum bisa dihubungi, cobalah lain kali.

Atau hanya suara tu la lit...tu...la   lit.

Tu la lit...Tu la lit...Tu la  lit...Begitu terus. Hingga kedua mataku lelah. Hingga tak sadar
 kuterlelap. Bermimpi bertemu dengan putraku ...^_^
Cita-citaku setinggi langit...!!!!
.Itu mungkin yang mereka teriakan saat di foto di atas puncak gunung

27 mei 2014, jam 22.22 wib

Monday, May 26, 2014

Rin...Ja...ni...(4)

Sepanjang hari ini, aku gelisah. Bolak-balik ku buka bbm. Berharap  membaca status bbm putraku. Atau apa sajalah..upload foto atau hanya sekedar status yang mengabarkan sudah sejauh mana pendakiannya kali ini.

Tapi hingga siang jelang sore, kulihat status bbm anakku, masih sama dengan status yang kemarin.
 "Tukang kopi" : dengan gambar profil segelaf coffe yang masih mengepul asapnya. Ah...itu  profil yang kemarin saat ia masih berada di pelabuhan padang bai Bali.  Pagi itu, ia mengirim kabar lewat sms, mengabarkan ia sedang  sarapan, sambil menunggu saat penyebrangan. Namun hingga sore hari, Hape sepi  sms. Saat kucoba menelpon putraku, pun tak terhubung.

Hanya suara operator "Maaf...nomer yang anda tuju, sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi"


Aku tahu, itu artinya mulai dini hari tadi anakku sudah memulai pendakiannya ke puncak Rinjani. Ia tak bisa leluasa pegang hape, bahkan mungkin tersimpan dalam dasar tas gunungnya yang gede  Ia harus konsentrasi berjalan, terlebih dengan beban berat di punggungnya. Membayangkan putraku di situasi seperti itu, ingin aku membersamainya. Menyalurkan energi , menyemangati, dan mungkin sekedar seteguk air yang membasahi kerongkongannya. Atau sekedar memeluk memberinya kehangatan.

Tak terasa, gerimis mataku. Ya...Allah, lindungi putraku. Kuatkan langkah-langkahnya untuk sampai ke puncak gunung. Biarkan ia leluasa membaca ayat-ayat-MU. Agar iman di dadanya semakin mengakar kuat menancap dihati dan di jantungnya. Aamiin.


Senin, 26 mei 2014

Sunday, May 25, 2014

Rinjani...3

Allah ta'ala berfirman dalam surat al-ghasiyah:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan (17). Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19). Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (21).

23 mei 2014
Stamina, kesabaran , kerja sama dan keyakinan modal utama para pecinta alam


"Aku lagi nyebrang ke Bali...", begitu bunyi sms anakku. Kulirik jam di dinding  menunjukkan pukul 00.15. Sementara anakku sms jam 21.50 WIB. Berarti sekarang sudah di bali batinku.

Pagi hari, aku baru sempat membalas sms anakku. Mas...sudah di pulau Bali...? Kapan melanjtkan ke Lombok? Lama anakku tak membalas. Baru siang jelang sore anakku membalasnya.

Ma..sekarang masih di Bali. Sedang istirahat di rumah teman.
di Tanah Lot Bali. Tadabbur alam

Ops, baguslah...memang itu yang kuharapkan. Dan beruntung kali ini salah satu rombongannya ada yang berasal dari pulau Dewata, jadi bisa numpang tidur atau istirahat gratis di rumahnya, walau hanya tidur diatas tikar sudah cukup. .

Malam hari anakku kirim gambar lewat bbm. Nampak ia dan teman-temannya sedang berdiri di atas tanah yang menjorok ke laut. Seperti siluet...  warna langit mulai menghitam karena cahaya  mentari yang sudah memudar di balik cakrawala.

Harapanku....semakin anakku mengenal alam, mengenal indahnya nusantara, semakin mendekatkannya kepada sang Pencipta. Bukankah ayat-ayat Allah tak hanya yang tersurat tapi juga yang tersirat?


Iqbal anakku nomer dua dari sebelah kiri. Pakai kaos hitam .

Sabtu pagi,  25 Mei 2014.
"Ma...ternyata atm-ku masih bisa dipakai. Mungkin saat di ambil jogja dulu, mesin atm kosong. Jadi ga bisa buat transaksi."
Nah kan...ternyata ga ada masalah di kartu atmnya...Hati kecil bahagia. Kalau atmnya masih di pakai jadi tidak ada kesulitan, kalau sewaktu-waktu anakku  membutuhkan dana. Terlebih untuk akomodasi di Lombok nanti. Aku ingin staminanya tetap terjaga. makanya aku selalu berpesan supaya tidak sayang mengeluarkan uang untuk makan, minum  suplemen dan lainnya.

Masih hari Sabtu...Jelang siang sms anakku masuk mengabarkan kalau saat itu, ia sudah ada di pelabuhan Padang Bai, siap meluncur, menyeberang ke tanah Lombok di mana Dewi Rinjani menantinya. 
putraku yang sedang berpose di pelabuhan padang Bai

Mengiringi langkah anakku beserta teman-teman satu rombongannya, kutabur  doa selalu:, Karena kuyakin  Allah  mendengar doa ibu kepada anaknya... :

"Ya..Allah...lindungi anakku dan temen-temennya. Lancarkan...mudahkan perjalanan mereka untuk membaca ayat-ayat Engkau yang tersirat. Semakin mereka mengenal ciptaan-Mu...Gunung Rinjani yang menjulang tinggi.... Indah dan Eloknya Rinjani yang mereka  daki..., akan semakin mendekatkan hati mereka kepada-Mu. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.





Saturday, May 24, 2014

BERPETUALANG KE RINJANI (2)

"Saya biarkan anak berpetualang menjelajah Nusantara
Agar ia lebih mengenal bumi Allah"


23 juni, Jum'at
Status bbm anakku pagi ini: Bismillahirrhmanirrohim
Aku langsung tahu, bahwa putraku sedang bersiap melakukan sebuah perjalanan yang cukup lama. Berpetualang mendaki ke gunung Rinjani.

Perjalanan dimulai dengan naik  kereta api ekonomi jurusan Jogjakarta- Surabaya. Seperti balasan smsnya :"...ya, ini sudah di kereta..."
Aku balas sms anakku..: "Hati-hati ya...Semoga lancar perjalananmu...

Namun tak berselang lama, smsnya kembali masuk.

"ma...nanti pulang kerja jam berapa?"

" Jam empat...aku membalas sms-nya. " Semestinya hari ini (Jum'at) mama libur. Berhubung ada tim akreditasi dari Jakarta yang datang..mama ga libur. Ada yang bisa mama bantu...? Aku meneruskan sms balasan untuk putraku..
Aku menduga ada sesuatu yang tidak beres. Dan ia sedang galau, nyatanya ia sms, menanyakan kapan saya pulang kerja. Kalau ia baik-baik saja, ia pasti tahu kalau Jum'at adalah hari libur mamanya kerja.

Lama aku menanti balasan sms anakku. Galau pastinya. Sejuta tanya dalam benakku. Aku mencoba mengirim sms lagi.

"Mas..nanti mama istirahat jam 12. Ada apa mas..? Ya, aku biasa panggil anakku lelaku dengan sebutan mas...


Atm-ku tidak bisa untuk ambil uang. Tadi sebelum berangkat, aku mampir di atm, tapi kartu atmnya, ga  kebaca. Mungkin karena kartu bagian hitamnya tergores. Anakku mencoba menjelaskan.
Bisa pinjam uang mama 1 juta?

Apa...? Meski tidak sekaget bila mendengar suara gledeg di siang hari bolong, namun hati ini, tetep lemes membaca sms anakku?

Ya Allah...ada apa ini? Meski dipenuhi sejuta tanya dan rasa penasaran lainya, aku tetap berusaha tenang menanggapi smsnya.
Aku yakin..aku percaya dengan anakku. Seratus persen.
Aku balas sms nya.

Ya...bisa. Mama harus kirim ke rekening berapa? bank Apa? atas nama siapa?
Pikiranku saat itu hanya satu. Anakku sedang kesulitan karena atm-nya ga bisa dipake..sementara saat itu uang harus dicairkan untk memperlancar perjalanannya.
 Tak lama, sms anakku masuk yang menyebutkan satu nama beserta nomer rekeningnya.

Begitu jam istirahat datang, aku segera meluncur ke suatu Bank di Bumiayu. Untunglah tidak seramai jam-jam lainnya. Aku menunggu dua nasabah yang saat itu hendak menyetorkan uang.
Sekali lagi, aku sms anakku untuk memastikan nomer dan nama yang akan saya kirim.
Satu juta bukan uang sedikit, jadi aku harus memastikan tidak akan salah kirim.

Balasan sms anakku bertepatan nomer antrianku dipanggil oleh mba Teller.
Aku sebutkan nomer rekening yang akan dikirim dengan mantap. Dalam hitungan menit uang satu juta berpindah ke suatu nama yang ternyata pemiliknya seorang Ibu ......... Itu berarti temen anakku memakai atm milik ibunya. Tapi aku yakin, uang akan  sampai ke tangan anakku.

Itulah hari pertama perjalanan anakku ke pulau lombok dalam rangka pendakian ke gunung Rinjani. Meski diawalnya sedikit tersandung masalah dengan atmnya yang tergores, hingga ia tak bisa dipake untuk mencairkan, mudah-mudahan tidak ada rintangan yang berarti untuk hari-hari berikutnya. Aamiin




Thursday, May 22, 2014

Rinjani.....(1) (catatan jelang anakku mendaki ke Rinjani...)


Gunung Rinjani dan Sabana di kaki gunung.

Siapa yang naik gunung...? Kalau saya...sudah tidak mungkin kali ya...Saya hanya bisa menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung. Lagu yang sudah sangat saya hapal di luar kepala, karena sudah ratusan bahkan ribuan kali mendengar dan menyanyikannya untuk anak-anak saya.  

Lalu untuk apa kali ini saya menulis tentang gunung..? Tidak mungkin saya menulis tanpa ada yang melatar belakangi bukan..? hehe...emang karya tulis atau skripsi tok yang harus pakai latar belakang.....^_^

Ya. Saya menulis untuk anak ke dua saya, yang akhir-akhir sedang hobby naik gunung. Hobby baru yang ditekuninya belum lama. Dimulai saat ia memasuki dunia kampus. Kebetulan ia kuliah di D-3 fakultas Elektro UGM. Ia ikut kegiatan MAPALA. Gunung demi gunungpun  ia daki. Mulai gunung Merbabu, gunung Merapi, gunung  Slamet hingga Merbabu untuk kedua kalinya. 

Ia pernah cerita, memang tak mudah mendaki gunung. Dibutuhkan tenaga dan semangat ekstra untuk menaklukkan satu gunung. Saat pendakian pertama di gunung Merpapi ia hampir putus asa untuk melanjutkan langkah pendakiannya. namun, meski tertatih akhirnya ia berhasil menaklukkan sang Merpapi

Setelah Merpapi, gunung demi gunungpun ditaklukkannya. Merbabu, juga gunung Slamet yang ketinggiannya lebih gunung-gunung sebeluimnya. Kesulitan, halangan tentulah masih ada dan akan selalu ada di setiap pendakian. Tapi syukurlah sepertinya ia sudah bisa mangatasi. Ia berhasil mencapi puncak gunung  dengan baik. Artinya tak lagi  ku dengar, banyak keluhan yang menyertai di setiap cerita-cerita naik gunungnya. 

Seminggu yang lalu, ia sudah cerita tentang niatnya untuk naik gunung. Kali ini tidak tanggung-tanggung, ia dan  teman-teman pencinta alam kelompoknya, merencanakan mendaki gunung Rinjani yang tada di pulau Lombok. Niatnya sudah cukup matang. Berbagai perlengkapan pendakian bahkan tiket kereta api jurusan Surabaya sudah di pesan.


Rencana pemberangkatan hari Jum'at tanggal 23 Juni.  Inilah yang membuat saya ingin tahu banyak tentang gunung Rinjani. Saya sudah googling. Peta pendakian kutatap lekat-lekat, seolah berbicara bahwa sepanjang rute inilah anakku seminggu depan akan berjalan melewatinya, untuk taklukkan Rinjani. Meski  tertulis di sana, bahwa perjalanan sepanjang pendakian sangat elok dan indah, pasti juga tak mudah untuk menaklukkannya. Aral dan hambatan pasti akan sering dijumpainya. Terlebih suhu yang lumayan dingin bila sudah mendekati puncak gunung. 
Berikut saya kopas dari wikimedia;

Rinjani memiliki panaroma paling bagus di antara gunung-gunung di Indonesia. Setiap tahunnya (Juni-Agustus) banyak dikunjungi pencinta alam mulai dari penduduk lokal, mahasiswa, pecinta alam.
Suhu udara rata-rata sekitar 20 °C; terendah 12 °C. Angin kencang di puncak biasa terjadi di bulan Agustus.
Selain puncak, tempat yang sering dikunjungi adalah Segara Anakan, sebuah danau terletak di ketinggian 2.000m dpl. Untuk mencapai lokasi ini kita bisa mendaki dari desa Senaru atau desa Sembalun Lawang (dua entry point terdekat di ketinggian 600m dpl dan 1.150m dpl).
Kebanyakan pendaki memulai pendakian dari rute Sembalun dan mengakhiri pendakian di Senaru, karena bisa menghemat 700 m ketinggian. Rute Sembalun agak panjang tetapi datar, dan cuaca lebih panas karena melalui padang savana yang terik (suhu dingin tetapi radiasi matahari langsung membakar kulit). krim penahan panas matahari sangat dianjurkan.
Dari Rute Senaru tanjakan tanpa jeda, tetapi cuaca lembut karena melalui hutan. Dari kedua lokasi ini membutuhkan waktu jalan kaki sekitar 7 jam menuju bibir punggungan di ketinggian 2.641m dpl (tiba di Plawangan Senaru ataupun Plawangan Sembalun). Di tempat ini pemandangan ke arah danau, maupun ke arah luar sangat bagus. Dari Plawangan Senaru (jika naik dari arah Senaru) turun ke danau melalui dinding curam ke ketinggian 2.000 mdpl) yang bisa ditempuh dalam 2 jam. Di danau kita bisa berkemah, mancing (Carper, Mujair) yang banyak sekali. Penduduk Lombok mempunyai tradisi berkunjung ke segara anakan untuk berendam di kolam air panas dan mancing.
Untuk mencapai puncak (dari arah danau) harus berjalan kaki mendaki dinding sebelah barat setinggi 700m dan menaiki punggungan setinggi 1.000 m yang ditempuh dlm 2 tahap 3 jam dan 4 jam. Tahap pertama menuju Plawangan Sembalun, camp terakhir untuk menunggu pagi hari. Summit attack biasa dilakukan pada pukul 3 dinihari untuk mencari momen indah - matahari terbit di puncak Rinjani. Perjalanan menuju Puncak tergolong lumayan; karena meniti di bibir kawah dengan margin safety yang pas-pasan. Medan pasir, batu, tanah. 200 meter ketinggian terakhir harus ditempuh dengan susah payah, karena satu langkah maju diikuti setengah langkah turun (terperosok batuan kerikil). Buat highlander - ini tempat yang paling menantang dan disukai karena beratnya medan terbayar dgn pemandangan alamnya yang indah. Gunung Agung di Bali, Gunung Ijen-Merapi di Banyuwangi dan Gunung Tambora di Sumbawa terlihat jelas saat cuaca bagus di pagi hari. Untuk mendaki Rinjani tidak diperlukan alat bantu, cukup stamina, kesabaran dan "passion".
Keseluruhan perjalanan dapat dicapai dalam program tiga hari dua malam, atau jika hendak melihat dua objek lain: Gua Susu dan gunung Baru Jari (anak gunung Rinjani dengan kawah baru di tengah danau) perlu tambahan waktu dua hari perjalanan. Persiapan logistik sangat diperlukan, tetapi untungnya segala sesuatu bisa diperoleh di desa terdekat. Tenda, sleeping bag, peralatan makan, bahan makanan dan apa saja yang diperlukan (termasuk radio komunikasi) bisa disewa dari homestay-homestay yang menjamur di desa Senaru.
Ah, pasti akan menjadi perjuangan tersendiri untuk anakku kali ini. Mudah-mudahan ia bisa sampai puncak tanpa kesulitan yang berarti.

Rin...Rinjani,
Sambutlah pendakian anakku esok
Dengan senyuman teramahmu
Anakku
Siapkan dirimu
Doa ibu...akan selalu menyertaimu 

Dan nanti...
Kalau kau sudah berhasil menaklukkan Rinjani, carilah gunung yang lebih tinggi lainnya. Dakilah...Berjuanglah terus untuk menaklukkannya
Seperti perjuangan dalam meraih impian dan cita-cita..
Semakin tinggi impian dan cita-cita -mu
Semakin tinggi pula usaha dan ikhtiar-mu

Yakinlah, Impian dan cita-citamu akan tercapai
Karena Allah tidak tidur
Allah melihat usaha dan ikhtiar hamba-Nya


.

Wednesday, May 21, 2014

Tiga Kota Satu Pengabdian

Badruzzaman Busyairi
Tiga Kota Satu Pengabdian:
Jejak Perjalanan Yahya A. Muhaimin

lxvi + 350 hlm; 15 x 23 cm
ISBN: 978-979-1262-53-8

Harga: Rp.150.000

Tulisan ini mewakili rasa hormat dan kebanggaan saya sebagai orang Bumiayu, terhadap  Bapak Prof. Yahya A. Muahaimin. Bagaimana tidak? Beliau adalah orang Bumiayu pertama (dan yang terakhir...? Semoga tidak ya...Insyaallah kedepannya bermunculan orang-orang Bumiayu)  yang bisa tampil dan menduduki kursi kementrian RI. 


Saya menulis ini juga bukan karena putri pertama beliau (mba Atrrofiyati, hallo mba A'at apa kabar...?) adalah teman SMP saya di SMP Islam Bumiayu. Bukan pula karena keluarga besar beliau menjadi sentral perekonomian Bumiayu dengan toko emasnya yang laris dan sangat terkenal selama ini di Bumiayu. 

Tapi lebih dikarenakan perlunya dokumen bagi generasi selanjutnya khususnya generasi muda di Bumiayu. Agar tumbuh semangat dan motifasi menjadi seperti beliau. Terutama langkah-langkah yang ditempuh beliau hingga  menjadi Mentri Pendidikan Nasional (Mendiknas) di era Reformasi. Karena pastinya tidak mudah menjadi seorang Mentri Pendidikan Nasional di era Reformasi, mengingat sangat tingginya tuntutan m asyarakat untuk segera melakukan perbaikan-perbaikan di segala bidang, khususnya bidang pendidikan , sementara lingkungan belum seluruhnya mendukung. 


Sebagai Mendiknas, beliau telah mengeluarkan kebijakan tentang perlunya pendidikan akhlak bagi setiap peserta didik untuk membangun karakter bangsa  yang tengah terpuruk akibat krisis multi dimensi yang sedang melanda masyarakat dan bangsa Indonesia. 


Sebuah buku yang lugas dan mudah dicerna. Pembaca diajak memahami tiga dimensi perjalanan hidup Yahya A. Muhaimin. Pertama adalah perjalanan akademis , yakni jejak langkahnya sebagai pengajar dan ilmuwan di dunia pendidikan, baik di lembaga pendidikan yang dikelolanya di kota kelahirannya (Yayasan Taallumul Huda Bumiayu) maupun di kampus perguruan tinggi 


Dimensi kedua lebih bernuansa politik, yakni keterlibatannya secara aktif dalam organisasi sosial keagamaan, serta persinggungannya dengan dunia politik. Ini khususnya berkenaan dengan jabatan nya sebagai Mentri Pendidikan Nasional serta posisinya sebagai kader dari salah satu partai politik.


Dimensi terakhir adalah mengenai unsur humanitas, yakni kisah persahabatan Yahya A. Muhaimin dengan dua tokoh besar republik ini, M. Amin Rais dan Abdurrahman Wakhid (Gus Dur). Berbagai moment of truth yang dipaparkan sungguh menegaskan makna luhur dari suatu persahabatan, suatu pelajaran tentang ketulusan dalam hubungan antar manusia, sebagaimana yang pernah pula ditunjukkan dalam persahabatan dua proklamator negri ini, Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta.


SEjarah kadangkala lebih nampak sebagai akumulasi dari sejumlah biografi.  Buku kecil ini sangat mungkin menjadi salah satunya, sekalipun sebagian yang dipaparkan masih merupakan proses sejarah yang belum final.

Bumiayu..Kotaku Tercinta

Setiap orang pasti bangga dan cinta dengan tanah kelahiran. Begitupun dengan saya. Sebagai warga asli keturunan Bumiayu, saya sangat mencintai tempat di mana kudilahirkan dan dibesarkan. Namun sejauh ini sejarah dan riwayat asal-usul kota Bumiayu masih sedikit sumbernya. Sungguh disayangkan. 

Bumiayu memang hanya kota kecamatan. Tidak terlalu sepi, tidak pula terlalu ramai. Keramaian dan kesibukan kotanya terlihat disepanjang jalan Diponegoro. Toko yang menjual beraneka kebutuhan. Dari mulai sembako, pakaian, mini supermarket, material hingga toko emas membuat jalanan tak pernah sepi. Dari pagi hingga jelang malam. 

Bumiayu nan sejuk dan asri, bisa kita nikmati dipinggiran kotanya. Membayangkan kesejukan dan keindahan nya, membuat selalu ingat dengan lagu ‘desa’ku. Lagu yang selalu kunyanyikan saat maju di depan kelas, saat duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. 

Desaku yang kucinta...Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda dan handai taulanku
Tak pernah kulupakan
Tak pernah bercerai
Selalu kurindaukan
Desaku yang permai


Menyanyikan lagu tersebut, membuat hati setiap orang ingin  pulang kembali  ke desa. Pun dengan saya. Tahun 1985 saya pergi meninggalkan Bumiayu untuk mencari ilmu di kota pelajar Bumiayu. 

Setelah hampir dua belas tahun menjalani kehidupan di kota Gudeg, sayapun kembali pulang di tahun 2000. Kepulangan saya tidak disengaja. Saat itu, liburan sekolah yang cukup panjang.  Namun saat  libur  telah usai, saat harus kembali sekolah, anak-anak nampak enggan. Ternyata mereka betah.. Mereka enggan balik ke Jogja. Akhirnya demi rasa ‘nyaman’ dan pertimbangan bahwa sekolah dan lingkungan di desa lebih baik untuk tumbuh kembang anak-anak, suami dan saya sepakat pulang ke desa.

Sejak saat itulah saya kembali ke desa. Back to Nature. Menjadi bagian Bumiayu kembali. Merawat, membimbing, membesarkan dan membersamai  anak-anak tumbuh kembang di bawah naungan langit Bumiayu yang sejuk dan asri.

Alhamdulillah, bisa membersamai anak-anak disepanjang usia sekolah mereka. Dari tingkat dasar hingga lanjutan atas di Bumiayu.  Membekali mereka berbagai ilmu. Baik umum juga ilmu agama. Dan menurut saya saya, lingkungan sosial masyarakat di Bumiayu, masih sangat mendukung memberi bekal yang baik untuk anak-anak. (Walau sekarang ini, terutama sejak wabah internet booming di Bumiayu, diperlukan ekstra waspada dengan pengaruh jelek kemajuan teknologi tersebut. Diharuskan ada komunikasi yang lancar dan baik antara anak dan orang tua. Insyaallah anak-anak siap tinggal landas dengan baik).

Kembali ke awal topik. Tentang asal mula nama Bumiayu. Apa dan Bagaimana mula sejarah Bumiayu? Di bukunya Badruzzaman Busyairi yang berjudul TIGA KOTA SATU PENGABDIAN (jejak perjalanan Yahya A. Muhaimin) BAB I.1. tertulis:

Kota ‘Modjokuto’(kota Pare) di daerah Kediri sebagaimana dideskripsikan Profesor Clifford Geertz dalam bukunya yang terkenal, The Peddlers and Princes, mirip dengan kota Bumiayu sekitar tahun 1950-1960-an. Suatu daerah dengan kulture santri yang kerntal dan nilai intrepreunership yang kuat hingga kini.

Bumiayu merupakan daerah yang subur, berada di lembah (Valley) Gunung Slamet, gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah. Lokasi Bumiayu terletak di sekitar 60 kilometer sebelah selatan Tegal, dan 39 kilometer sebelah utara Purwokerto. Seperti juga kampung-kampung lain di lereng gunung Slamet, sawah, ladang menghampar luasa, dikelilingi hutan jati yang memanjang bagaikan pagar raksasa dan diikat oleh sungai-sungai yang berkelok-kelok yang menghasilkan  gemerincik air yang merdu(halaman 4)

Ya. Pantaslah kalau udara disekitarnya terasa sejuk. Angin yang berhembus melewati bukit-bukit dan petakan sawah yang berbentuk terraze dan berundak-undak terlihat begitu indah. Sungguh  menyegarkan mata bagi siapapun yang memandangnya ( meskipun tidak lagi akhir-akhir ini, akibat kemajuan  teknologi dan zaman, keasrian Bumayu mulai tergerus: Udara tak lagi sejuk karena asap kendaraan yang membludak di jalanan Bumiayu).

Legenda yang mengungkapkan asal mula kampung Bumiayu. Dikisahkan, pada zaman dahulu ada seorang putri raja yang cantik jelita. Namanya Rantan sari. Banyak lelaki, terutama hidung belang, yang tergila-gila kepadanya, sehinga membuat sang putri merasa bangga tetapi juga ketakutan. Dia lari menghindari bujuk rayu para lelaki hidung belang. Namun nahas baginya. Dia terjatuh dan tubuhnya tertancap kayu hingga tewas. Untuk mengenangnya, kampung itu lalu di serbut Bumniayu, artinya bumi yang ayu atau bumi yang cantik(halaman 5).

Cerita yang bersumber dari mulut ke mulut itu memang tidak ada bukti tertulis yang menyakinkan, dan kini secara berangsur-angsur cerita dilupakan orang karena tidak memiliki tali  simpul kesejarahan, sehingga cerita itu tidak lagi menjadi bahan pembicaraan generasi yang datang kemudian. Mereka justru lebih melihat tanah yang ditempati itu sebagai karunia Allah: Tanah yang subur dan makmur, udara nan sejuk dan nyaman, serta masyarakat yang ramah dan tentram


Ketentraman dan kesejukan Bumiayu juga terasa dari masyarakatnya yang taat beribadah. Mereka selalu ruku dan sujud serta bersimpuh di masjid atau surau (Orang Bumiayu menyebutnya sebagai langgar) yang dibangun di hampir setiap lorong.

Alhamdulillah suasana seperti itu, masih ada hingga kini. Meski tak lagi sesuasana 'santri ' seperti dahulu.  

Cerita Tentang Ayah...(satu..).


“Saya capai, saya lelah, saya ingin istirahatl”, masih terngiang lirih suara ayah. Saat itu ayah  seperti orang yang sedang putus asa, menjalani kehidupan ini. Allah maha mendengar apa yang terlintas dalam benak hambaNya, Begitulah, beberapa hari kemudian setelah kata-kata itu terucap dari bibir ayah, ayahpun terbaring harus beristirahat untuk beberapa bulan.

.“Pa, kenapa? " sakit.....?”
Tanya ibuku cemas. Ayah masih mengerang  kesakitan.
Malam itu berkali-kali ayah bolak-balik ke kamar mandi. Seperti ingin  kencing, tapi ternyata tak bisa.

“ seperti ada yang menyumbat. …, aduuh...!!
Raut wajah ayah terus  menahan sakit.

Saya masih ingat hari itu, Jum,at 17 juni 2011 yang lalu, tengah malam sebuah panggilan telpon masuk ke nomer hapeku. Ayah sakit, tidak bisa kencing dan harus dibawa ke rumah sakit. Oleh dokter  jaga malam itu,  ayah harus menggunakan selang untuk bisa mengeluarkan air kencingnya. Ayah langsung pulang malam itu dengan tetap memakai selang. Dokter menyarankan, lima hari setelah itu harus di periksa lebih lanjut ke dokter ahli bedah.

Dari hasil foto roxen, terlihat ginjal sebelah kiri penuh dengan  batu-batu kecil seukuran telur puyuh. Di sepanjang saluran kencingnya pun, nampak benjolan-benjolan kecil. Kelenjar prostatnya juga membesar. . Kami shock, sangat terkejut. Terlebih Ayah.

Dokterpun menyarankan agar Ayah secepatnya di bawa ke rumah sakit yang lebih bagus, agar bisa ditangani.  Tidak boleh ditunda karena dikhawatirkan akan merusak ginjal Ayah dan bisa berakibat lebih fatal dengan ginjal Ayah. Dua hari setelah itu, setelah membicarakan berbagai kemungkina resiko penyakit bila tidak segera ditangani, juga persiapan dana untuk membiaya operasi, kami sekeluarga memutuskan membawa Ayah ke Yogyakarta. Karena kami semua berharap yang terbaik untuk Ayah.

Jum’at 1 Juli 2011, setelah dua hari masuk rumah sakit, tim dokter menyatakan kondisi kesehatan Ayah memungkinkan untuk dilakukan operasi. Jam 7 pagi itu, ayah masuk kamar operasi. Ibu menangis mengantar ayah masuk kamar operasi. Ayahpun demikian, gerimis di matanya tak bisa disembunyikan. Terbata mengucapkan permintaan maafnya untuk ibu dan anak-anaknya. Dan Alhamdulillah, operasi ginjal ayah berjalan lancar walau memakan waktu 1 jam lebih lama dari yang diperkirakan.

Jum’at 8 Juli 20011
Seminggu setelah operasi pertama, tim dokter harus mengoperasi ayah untuk keduakalinya. Kali ini silakukan operasi manual. Tiom dokter ada 15 dan tiga kantong darah dipersiapkan untuk mejaga segala kemungkinan. Diperkirakan setelah operasi harus melewati kamar ICU terlebih dahulu. Ini artinya opearasi yang dilakukan adalah  operasi besar( itu kata dokter...).

Di luar kamar operasi kami yang menunggu dengan was-was, khawatir dan sejuta perasaan lainnya. Kami saling menguatkan dan bersama-sama berdoa sepenuh hati.  Setiap detik, setiap menit doa kami  tak pernah berhenti mengalir untuk keberhasilan operasi . Alhamdulillah, setelah empat jam menanti dengan cemas, jam 11 siang, Ayah keluar dari kamar operasi. Kesadaran ayah belum pulih. Dibelakangnya, seorang suster membawa sebuah kotak kecil yang berisi18 buah batu seukuran biji salak.

Kami tercengang. Kami tidak menyangka bisa sebanyak itu, batuan yang telah menghuni di ginjal ayah sebelah kanan. Batuan tersebut serupa batuan kali/sungai berwarna hitam keputihan yang sangat keras. Sebanyak itukah batuan berdiam tanpa dirasakan keberadaanya oleh Ayah selama ini? Bahkan tim dokter yang meng’operasi ayah menyatakan, baru kali ini ada pasien yang menyimpan batu sbanyak yang diderita Ayah. Bahkan tim dokter mengambil sampel batu untuk di riset lebih lanjut...(2 batu...)

Tulisan di atas, tulisan lama. Tak sengaja saya temukan saat mencoba buka-buka file lama. Saat ini alhamdulillah ayah sudah sehat. Meski setahun lalu ayah sempat terkena serangan jantung. Lain kali saya akan coba menuliskannya . Saat ayah berjuang dan bertahan untuk hidup. 

Sunday, May 11, 2014

Indahnya Kebersamaan...^_^


Bismillahirrohmanirrohiim..............

Manusia ditakdirkan unik, beda, tidak sama walaupun terlahir sebagai pasangan kembar.Selalu ada yang membedakan satu sama lainnya. Pelangipun terlihat indah karena perbedaan warnanya. Melodipun terdengar sangat indah meski memiliki anak tangga nada yang berbeda. Itulah kehidupan di dunia ini. Allah menciptakan bumi dan seisinya, langit, gunung,  samudera, angkasa raya, binatang, tumbuhanan  dan manusia dengan penuh perpedaan. Ya.  Beda sudah menjadi sunahtullah. Seribu kepala seribu pemikiran pula.
Ibarat sapu lidi. Tak ada artinya kalau bekerja sendirian.





Demikian dengan kita. Semua akan menghasilkan lebih baik bila dikerjakan bersama. Saling membantu sama lain. Seorang Bos tidak bisa menjalankan perusahaannya seorang diri. Dia butuh karyawan lain. Dari staff sampai OB(Office Boy).  Walau mengemban amanat yang berbeda-beda, satu dengan yang lain, harus saling menghormati, saling membantu dan saling lainnya. Insyaallah perusahaan akan maju. Kemajuan perusahaan akan dinikmati hasilnya oleh semua karyawannya. Intinya dikerjakan bersama untuk bersama. Tidak boleh ada yang merasa paling, super, nomer satu, paling berjasa dan paling-paling lainnya.

Karena masing-masing karyawan menyumbangkan andilnya masing-masing sesuai dengan jabatan yang diberikan kepadanya. Semua berjasa, semua penting, semua memiliki peran yang sangat besar untuk mewujudkan cita-cita perusahaan.

Indahnya kebersamaan. Bila tak ada yang merasa tersakiti dan tertekan satu sama lain.  Senyumku senyum semua. Tawaku tawa bersama. Dan sakitku akan dirasakan pula oleh yang lainnya. Hingga rasa sakitpun akan berkurang karena terbagi dengan banyak orang.

Andai saja.....,andai saja kita memiliki semangat bekerja seperti orang Jepang (jam bekerja di Jepang 12-14 jam). Jam-jam kerja benar-benar digunakan untuk bekerja tanpa diselingi canda, tawa, gurau, ngegosip dan lain sebagainya.  Sementara di Indonesia yang jam kerja  hanya  8 - 10 jam sehari , itupun banyak dari kita yang belum optimal. Di antara waktu kerja, kita selingi dengan bersenda gurau, berselancar di dumay dll.  .  

Canda dan gurau boleh. Yang penting tidak berlebih dan tidak  menimbulkan kesalahpaham. Bahkan kalau bisa, menambah semangat bekerja. Gurau selebihnya, hanya  ada dijam istirahat. Stress bekerja? Tidak lagi. Karena pekerjaan dikerjakan dengan hati ikhlas. Di nikmati karena menyukai pekerjaannya. Terlebih dengan iman di dada. Kita bekerja untuk ibadah. Untuk menggapai ridho Allah. Untuk menjemput rizqi-NYA.

Semoga apa yang saya tulis, memotivasi saya sendiri khususnya dan teman-teman yang sempat membaca tulisan saya ini untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi dalam bekerja. Mengutamakan kedisiplinan, kebersamaan dan keikhlasan. Semua karena Allah. Allah yang akan menilai kerja kita, bukan karena Bos, bukan pula ingin kenaikan pangkat/gaji semata
.

Ah. Indahnya Bekerja. Bekerja Bersama. Bersama Bekerja..
Semua karena Allah..

Saturday, May 10, 2014

Agar Suami Setia....Sampai mati



Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki,kenapa cinta tidak

bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

Selintas aku membaca status Asma Nadia di Fesbuk. Dan kali ini aku tertarik untuk membaca komen-komen dari penulis yang karya-karya selalu best seller  internasional tersebut. Soalnya tadi pagi di kantor teman-teman juga sedang ramai membicakan thema yang sama.  Kenapa sih…kebanyakan para suami setelah sukses di karir akan mudah tergoda dengan perselingkuhan?  

Kulihat ada ribuan orang  yang ngelike, dan ratusan yang mengomentarinya. Aku tertarik  untuk membaca komentar-komentarnya. Ada yang mengomentari,
karena laki-laki mata keranjang", "sudah kodratnya", "fitrah laki-laki", "sunatullah", karena jumlah perempuan lebih banyak dan lain-lain, dan sejenisnya. Ada lagi komen yang bikin aku tersenyam-senyum, katanya:  karena laki-laki kadang suka iseng sama perempuan , dan si perempuan nanggepin...jadi ya terjadilah perselingkuhan. Ada yang lagi yang mengomentari, karena nikah itu ibadah jadi yang istrinya baru satu nambah satu, nambah dua dst. 

Atau komen dari para lelaki: ....katanya tidak semua laki-laki,  karena cinta aku masih bertahan pada satu perempuan. banyak juga perempuan yang tidak setia...dll, dan sebagainya. Sampai di sini, aku belum membaca komen balik dari si penulis  status mba Asma Nadia.  Akhirnya karena jaringan  internet yang lelet, aku tak bisa merampungkan ratusan komen  berikutnnya.

 Namun yang jelas...status mba Asma  tadi serupa dengan diskusi  tadi pagi di kantor saat istirahat. Yakni banyaknya kaum pria  atau lelaki, atau suami yang banyak terjerumus ke lingkaran perselingkuhan  bahkan tega  menikah untuk kedua , ketiga, ke empat kali....saat mereka mulai menapak  di atas tangga kesuksesan. Kenapa? Itu pertanyaan dari para istri. Apa ada yang salah dengan para istri?  Mungkin kurang melayani-kah, tidak lagi cantik-kah,  karena istri yang tidak bisa memberi keturunan, istri yang menjadi super sibuk  arisan dan  karena- karena  lainnya? Bisa jadi.

Tapi tidakkah para suami  juga berfikir bahwa seperti itu jugalah keadaan  dirinya bila ia bercermin? Dan sukses yang diraihnya tak lepas dari dukungan sang istri?  Meskipun secara fisik, ada sebagian kaum lelaki, yang semakin berumur , nampak terlihat semakin perkasa( padahal cuma penampakan...hehe)
Namun janganlah keadaan tersebut dijadikan dalih  kaum pria untuk menarik perhatian dan simpati  lawan jenisnya. Apalagi  dengan kondisi finansial yang berlebih, kerap pula berlebih memberi hadiah ‘sesuatu’ kepada wanita lain.  Bahkan  dengan dalih menghalalkan hubungan, mereka memadu sang istri.
 Lupakah  bagaimana awal –awal perjuangan menggapai kesuksesan bersama sang istri? Teganya...teganya...!!!


Tulisan ini mengingatkan diri, agar saya khususnya bisa menjaga hati. Senantiasa  memberi perhatian lebih, pelayanan dengan sebaik-baiknya bahkan kalau bisa selalu
meningkatkan pelayanan kita pada pasangan…Agar pasangan saya selalu setia. Agar pasangan saya selalu merasa ingin pulang. Karena di Rumahlah sumber kebahagiaan hidupnya sampai Allah memanggil kembali kepada-NYA..

Wednesday, May 7, 2014

DARURAT ANAK NASIONAL......!!


Sebelum ini saya biasa aja kalau mendengar kata PREDATOR. Karena yang saya tahu Predator hanya ada dunia hewan, yang artinya pemangsa hewan lain yang posisinya lebih lemah.  Namun kini hampir setiap hari, pemberitaan-pemberitaan di banyak media terutama telivisi selalu diwarnai maraknya kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak. 

Setiap hari bermunculan korban baru. Usianya beragam. Mulai usia balita hingga anak-anak jelang remaja. Modusnya semakin mengerikan. Syetan merajalela, merasuki orang dewasa yang imannya tipis. Hingga tanpa belas kasih memangsa anak-anak. Dan yang lebih memprihatinkan, dari banyak kasus yang terungkap akhir-akhir ini,  pemangsa atau predatornya adalah orang-orang yang deket dalam keseharian. Entah itu guru ngaji, guru di sekolah, paman bahkan orang-tua yang harusnya menjadi malaikat pelindung hati-hati kecil mereka...Astaghfirullahal adziem.

Dunia semakin dekat dengan Qiamatkah....?

Bahkan dalam suatu wawancara di televisi ketua kpai (Ketua Perlindungan Anak Indonesia) mengatakan bahwa tahun 2014 dinyatakan sebagai DARURAT NASIONAl untuk anak-anak. . Hal ini dikarenakan keselamatan anak-anak, bukan hanya fisik tapi juga jiwa, bahkan masa depan anak-anak banyak yang hancur karenanya. Kuncupnya tak sempat mekar. Apalagi berkembanng? Baru tumbuh tunaspun sang predator tega memansanya.

Dalam hati bermunculan berjuta  tanya. Kenapa itu bisa terjadi? Salah siapa ya Allah...?
Sangat tidak bijaksana bila kita saling melempar tudingan siapa yang salah dan siapa yang bertanggung jawab. Yuuk....kita saling bebenah diri,  mengintropeksi diri.



Jangan  saling menyalahkan. Negara yang salah karena kurangnya perhatian pada pendididkan yang mengacu pada moral, etika dan agama, hingga menjadikan  moral di kalangan anak-anak yang tipis? Ataukah pemberian hukuman kepada penjahat kejahatan pada anak yang masih terlalu ringan hingga tak membuat mereka jera? Lingkungan masyarakat yang  cuek...(bebek..)? Ataukah Pesatnya laju teknologi yang tanpa didasari ilmu dan agama membuat masyarakat kurang  bisa memfilter dan menyaring informasi yang masuk?  Mungkin saja. Terlebih wabah internet yang semakin merajalela di masyarakat. Bunet (Buta Internet) atau Gapnet (Gagap Internet) yang sedang ramai diklankan di telivisi. Siapapun bisa melanglang dunia maya. Tanpa batas usia. Dari anak-anak hingga lansia. Diharapkan tahu Internet.


Namun karena informasi yang masuk kerap tanpa ada saringan ( dasar-dasar  agama yang kuat)  menyebabkan sisi-sisi negatip mendominasi pikiran. Akibatnya yang nyata, anak-anak menjadi korban kejahatan dunia online. Game online yang mencandu. Menjadikan mereka lupa makan, malas belajar, mbolos sekolah dll. Pornografi merusak moral. Anak-anak yang bau kencur dihadapkan dengan polah orang dewasa yang menjerumuskan.  Mengobral aurat, sex bebas dengan mudah mereka akses.
Dampaknya kini anak-anak menjadi korban. Banyak anak yang dewasa sebelum waktunya, sehingga layu tanpa sempat berkembang. Dengan iming-iming lembaran rupiah ratusan anak menjadi korban kejahatan sex orang dewasa. Dengan ketampanan palsu yang nampak di profile, banyak remaja ABG yang di culik, diperkosa bahkan dibunuh oleh teman jejaring sosialnya.


Innalilahi Wainnailahi rojiun.

Tulisan ini bermaksud untuk mengingatkan diri saya sendiri khususnya, dan teman-teman yang memiliki buah hati. Mereka cahaya mata. Mereka paling berharga dari semua harta dunia. Mereka adalah investasi termahal untuk akhirat kedua orang tuanya. Yuk...kita bebenah diri. Yuk... Kita saling intropeksi diri dalam membersamai anak-anak selama ini. Yuuk...kita berikan yang terbaik untuk anak-anak. Agar kedepannya kejahatan terhadap mereka dapat diminimilasir.


Kita mulai dari rumah kita masing-masing. Kita ciptakan rumah yang penuh kehangatan, penuh canda dan tawa, komunikasi yang indah, sehingga anak-anak merasa hanya RUMAHlah tempat yang paling dirindu untuk didatangi. Bukan di Warnet, Mall, Taman Bermain, rumah teman atau tempat lainnya.  
Dimanapun mereka berada, kemanapun mereka pergi, Mereka selalu merasa ingin PULANG ke rumah. 

HOME SWEET HOME.
BAITI  JANNATY.


Sunday, May 4, 2014

WORKAHOLIC


Tadi siang di kantor aku sempatkan buka blog suaminya mba Istikuma, mas Dony Firmansyah sang pakar slide  Indonesia. Belakangan hari setiap kali berselancar di dunia maya, selalu ada yang mendorong untuk mengintip blognya. Bukan hanya blog, setiap kali buka fb-pun status dari mba Isti maupun mas Dhony selalu menarik perhatian mata saya. Walau jarang memberi komen, tapi kerap nge-like. Ada kejujuran, keikhlasan dan apa adanya di setiap statusnya. Setiap jejak pemikirannya terekam baik di sana. Tentang rasa cinta terhadap keluarga, ilmu, negara dan agama.

Terlebih di blognya mas Dhony. Caranya berbagi ilmu supaya lebih bermanfaat kepada banyak orang, memaksa saya untuk berdecak kagum. Dan membuat saya mengangkat dua jempol untuknya. Keahliannya di bidang ‘Slide’ ia sebarkan luaskan. Meskipun saya harus jujur, sampai sekarang saya sendiri tak tahu banyak tentang slide...(bingung euhg...). Apa ada manfaatnya untuk ibu rumah tangga  seperti saya? Satu pertanyaan untuk suaminya mba Kuma...hehe ^_^

Selain berbagi ilmu tentang Slide, abinya mba Kumiko dan Isam chan,  juga  berbagi inspirasi tentang tema-tema keseharian. Setiap kali membacanya saya selalu  terinspirasi dan termotivasi untuk menjalani hidup lebih baik....Alhamdulillah....Allah memberi kemudahan hati ini untuk  menerima virus positip dari browsing di internet... .^_^

 Salah satunya, sesaat setelah membaca tulisan yang berjudul “Menulislah...anda akan menjadi hebat....saya tergerak kembali untuk kembali menulis.  Diungkapkan bahwa  Menulis dan membaca sama besar manfaatnya. Dengan membaca kita akan mengenal dunia, sebaliknya dengan menulis  Dunia akan mengenal kita. Hehe. Yang pasti tulisan yang bermanfaat ya. Bukan sembarang tulisan yang sia-sia terlebih tulisan yang menjerumuskan pada kebinasaan. Na’udzubillah.

Bagi saya menulis memang masih harus  dipaksa. Namun meski awalnya dipaksa, paragraf pertamanya harus mengeja huruf demi huruf, karena tak tahu apa yang harus ditulis saya terus  beusaha merangkainya menjadi kalimat. Menghapus, mendelet bahkan mengulang berkali-kali untuk mencari kata dan kalimat yang pas, nyaman untuk dibaca orang lain menjadi tantangan besar. Terlebih mencari tema apa yang mau saya tulis, juga butuh perjuangan tersendiri....

yang pastinya sih... setiap hari saya harus menyantap  dan melahap banyak karya atau tulisan yang bertebaran di dunia maya.  Dari banyak blog yang saya ikuti, Haltenya mba Riawani dan blog mba Leyla Hana kerap saya sambangi, selain blog milik suaminya mba Kuma tentunya. Karena dengan membaca banyak tulisan orang lain,  menyemangati saya untuk bisa  jadi seperti mereka...(hehe...mimpi kali ya...^_^) Dan setahu saya makanannya para penulis terlebih pemula seperti saya, ya dengan banyak mambaca. Membaca akan menambah perbendaharaan kata menambah ilmu dan wawasan. Dengan demikian selalu ada ‘sesuatu’ yang bisa kita tulis.

Seperti hari ini saya termotivasi menulis setelah membaca blognya mas Dhony yang berjudul ‘WORKAHOLIC’ atau Gila kerja. Jam kerja orang Jepang antara 12-14 jam kerja sehari…(edan tenan…). Tidak heran Jepang menjadi bangsa yang maju dan besar karena workaholicnya.  Sisi negatipnya adalah tingginya tingkat STRESS  di negri  OSHIN ini, tak perlu kita ikuti.

Workaholik menurut saya harus dimulai dari diri sendiri. Terlebih bagi kita kaum muslim yang mana harus bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Khadis nabi untuk jangan  sia-siakan waktu, manfaatkanlah segera :

1.       Waktu muda sebelum datangnya tua
2.       Waktu sehat sebelum datang sakit
3.       Waktu kaya sebelum datangnya miskin
4.       Waktu luang sebelum datangnya sempit
5.       Waktu hidup sebelum datangnya mati

Waktu adalah pedang. Waktu akan menebas siapapun yang tidak bisa menggunakan dengan sebaik-baiknya. Atau kata seorang pelajar penjaja dalam suatu acara di telivisi yang saya lupa harinya. Ia mengatakan Waktu lebih berharga dari berlian.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ashr (103) ayat 1-3, Allah SWT berfirman yang artinya sebagai berikut::
1.       Demi masa.
2.       Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3.       Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Intinya jangan menunda-nunda pekerjaan. Apa yang bisa kita kerjakan saat ini ya langsung kerjakan…! Jangan menunda hingga keesokan harinya.  Meminimilasir hal-hal yang negatip, seperti menonton acara televisi yang sifatnya hura-hura, bercanda dan bersendau gurau kelewat batas hingga lupa waktu. Itu yang sedang saya upayakan. Itu juga yang selalu saya ingatkan pada anak-anak, untuk menghargai waktu.  Saya sering mengatakan pada anakku:
“Anakku…Jarum jam terus berdetak..bergeser detik demi detik. Kau jangan diam terpaku. Kerjakan sesuatu entah dengan membaca, mengerjakan pr sekolah dan lain-lain..”.


Salam Cinta

04 Mei 2014 jam 23.00