Baca juga yang ini

Alhamdulillah...satu tahap perjuangan telah dilalui...

Rasulullah bersabda :"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fi sabilillah hingga ia kembali.(HR.Muslim) Jum'at...

Tuesday, January 27, 2015

Wahai ibu...

"Wahai Ibu....pintu yang mana lagikah yang akan terbuka jika seandainya pintumu telah tertutup?'
Sepenggal kaimat diatas akhir-akhir ini„ senantiasa membayangi disetiap langkahku. Sepenggal kallimat diatas seolah mengingatkan kepada saya...entah untuk waktu berapa lama lagikah saya memiliki seorang ibu juga ayah. Karena bisa saja...saya sebagai seorang anak yang terlebih dahulu dipanggil oleh yang kuasa. Bukankah umur adalah rahasia Ilahi? Tidak memandang umur. Usia muda tidak menjamin akan hidup lebih lama dibanding yang telah berumur.

Dan kalau saya merasa takut kehilangan sosok ibu, orang yang selama ini selalu ada dan selalu menguatkan langkahku bukankah itu hal yang sangat teramat wajar? Dan kalau untuk itu saya berusaha mati-matian melakukan apa yang bisa lakukan, memberi apa yang bisa beri adalah hal yang maha wajar juga?

Walaupun untuk itu saya harus pintar-pintar membagi waktu. Karena bagaimanapun meski saya adalah seorang anak dari ibu saya, tapi saya juga adalah seorang istri dimana disetiap langkah dan gerak saya harus ada ridho suami.  Saya ingin  membersamai ibu di sela-sela waktu saya membersamai suami dan anak-anak.

Dua puluh empat jam waktu dalam satu hari. Dan pastinya tugas pertama dan utama saya adalah melayani sebaik-baiknya segala urusan suami dan anak-anak. Dari mulai urusan beres2 rumah, memasak, mencuci dan lain-lain dan sebagainya.

..........................................................................................................................................
 Namun karena aku merasa belum bisa membalas semua pengorbanan, kasih sayangnya...jasa, dan perih pahitnya membesarkan aku dari mulai janin....menjadi bayi, kanak-kanak ..remaja hingga kini aku menjadi seorang ibu bagi ketiga anak-anakku. 

Sungguh, sangatlah besar hutangku padamu. Sangatlah malu diri ini untuk membandingkan apa yang telah kulakukan terhadapmu..dibanding semua yang telah kau beri kepadaku. 

Ibu...dari dulu hingga sekarang kau tetap menjadi perempuan tertangguh dalam hidupku. Walau kini..kau mulai lemah dan semakin lemah karena usia dan ujian sakit dari-Nya...tetaplah menjadi perempuan tertangguh dalam mengeja dan meraba kehidupan yang ada di depanmu. Namun percayalah Ibu..Allah sangat menyayangimu..sakit yang kau rasa, adalah penggugur dosa-dosamu. Maka..bersabarlah ...disampingmu, ada ayah yang akan selalu setia mendampingimu....ada doa anak-anakmu yang senantiasa mengalir untukmu... 

"Ya Allah...Ampunilah dosa ibu....(juga bapaku) Dan sayangilah mereka...sebagaimana mereka menyayangiku semenjak aku kecil.." Aamiin Ya Rabbal Alamiin

Tuesday, January 13, 2015

Zikir Hati....@

Membaca Menjadikan-ku Menjadi diri sendiri
Umur boleh terus bertambah... Rambut di kepala boleh mulai memutih
Kulitpun boleh tak lagi segar dan cerah
sindrome "manopause"-pun  boleh mulai membayang hari-hari terakhir
Langkah kaki-pun...mungkin tak lagi bisa selincah dulu

Namun syukur selalu kupanjatkan...
Masih bisa kunikmati segarnya H2O
Masih bebas kuhirup CO2
Indahnya pelangi, warna-warni bunga
Aneka ciptaan Ilahi
Masih bisa kueja walau kadang terbata

Mengeja...membaca...Mengeja ..membaca, Membaca lagi
Harus senantiasa kubiasakan
Membaca buku...membaca ayat-ayat-Nya yang tersirat dan tersurat
Bahkan membaca pahit dan getirnya pengalaman diri
dan penglaman  hidup orang lain

Pengalaman diri kujadikan cambuk untuk bisa melangkah lebih baik
Pengalaman orang lain kueja...berharap siap bila suatu saat
tergilir oleh ujian yang sama
Ujian hidup yang akan selalu ada dalam kehidupan manusia

Ya Allah Ya Rabbi...
Jadikan hati ini senantiasa berzikir
Kecenderungan hati untuk selalu memelukmu diperrtigaan malam
Bersabar dalam kesempitan

Ya Allah Ya Rabbi
Bukan hamba takut akan neraka-Mu yang pasti ada
Bukan pula hamba takut tak masuk surgamu
Karena segala yang Engkau kehendaki
Pasti akan terjadi meski aku tidak menginginkannya

Ya Allah Ya Rabbi
Berilah aku kemampuan bertobat hingga aku
Mampu bertobat dengan benar
Ampunilah hamba yang telah diliputi dosa

Ya Allah Ya Rabbi
Ambillah nyawaku dengan membawa agama Muhammad
Bersihkan aku agar dapat menghadap-Mu kemudian













Monday, January 12, 2015

Zikir Hati...@

"Tiap-tiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan Kami menguji kamu sekalian dengan kejadian yang buruk dan yang baik sebagai ujian. Dan kepada Kami kamu sekalian akan dikembalikan"
(Al Anbiya 35)

"Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, kecuali sedikit dari mereka yang usianya lebih dari itu"

“Ya Allah hidupkan aku selama kehidupanku lebih baik bagiku,dan Wafatkanlah aku jikalau kematian itu baik bagiku.”


usia bertambah, umurku semakin berkurang di bumi Allah ini





“Ya Allah Jadikan pendengaran dan penglihatanku senantiasa sehat

dan kuatkanlah seluruh anggota badanku , kemudian jadikanlah itu semua tetap seperti itu hingga tibanya kematian”.

Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang. Dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dalam kematian yang akan tiba-tiba datang." (Ibnu Mas'ud r.a.).

Malam itu panjang, maka jangan pendekkan dengan tidurmu dan siang itu begitu terang maka janganlah kau menjadikan gelap dengan dosa-dosamu
(Yahya bin Muadz)
Muamalah
“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat”.(HR.Muslim No 2699)



"Seorang Muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan,
kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan
hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat
(penebus) dari dosa-dosanya (H.R. Bukhari & Muslim)"


Sunday, January 11, 2015

Zikir Hati

"Sebiji atom amalan-amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriah sebesar gunung".
"De.."
Senyum adalah amalan sederhana yang setiap saat bisa kita amalkan. Walau sepertinya kecil dan sederhana..tapi berbuah manis dan indah.
"De.."
Kau selalu berusaha membuat orang Lain bahagia..
Kau kerap berkurban rasa demi kenyamanan orang lain..
De..
Kami tahu..kau kerap menahan rasa sedih..
Kerap memendam ingin "sesuatu"
Bahkan tak jarang
Kau tahan tetes airmatamu
Untuk membuat kami (ma & pa) tak berduka
De..
Kami tahu semuanya..
Kami tahu upayamu
Usahamu..perjuanganmu..
Terlebih Allah yang maha melihat
Allah yang maha mendengar
Ayat-demi ayat yang selalu kau ba├ža
Asmaul khusna yang senantiasa
Kau lafalkan..
jadilah muslimah sejati..
ITU yang kami doa selalu untukmu..
selalu setia dengan ayat-ayat-Nya

Thursday, January 8, 2015

Upayaku menjaga cinta

Cinta suami senantiasa kujaga
Apapun selalu kuusahakan
Bahkan
Bagi orang lain..mungkin terlihat kuno
Atau seperti seorang istri yang tidak leluasa
Dalam melangkah Dan berjalan diatas bumi Allah
Tidak demikian adanya 
Aku hanyasedang meghindar
Laknat malaikat..dan seluruh penghuni Alam lainnya..
Terlebih laknat Allah SWT
Terhadap seorang istri yang durhaka pada sang suami
Aku inginkan hanya satu
Disetiap ucap dan lakuku
Ada ridho suami
Hingga bila disuatu waktu dan suatu tempat
Baku kembali menghadap Ilahi
Suami dalam keadaan ridho dan
Ikhlas melepasku..
Hingga aku bisa
menghadap-Nya dengan tenang..
Ya Allah ya Rabbi..
Aku mencintainya karena Engkau
Maka kumpulkan kembali aku kelak..... di taman Firdaus-mu
Dengan suami dan anak-anak kami
Juga Bersama orang-orang yang Kau cintai
Sang Kinasih....
Baginda Nabi Muhammad saw..Sahabat-sahabat beliau juga Muslim Dan muslimah sampai akhir zaman
18 rabiul awal 1436 H

Wednesday, January 7, 2015

FIQIH CINTA....(8)

Adalah Salma Ummu Rafi', radhiyallah anha,
yang sejak awal kemunculan Cahaya Islam, menahbiskan dirinya dan mendedikasikannya untuk menjadi bagian hidup Sang Kinasih: ia bangga sekali dipanggil dengan sebutan Khadimah Rasulillah, ataupun Maulah Rasulillah, ataupun Maulah Sayyidah Khadijah.

Ya, beliau adalah seorang yang banyak sekali membantu keluarga Sang Nabi.

### 

Hari ini, Abu Jahl sudah melewati batasnya. Ia memaki-maki, mencaci, mengucap semua sumpah serapahnya pada Sang Nabi. Kekesalannya karena tak ada Nabi yang terpilih dari Bani Makhzum, membuat Abu Jahl begitu membenci Bani Mutthalib, terkhusus Sang Nabi.

Tapi, inilah Sang Nabi; beliau hanya diam saja mendengar caci maki Abu Jahl. Beliau bukan seorang yang membalas keburukan dengan keburukan--beliau lebih suka memaafi orang yang tak mengerti tentang beliau.

Hanya, Ummu Rafi' kali ini melihat semua kejadian itu. Ia sangat sakit hati melihat Sang Kekasih dicaci maki. Ia marah sekali. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Sedangkan ia hanya seorang wanita. Sedangkan Abu Jahl adalah seorang petarung Quraisy.

Di ujung jalan sana, Hamzah yang hampir seumuran Nabi, pulang dari kebiasaannya berburu di padang pasir. Ia masih membawa busur panahnya. Wajah lelahnya tak menutupi kegagahan Pamanda Nabi itu. Ya, Hamzah dikenal sebagai seorang petarung kuat Quraisy, selain sebagai pahlawan, dan seorang yang sangat terpandang.

Tak melewatkan kesempatan, Ummu Rafi' pun segera berlari-lari kecil menuju Hamzah--ia mendapat ide cemerlang.

"Wahai Hamzah!" panggilnya.
Hamzah pun berhenti, dan menolehkan pandangannya pada Ummu Rafi'. Ah, ini adalah seorang yang sangat dekat dengan kemenakannya, Muhammad. "Ada apa, wahai Salma?" 

Ummu Rafi' pun bercerita tentang semua perlakuan Abu Jahl dan berkata, "apakah kau rela jika Muhammad harus diperlakukan seperti itu hanya karena keyakinannya untuk menyembah tuhan yang Esa, tuhan nenek moyangmu Ismail dan Ibrahim?" 

Tanpa harus pulang ke rumah, Hamzah pun terlecut emosinya--Muhammad adalah kemenakannya! Ia mencari-cari Abu Jahl.

Dan kebetulan sekali, Abu Jahl sedang duduk bersama beberapa orang di dekat Kakbah. "Abu Jahl!" panggil Hamzah.
"ah, Hamzah! Selamat datang! Ada apa?" sambut Abu Jahl.

Tanpa basa-basi, Hamzah segera mendatangi Abu Jahl dan memukul kepalanya dengan busur panahnya itu! 

Abu Jahl pun segera terjungkal, dan kepalanya terluka parah. Parah sekali! Hamzah lalu berkata, "Beraninya kau mencaci maki Muhammad, sedangkan aku meyakini agamanya! Aku berkata seperti apa yang ia katakan! Balaslah aku jika kau berani!" 

Orang-orang yang bersama Hamzah hampir saja bersegera berdiri ingin membalas Hamzah. Tapi Abu Jahl mengerti besar kekuatan Hamzah, "hentikan! Kalian tak akan bisa mengalahkannya. Aku memang bersalah, mencaci maki Muhammad, tadi." Dan Abu Jahl pun mundur--ia lebih mencari selamat.

Lalu, Hamzah pun segera berlari menuju Rasulullah, dan meresmikan keyakinan barunya: memeluk Islam.

Ya, Keislaman Hamzah, Singa Allah itu, adalah berkat Ummu Rafi'.

### 

Ummu Rafi' adalah seorang yang selama ini membantu proses persalinan Khadijah saat melahirkan seluruh putra dan putri Sang Kinasih. Ummu Rafi' pula yang menangani Fathimah saat melahirkan Alhasan dan Alhusain. Dan Ummu Rafi' pula yang menangani kelahiran Ibrahim, putra Nabi dari Mariyah al Qibtiyyah.

Saat itu, Nabi sedang bersama para shahabatnya di Masjid Nabawi, ketika Mariyah akan melahirkan. Ummu Rafi' pun menangani dan membantu proses kelahirannya.

Dan hari itu, Ibrahin putra Muhammad lahir!

Ummu Rafi' mengerti, sudah lama sekali Sang Kinasih mendambakan seorang putra, setelah putra lainnya meninggal di Makkah. Ummu Rafi' yang dapat merasakan benih bahagia dalam hati Nabi, pun segera mendatangi suaminya, Abu Rafi', menyuruhnya segera memberitahukan Sang Nabi.

Abu Rafi' pun segera berlari, menuju masjid Nabawi dan memberitahukan kabar gembira itu. Wahai Nabi, engkau kini memiliki putra!

Dan seperti yang dirasakan Ummu Rafi', Nabi pun segera sangat berbahagia hari itu. Wajah beliau bersinar cerah menyambut kelahiran Sang Putera tercinta.

Dan Nabi pun menghadiahkan seorang budak pada keluarga yang selalu setia membahagiakan Nabi itu, Abu Rafi dan istrinya, Ummu Rafi'.

### 

Hari itu, Salma mendatangi Sang Nabi. Ia ingin mencurahkan kekesalannya; Abu Rafi', suaminya yang ia cinta itu, baru saja memukulnya.

Sang Nabi pun segera memanggil Abu Rafi' dan berkata, "Apa masalahmu dengannya, wahai Abu Rafi?" 
"Dia begitu menggangguku, wahai Nabi," jawab Abu Rafi'.

Sang Nabi pun segera bertanya pada Ummu Rafi, "Apa yang kau lakukan padanya, wahai Salma?" 
Dan Ummu Rafi pun segera jujur dengan kisahnya hari ini, "Wahai Rasul, aku sama sekali tidak mengganggunya, kok. Hanya saja, ia tadi batal dipertengahan shalatnya, dan aku pun menasehatinya, 'Wahai Abu Rafi, Nabi menyuruh kita berwudhu jika kita batal!' lalu tiba-tiba saja ia memukulku..." 

Mendengarnya, Nabi pun tertawa, membela Ummu Rafi dan segera berkata, "Wahai Abu Rafi, ia tidak menyuruhmu kecuali kebaikan." 

### 

Dan anak-cucu Ummu Rafi pun selalu berbangga dengan apa yang telah dilakukan neneknya, sebagai Khadimah Rasulillah. Bahkan dengan segala kebanggaan, mereka selalu mengkisahkan pada ummat Islam, bahwa selalu saja saat Nabi terluka di tubuhnya, pasti beliau akan memanggil Ummu Rafi' untuk mengobati beliau, menaruh ramuan daun pacar yang bisa segera menyembuhkan luka Nabi. 

Kisah yang selalu dibanggakan oleh Ummu Rafi dihadapan semua orang yang mendatanginya.

### 

Fikih Cinta selalu mendorong seseorang untuk mencari cara membela dan melindungi orang yang dicinta, bagaimanapun caranya.

Fikih Cinta pun membuat seseorang untuk mau mencintai seorang yang dicinta, dan semua orang yang memiliki hubungan khusus dengannya. 

Fikih Cinta, membuat seseorang mencintai semua orang yang dicintai oleh orang yang dicinta.

Fikih Cinta pun membuat seseorang akan memahami setiap detail kebahagiaan orang yang dicinta.

Fikih Cinta bahkan mengajari para pecinta untuk selalu berbangga dengan apa yang telah ia lakukan dan persembahkan untuk orang yang dicinta, dan menjadikan segala hal yang ia lakukan sebagai kebanggaan yang harus selalu diwariskan dan diajarkan pada keluarga dan seluruh ummat Islam.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

@bangmiqo 
@Makkah, Rabiul Anwar 17, 1436

 Hhttps://www.facebook.com/asheeq.mustafa?fref=ts

FIQIH CINTA-nya Bang Miqo

Fikih Cinta #7: Bilal ibn Rabah
Bilal ibn Rabah, radhiyallah anhu, shahabat yang resmi dianggap sebagai orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan budak belian itu, harus menerima kenyataan pahit ketika Rasulullah meninggal. Ia berkata pada dirinya sendiri, "aku hanya mengumandangkan adzan untuk Rasulullah… bukan untuk yang lainnya."

Dan ia pun memutuskan untuk pindah dari Madinah menuju Syam.

###

Di suatu pagi, Rasulullah memanggil shahabat setianya itu, dan berkata, "Wahai Bilal, bagaimana kau mendahului aku masuk surga?"

"Ada apa wahai Rasulullah?" ia terkejut dengan apa yang dikatakan Sang Nabi.

"Ya… semalam aku memasuki surga, dan aku mendengar suara gesekan sandalmu di depanku," jawab Sang Nabi.

"Wahai Rasulullah, aku tak pernah sekalipun batal wudhu, dan jika batal aku pun akan segera berwudhu. Dan setiap kali berwudhu, aku pasti shalat sunnah dua rakaat," jawab Bilal. Ia membuka ibadah yang selama ini tak pernah diketahui oleh seorangpun, bahkan oleh Nabi sekalipun.

Dan mendengar itu, Nabi pun berkata, "Dengan inilah kamu masuk surga…"

Ya, ia adalah Bilal ibn Rabah, yang Sang Nabi pun pernah berkata, "Surga merindukan kedatangan tiga orang: Ali, Ammar dan Bilal…"

###

"Ahad, ahad…" suaranya lirih sekali, menahan batu besar yang harus ditimpakan ke dadanya, sedangkan ia sendiri harus ditidurkan di atas pasir Makkah, di tengah puncak musim panas. Umayyah ibn Khalaf masih saja mencerca dan berkata, "Tinggalkan agama Muhammad, jika memang kau tak ingin aku siksa lagi seperti ini! Sembahlah Allata dan Al Uzza!"

Tapi hati bersihnya tak menerima ajakan itu—ia lebih menikmati siksaan ini, dan tetap saja ia berucap lirih, "Ahad.. Ahad…"

Hingga Abu Bakr yang tempo hari mengajaknya masuk Islam, pun melewati kejadian itu. Ia segera mendatangi Umayyah, "Apakah engkau tak takut pada Allah, wahai Umayyah? Sampai kapan kau akan menyiksa orang lemah ini?"
"Kau yang merusak agama budak ini! Selamatkan saja dia kalau kau mau!" bentak Umayyah, masih dalam emosinya.
"Jika kau mau, berikan ia padaku, dan aku akan menggantinya dengan budakku, yang lebih kuat dari pada ia, dan ia pun masih seagama denganmu!"

Mendengarnya, Umayyah pun menerima tawaran ini—dunia selalu lebih indah di matanya. Dan dengan begitu, Bilal pun resmi menjadi milik Abu Bakr.

Abu Bakr segera mendatangi saudara seimannya itu, menyingkirkan batu besar dari dada Bilal, dan berkata, "Wahai Bilal, engkau bebas; engkau sekarang bukan seorang budak lagi…"

###

Saat itu, penduduk Madinah sedang memikirkan bagaimana membuat orang-orang menyadari waktu shalat tiba. Sebagian shahabat berkata, "Kita pukul saja sebuah lonceng!"
Sebagian lain pun menyanggah, "Itu kebiasaan orang Nasrani."
"Kita tiup saja terompet?"
"Itu kebiasaan orang Yahudi!"
"Buatlah api besar setiap kali waktu shalat tiba!"
"Itu kebiasaan kaum Zoroaster!"

Hingga siang itu, Abdullah ibn Zaid pun tergopoh-gopoh mendatangi Nabi. "Wahai Nabi," ujarnya, "baru saja bermimpi melihat seseorang membawa sebuah lonceng. Aku pun berkata padanya, bahwa aku ingin membeli lonceng tersebut! Ia pun bertanya padaku, "Untuk apa kau beli lonceng ini?"
"Untuk menandakan waktu shalat telah tiba," jawabku padanya.
Lalu ia berkata, "Aku akan memberitahumu cara yang lebih baik."

Lalu, Abdullah pun mengisahkan bagaimana orang yang ia temui itu mengajarinya untuk mengumandangkan adzan.

Mendengarnya, Nabi pun berkata pada para shahabat, "Kawan kalian ini telah melihat sebuah mimpi yang benar. Wahai Abdullah, datangilah Bilal, dan ajarilah ia untuk mengumandangkan adzan itu—suara Bilal lebih nyaring daripada suaramu."

Dan Abdullah pun segera mendatangi Bilal, dan mengajarinya adzan.

Dan mulai saat itu, Bilal telah resmi menjadi muadzin Sang Nabi, selama beliau hidup.

###

Makkah telah terbebas dari kekangan kekuasaan kaum Kafir, dan Nabi beserta sepuluh ribu shahabatnya pun memasuki Makkah. Dan meniru apa yang dilakukan Nabi, mereka pun berthawaf di Kakbah.

Lantas, Rasulullah pun memerintahkan Bilal untuk menaiki Kakbah, dan melaksanakan tugasnya melantunkan adzan—waktu shalat telah tiba. Dan Bilal pun segera naik diatas Kakbah, dan melantunkan adzan dengan suara indahnya.

Melihat kejadian itu, Attab ibn Asid pun mencibir, "Allah benar-benar memuliakan ayahku, Asid, agar ia tak merasa gusar hanya karena mendengar orang hitam itu berteriak diatas Kakbah!"

Dan Alharits ibn Hisyam berkata, "jika saja aku mengerti bahwa yang diteriakkan orang hitam ini adalah kebenaran, aku pasti akan mengikutinya."

Sedangkan Abu Sufyan yang telah masuk Islam hanya menimpali, "Aku tak ingin berkomentar apapun; jika aku berkata apapun, Rasulullah pasti mengetahuinya."

Dan tak lama, Nabi pun dari kejauhan mendatangi tiga sekawan yang sedang duduk itu, dan berkata, "Aku tahu apa yang kalian katakan..." dan beliau pun mengisahkan apa yang mereka katakan, sama persis dengan kejadiannya!

Attab dan Alharits pun berkata, "Kami bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah! Tak ada seorangpun selain kami yang tahu akan apa yang kami perbincangkan barusan." Ya, mereka sadar bahwa hanya Allah yang memberitahu NabiNya.

###


Abu Bakr telah meninggal, dan kini Umar lah yang menjadi Khalifah. Dan hari itu, kerinduan Bilal benar-benar membuncah. Ia ingat sekali ketika terakhir kali ia menyiramkan air pada makam Nabi sebelum akhirnya ia pindah menuju Syam.

Dan kerinduan itu pun mendorongnya untuk kembali mendatangi Madinah.

Sesampainya, ia bersegera menuju Makam Sang Kinasih, bersimpuh dan menangis rindu. Tangisannya tersedu-sedu, mengingat segala kebersamaan dahulu kala. Ia teringat pada semuanya, apalagi Bilal adalah salah seorang yang menjadi 'bendahara' Nabi selama beliau hidup.

Ditengah isak tangisnya, Alhasan dan Alhusain, dua cucu Nabi, melihatnya dari kejauhan. Mereka berdua segera berlari menuju Bilal, memeluk dan mencium Khadim dan Muadzin Nabi itu. Mereka berdua begitu merindukan Bilal. Dan mereka berkata, "Wahai Pamanda, lantunkanlah adzan; kami merindukan suara adzanmu seperti di zaman Kakek kami hidup dahulu..."

Bilal pun tersenyum, dan menyanggupi permintaan dua orang cucu yang sangat dicintai Nabi itu--membahagiakan cucu Nabi, adalah salah satu cara membahagiakan Sang Nabi.

Waktu adzan pun tiba, dan ia segera menaiki tempat yang dahulu ia melantunkan adzan untuk Sang Nabi.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Allahu Akbar, Allahu Akbar..."

Madinah tersentak sekali. Sunyi tiba-tiba meliputi Kota Suci itu. Mereka mendengar suara yang takhlagi terdengar semenjak Nabi meninggal--mereka rindu sekali dengan suara, seruan dan lantunan itu.

"Asyhadu an laa ilaha illallah...
Asyhadu an laa ilaha illallah..."

Penduduk Madinah pun seketika terlempar menuju masa kebersamaan mereka pada Nabi. Madinah pun bergetar dengan isak tangis kerinduan.

"Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah..."

Penduduk Madinah segera berlari keluar dari rumah mereka, menuju Masjid, tergerak cinta dan rindu mereka. Serak tangis terdengar disana sini, "Wahai Nabi... Kami merindukanmu!"

"Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah..."

Dan Bilal pun terhenti, tak lagi dapat meneruskan Adzannya. Ia menangis tersedu-sedu, lebih tenggelam dalam rindu.

Madinah pun hari itu tengah tenggelam dalam isak tangis rindu.

###

"Sungguh aku bersedih hati," kata istri Bilal, dalam isak tangisnya. Bilal tengah sakit parah, dan merasakan dekat ajalnya. Ia pun menjawab, "Justru aku sekarang sangat bahagia."

"Mengapa?" tanya sang istri.

Bilal pun menjawab, "Ghadan nalqal ahibbah, Muhammadan wa hizbah! Besok aku akan bertemu para kekasih: Muhammad dan para shahabatnya!"

Dan tak lama, nafasnya pun terhenti.

Kota Aleppo, Syam, pun menangis.

###

Fikih Cinta adalah perekat iman yang terkuat dalam hati para pecinta.

Fikih Cinta juga pendorong terkuat bagi seseorang untuk melaksanakan apapun tuntutan Sang Kekasih.

Fikih Cinta pun alasan paling kuat untuk tak dapat melakukan apapun kecuali untuk Sang Kekasih.

Fikih Cinta adalah hal terkuat yang tak pernah bisa hilang atau berkurang sedikitpun dalam hati mereka.

Fikih Cinta adalah asas segala kerinduan untuk selalu bersama, untuk segera bertemu.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

@bangmiqo
@Makkah, Rabiul Anwar 15, 1436 H

FIQIH CINTA-nya Bang Miqo...(4-6)

Fikih Cinta #4: Shafiyyah binti Huyay


Shafiyyah binti Huyay, radhiyallah anha, yang saat itu masih beragama Yahudi seperti kaumnya, tiba-tiba terkejut terbangun dari tidurnya.

Ia mengerti sekali ketika ayahnya, Huyay ibn Akhthab, kepala suku Bani Nadhir, membenarkan bahwa Muhammad adalah Rasul Terakhir yang telah dijanjikan Taurat untuk ummat manusia. Tapi ia juga mengerti sekali, bahwa ayahnya dan mayoritas Rabi Bani Israel yang tinggal di Madinah lebih memposisikan diri untuk memusuhi Muhammad.

Dan sudah beberapa lama Muhammad kini tinggal di Madinah. Ia mengerti segala kabar tentang beliau, dan segala hal yang beliau ajarkan pada para pengikutnya.

Hanya saja, mimpi malam ini begitu nyata, sekaligus berbeda, juga membuatnya bertanya-tanya. Ia bermimpi bulan jatuh ke dalam pangkuannya! Ia pun berkisah akan mimpinya pada suaminya, Kinanah ibn Abil Huqaiq al Quradhi, seorang Yahudi dari Bani Quraidhah. Dan seketika, Kinanah menampar Shafiyyah hingga membuat matanya memar! "Apakah kamu ingin menjadi istri raja Madinah itu?!"

Hingga saat peperangan Khaibar berakhir dengan kemenangan kaum muslimin, dan Shafiyyah pun menjadi istri Rasul, Sang Kinasih dengan segala kasih sayangnya bertanya, "mengapa ada memar di matamu, wahai Shafiyyah


###

Peperangan Khaibar memang menyisakan banyak luka dalam hati Shafiyyah. Bagaimana tidak? Ia tersandera, sedangkan ia adalah putri dari ketua pembesar Kabilah Bani Nadhir. Lalu di peperangan itu, ayah juga suaminya terbunuh. Banyak anggota kaumnya yang juga tewas terbunuh.

Tapi ia juga sangat sadar bahwa agama Yahudi yang kini dianutnya bukanlah agama yang benar, dan segala yang diajarkan Rasul adalah kebenaran yang sesungguhnya.

Nabi pun bisa mengerti apa yang ada dalam hati putri Huyay tersebut. Beliau pun menghormati kedudukan dan kemuliaan Shafiyyah di mata kaumnya, melipur lara hatinya, sekaligus menawarkan penawaran penuh kebijaksanaan.

"Wahai Shafiyyah, pilihlah. Jika kau mau, biarlah aku membebaskan penyanderaanmu, dan kembalilah kepada kaummu, hiduplah bersama mereka. Dan jika kau mau, biarlah kamu bersama kami, dan aku akan menikahimu," kata Sang Kinasih.

"Wahai Rasul," jawab Shafiyyah, "Aku benar-benar tahu, bahwa apa yang kau dakwahkan adalah kebenaran, dan Bani Israel dalam kebatilan--aku sendiri tak butuh dengan agama Yahudi. Bahkan aku sudah ingin mengikuti agamamu, sebelum engkau mengajakku. Kini, seluruh keluargaku sudah tiada, dan ayah juga suamiku terbunuh. Sekarang engkau memberiku pilihan antara kekufuran dan Islam, maka aku akan lebih memilih Islam, daripada aku harus bebas dan kembali kepada kaumku."

Dan Shafiyyah pun merengkuh agama Islam sebagai keyakinannya, dan menjadi istri Sang Nabi tercinta, sekaligus menjadi ibunda bagi seluruh Ummat Islam.

###

Tapi luka hatinya masih berbekas. Menyadarinya, Nabi pun terus mendekatinya dan berkata, "Wahai Shafiyyah, ayahmulah yang telah mengajak seluruh bangsa Arab untuk menyerangku dan memusuhi agama ini..." dan Rasul pun menjelaskan detail alasan kenapa beliau harus menyerang Bani Israel dan membunuh Huyay yang terus menerus mencoba menghentikan Islam. Hingga akhirnya Shafiyyah pun berbalik 100% mencintai Sang Kinasih.

"Mendengar semua yang beliau ucap," kata Shafiyyah mengisahkan, "di hari itu yang asalnya beliau adalah orang yang sangat aku benci, akhirnya aku pun tak berdiri dari tempat dudukku kecuali beliau telah menjadi orang yang paling aku cintai di muka bumi ini."

###

Peperangan Khaibar yang berakhir dengan kekalahan telak Yahudi, dan berbuah manis untuk Shafiyyah, menyisakan banyak kisah penuh hikmah.

Pasukan Islam pun berjalan meninggalkan Khaibar setelah kesepakatan dicapai diantara dua belah pihak. Dan Shafiyyah pun pulang bersama suami tercintanya, Rasulullah. Ia berada di belakang Rasulullah dalam perjalanan menuju Madinah.

Karena malam sudah menjelang, rombongan pun berhenti terlebih dahulu untuk beristirahat. Nabi pun bermaksud untuk mengajak Shafiyyah bermalam, selayaknya pengantin baru. Tapi, meski cinta itu sudah tertancap dalam, Shafiyyah menolak untuk bermalam bersama suaminya!

Rasulpun terkejut, dan merasa heran dengan sikap istrinya itu. Tapi beliau menerima apa adanya.

Dan rombongan pun kembali meneruskan perjalanan menuju Madinah. Hingga saat mereka sampai di daerah Asshahba', akhirnya Shafiyyah mau bermalam dengan sang suami tercinta.

"Wahai Shafiyyah," kata Rasul, "mengapa kau tak mau bermalam bersamaku di tempat sebelumnya?"

Dengan penuh cinta, Shafiyyah pun berkata, "Wahai Nabi, di tempat sebelumnya, kita masih begitu dekat dengan lokasi Kaum Yahudi. Aku takut jika mereka menyerangmu waktu di sana!"

###

Cinta keduanya begitu terasa, hingga saat sebelum Pasukan Islam bergerak meninggalkan Madinah, dan Nabi pun bersiap untuk melakukan perjalannya, beliau mengajak Shafiyyah untuk menaiki unta yang dipersiapkan untuknya.

Saat mendatangi untanya, Nabi segera duduk dengan posisi agar lututnya bisa digunakan Shafiyyah sebagai jalan menaiki untanya!

Melihat segala cinta dan ketawadhuan tersebut, Shafiyyah pun membalas dengan segala hormatnya. Ia tak menginjakkan telapak kakinya pada paha Nabi, tapi ia menginjak memakai betisnya, menaiki unta yang dipersiapkan untuknya.

###

Keluarga dengan penuh dinamikanya, pun sesekali membuat Shafiyyah terkadang bersedih, hanya karena cibiran istri Nabi lainnya. Ya, setiap istri ingin menjadi merasa yang paling dicinta di hadapan istri yang lainnya.

Dan Shafiyyah pun suatu hari menangis.

"Mengapa engkau menangis, wahai Shafiyyah?" tanya Sang Nabi dengan penuh cinta.

"Istrimu, Hafshah bintu Umar mengataiku. Ia berkata kalau aku puteri seorang Yahudi..." berat sekali ia mendengar dan mengatakannya.

Tapi Nabi segera menenangkan kesedihan istrinya itu. Belia berkata, "Sudahlah, jangan menangis. Kau adalah puteri seorang Nabi. Pamanmu pun seorang Nabi. Dan kau sekarang adalah istri seorang Nabi. Apakah ia bisa menyamai kebanggaanmu, wahai istriku?"

Ya, Shafiyyah adalah cucu Nabi Harun. Dan pamandanya, adalah Nabi Musa. Dan beliau kini adalah istri Rasulullah.

###

Di hari seluruh keluarga kenabian itu berangkat menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, Shafiyyah menaiki unta terbaik daripada unta-unta istri Nabi yang lainnya.

Tapi di tengah perjalanan, unta yang ia naiki terduduk! Shafiyyah pun menangis bersedih--ia tak mau sendiri tertinggal rombongan keluarganya.

Mendengar kabar itu, Rasulullah pun bersegera mendatangi Shafiyyah. Beliau pun mendatangi, menenangkan, dan tangan beliau dengan lembut mengusap setiap tetes air mata dari pipi istrinya itu.

###

Suatu hari, di tahun 11 H.

Seluruh istri Nabi berkumpul, mereka semua sangat mengkhawatirkan kesehatan Sang Nabi yang menurun drastis. Dan spontan, Shafiyyah pun segera mengungkapkan isi hati beningnya kepada suami tercintanya itu, "Demi Allah, wahai Nabiyyullah, aku ingin sekali jika sakit yang engkau rasa itu dipindahkan saja kepadaku..."

Istri-istri Nabi yang lain pun mendengar kalimat itu. Terbakar cemburu karena terdahului Shafiyyah mengungkap cinta pada Nabi di depan mereka, mereka pun berbisik membicarakannya.

Tapi Nabi menyadari itu. Beliau segera menasehati, "kalian semua," selain Shafiyyah, "segeralah berkumur, membersihkan isi mulut..."
"Dari apa, wahai Nabiyyullah?" mereka belum menyadari bahwa Nabi mendengar bisik mereka tadi.
Nabi pun menjelaskan, "dari bisik-bisik kalian menyindir Shafiyyah. Demi Allah, ia telah berkata dengan jujur."

Ya, Shafiyyah saat itu jujur mengungkap cintanya.

###

Fikih Cinta yang hakiki akan dapat membolak-balik hati, merubah cinta dari rasa benci.

Fikih Cinta pun mempunyai andil besar dalam menunjukkan manakah kebenaran yang sebenarnya, manakah kebatilan yang harus dijauhi.

Fikih Cinta yang hakiki akan terpancar dari hati, terbukti dengan sikap, dan pasti akan berbalas dengan cinta dari Sang Kekasih.

Fikih Cinta membuat seseorang selalu ingin menjadi yang tercinta diantara yang mereka cintai.

Fikih Cinta pun bukan hal yang dapat membuat seseorang menjadi seenaknya berbuat sesuka hati, tapi mendorong seorang pecinta untuk semakin menghormati disamping menyayangi.

Fikih Cinta yang meresap pada setiap sudut hati seorang pecinta selalu bisa membuat senyum dalam hidupnya.

Fikih Cinta mendorong seseorang untuk melindungi, membela, bersedia menyerahkan diri demi orang yang dicintai.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

@bangmiqo
@Makkah, Rabiul Anwar 12, 1436 H


Fikih Cinta #5: Khubaib ibn 'Adiy
Khubaib ibn 'Adiy an Najjari al Anshari, radhiyallah anhu, yang dikenal dengan julukannya, Bali'ul Ardh, yang tertelan bumi. Mayatnya yang syahid tertelan bumi begitu saja, dan tak pernah diketemukan lagi setelah itu.

###

Di suatu hari, di tahun 4 H.

Nabi mendapatkan kabar dari atas Langit ketujuh, disampaikan oleh Jibril, bahwa salah satu shahabatnya yang beberapa minggu lalu beliau kirim menuju lokasi Kabilah Adhal dan Alqarah, telah diculik dan dibunuh di Makkah. Mayatnya pun disalib. Ia adalah Khubaib ibn 'Adiy.

Ya, Kabilah Adhal dan Alqarah melanggar janjinya: mereka membunuh delapan dari sepuluh dai Islam, menjual dua lainnya kepada Quraisy untuk mereka bunuh, Khubaib dan Abdullah ibn Datsinnah.

Mendengarnya, Rasulullah yang sedang berada di Madinah pun bersabda pada para shahabat, "Siapakah dari kalian yang bersedia menurunkan jasad Khubaib dari kayunya, dan aku akan menjamin surga bagi ia yang bersedia menurunkannya?"

Dua shahabat mulia, Azzubair ibn al Awwam dan Almiqdad ibn al Aswad pun segera menyanggupi permintaan Nabi--jaminan surga adalah hal yang sangat mereka ingin, disamping ini adalah kewajiban sesama saudara seiman.

Mereka pun segera menuju Makkah, dan diam-diam menurunkan jasad Khubaib. Azzubair membawa jasadnya, dan segera keluar dari Makkah, menuju Madinah.

Tapi penduduk Makkah mengetahui perbuatan keduanya! Mereka pun segera mengejar Azzubair dan Almiqdad.

Karena terlalu lelah dan sulit sekali membawa jasad Khubaib, Azzubair pun terpaksa menurunkan jasad tersebut. Tapi, kemuliaan dari Allah pun terjadi: Allah tak menginginkan jasad mulia tersebut kembali disentuh orang-orang kafir, dan seketika bumi pun menelan jasad mulia itu.

###

Rombongan sepuluh dai yang dipimpin Martsad ibn Abi Martsad yang diminta Kabilah Adhal dan Alqarah terbunuh, dan dua diantaranya tersandera.

Khubaib pun disandera di kediaman Hujair ibn Abi Ihab, istri Mawiyah. Tapi ia adalah seorang Muslim: ia menikmati apapun ketentuan dari Allah.

Dan Allah pun menyayangi Khubaib: di rumah itu, tanpa ada yang memberinya, Khubaib menikmati anggur segar. Hujair yang melihat itu, terheran-heran sekali. Hei, dimanapun, musim ini bukanlah musim anggur, dan tak mungkin ada anggur berbuah dimanapun!

Dan meskipun ia disandera, ia tetap bertahajjud setiap malam, dan membaca Alquran. Lantunan ayatnya, indah isinya, dan syahdu suara Khubaib membuat setiap orang yang mendengarnya terenyuh bahkan menangis.

"Apa yang kau ingin," kata Mawiyah, "katakan saja. Aku akan memberimu."
"Aku hanya memiliki tiga permintaan," jawab Khubaib.
"Apa? Sebutkan saja."
"Beri aku air untuk aku minum, jangan beri aku sembelihan haram karena disembelih sebagai persembahan berhala, dan tolong beritahu aku jika mereka sudah ingin membunuhku."

###

Hari eksekusi pun datang. Mendengarnya, Khubaib berkata pada Mawiyah yang baru saja memberitahunya, "berilah aku pisau cukur, aku ingin membersihkan tubuhku."

Tapi entah lupa entah mengapa, Mawiyah menyuruh anaknya yang masih kecil untuk mengantarkan pisau cukur ke Khubaib. Melihat anaknya sedang membawa silet dan berada dekat dengan Khubaib, Hujair pun panik.

"Celaka! Demi Allah ia pasti akan membalas dendam!" ujar Hujair, "apa yang kamu lakukan wahai Mawiyah!"

Mawiyah pun terkejut pula, ia segera berlari menuju tempat Khubaib. Ia melihat anaknya di pangkuannya. Ia menjerit ketakutan, "wahai Khubaib! Aku mengirim anakku karena tuhanmu; bukan untuk kau bunuh!" ia bergetar sekali mengucapnya.

Tapi Khubaib tersenyum, "Ibumu berani sekali mengirimmu, wahai anak kecil. Wahai Mawiyah, jangan khawatir, aku tak akan berkhianat. Agamaku melarangku berkhianat," jawabnya menenangkan. Lalu Khubaib berkata, "kembalilah pada ibumu, ia mengkhawatirkanmu."

###

Eksekusi akan segera di mulai: kaum Kafir Quraisy memilih untuk menyalibnya. Tapi ia berkata, "Jika memang kalian memperbolehkan, biarkanlah aku shalat dua rakaat terlebih dahulu."

Mereka pun berkata, "Ya sudah, shalatlah."

Ia pun shalat dua rakaat dengan sempurna sekali. Usai salam, ia berkata, "Demi Allah, kalau saja prasangka kalian tidak beranggapan bahwa aku shalat hanya karena aku takut mati dan mengulur waktu, aku ingin sekali shalat berkali-kali sebelum kalian membunuhku."

Lalu ia berkata,
"Apa peduliku;
Jika memang aku terbunuh sebagai seorang muslim;
Aku tak peduli harus bagaimana aku terbunuh!
Semua ini hanya karena untuk Allah;
Dan jika memang Dia berkehendak
Maka Dia akan memberkahi
Setiap ruas tubuhku yang berserakan
Saat aku mati."

Dan ia berdoa, "Allahumma! Aku telah sampaikan tugas dari RasulMu! Ya Allah, sampaikanlah kisah tentang kami pada beliau!" lalu ia meneruskan doanya, "Allahumma! Habiskanlah jumlah musuh-musuhmu, bunuh mereka semua dimana saja, dan janganlah ada satu orangpun dari mereka yang tersisa!"

Dan eksekusi pun dilaksanakan.

###

Fikih Cinta mengantarkan seseorang untuk selalu siap dan bersenang hati melaksanakan perintah Sang Kekasih.

Fikih Cinta mengajarkan untuk selalu bersiap menerima apapun yang Allah tentukan dalam menjalankan misi Sang Kekasih.

Fikih Cinta menjadikan seseorang akan selalu terikat selamanya, dari hidup hingga matinya dengan Sang Kinasih.

Fikih Cinta membuat seseorang bahkan tabah menempa segala, dan tetap menunjukkan keindahan Sang Kinasih.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

Fikih Cinta #6: Aisyah binti Abi Bakr
Aisyah bint Abi Bakr, Asshiddiqiyyah bint Asshiddiq, radhiyallah anha, salah satu ibunda kaum muslimin, istri tercinta Sang Kinasih shallallah alaih wasallam. Yang suatu hari, Sang Kinasih memanggilnya dengan penuh sayang, "Wahai Aisy, Jibril mengirimkan salamnya untukmu..."

Dan Aisyah pun menjawab, "Wa alaihissalam warahmatullah wabarakatuh..."

###

Suatu hari, beberapa tahun usai wafatnya Khadijah binti Khuwailid.

Jibril mendatanginya di dalam mimpi dengan membawa secarik kain sutera. Rasul pun melihat kaim sutera itu, dan ternyata terpampang wajah Aisyah. Malaikat mulia itu pun berkata, "ini adalah istrimu, di dunia dan di akhirat."

Dan Nabi pun segera menimpali, "jika memang ini kehendak Allah, maka Dia akan melaksanakan takdirnya."

###

Kedekatannya dengan Sang Suami, membuat Aisyah menjadi salah seorang ulama terkemuka di antara para shahabat, bahkan seperempat dari hukum agama Islam pun diriwayatkan olehnya.

"Kami, para shahabat Rasulullah, pasti menemukan jawaban pertanyaan kami tentang ajaran Nabi dari Aisyah," ujar Abu Musa, suatu ketika.

###

Usai mendapatkan wahyu dari Allah, Rasulullah pun mendatangi Aisyah dan berkata, "Wahai Aisyah, aku akan menawarimu sebuah hal. Tak mengapa jika kau tak segera menjawab, untuk bermusyawarah pada ayah ibumu."

"Apakah yang akan engkau sampaikan?" tanya Aisyah.

Rasul pun melantunkan wahyu tersebut, Al Ahzab: 28-29, "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar."

Mendengarnya, Aisyah pun segera menjawab, "Apakah aku harus bermusyawarah dengan ayah ibuku tentang ini, wahai Nabi? Aku jelas memilih Allah, RasulNya dan negeri akhirat!"

Rasul pun sangat bahagia mendengar jawaban isteri tercintanya itu: cinta Aisyah benar-benar sejati.

###

Sepulang dari perjalanan, rombongan Nabi pun berhenti di daerah Albaida, tepatnya di Dzatul Jaisy. Untuk sementara, kafilah harus mengambil sedikit waktu untuk beristirahat.

Tapi, ketika kafilah tak jadi melakukan perjalanan, ketika Nabi mengetahui bahwa Aisyah kehilangan kalung permata yang ia dapat dari Dzifar, Yaman. Dan para shahabat pun membantu mencarinya. Hingga fajar pun menjelang.

Celakanya, Dzatul Jaisy sama sekali gersang--tak ada setetes air pun di sana, dan air perbekalan mereka pun telah habis! Para shahabat pun mendatangi Abu Bakr, dan menegurnya, "lihatlah apa yang dilakukan puterimu! Gara-gara ia, Nabi tak jadi berangkat melanjutkan perjalanan, dan semua rombongan pun tak memiliki air untuk bersuci dan perbekalan!"

Ya, bagaimana nanti mereka akan berwudhu ketika waktu shalat tiba?

Mendengar itu, sang ayah pun segera mendatangi Aisyah. Tak disangka, saat itu Sang Nabi sedang tidur berbantalkan pangkuan Aisyah. Sebuah kemesraan yang tiada tara.

Tapi Abu Bakr tetap saja mendatangi Aisyah dan menegurnya sambil berbisik, agar tak mengganggu istirahat sang Nabi. Lantas ia juga menusuk-nusuk tubuh Aisyah dengan telunjuk jemarinya. Abu Bakr tak ingin isterinya itu menjadi bahan perbincangan orang, juga tak ingin orang-orang menggunjing keluarga Nabi.

Hanya saja, meski sebenarnya itu sangat mengganggunya, Aisyah menahan semuanya; ia tak bergerak sedikitpun. Ia tak mau gerakannya mengganggu Nabi. Ia bersikap layaknya sikap sang ayah ketika berada di Gua Tsur.

Akhirnya Nabi pun terbangun. Waktu shubuh pun segera menjelang. Dan kemuliaan dari Allah pun segera turun kepada ummat Islam: Jibril turun dari langit ke tujuh, menyampaikan wahyu Allah akan syariat bertayammum. Dan hari itu adalah hari dimana tayammum mulai dikenal dalam syariat Islam.

Usaid ibn Khudhair pun berkata, "Demi Allah, kejadian ini bukanlah berkah pertama dari keluarga kalian, wahai Keluarga Abu Bakr!

Usai shalat, Nabi pun memutuskan agar kafilah harus bergerak. Dan ketika unta Aisyah berdiri, kalung itu pun tepat berada di bawah unta itu.

###

"Wahai Aisyah," kata Nabi suatu hari, "Aku bisa tahu, kapan kamu senang, dan kapan kamu marah."

Lalu Nabi pun meneruskan, "Ketika kamu senang, kamu akan berkata, 'Demi Tuhan Muhammad'. Dan ketika kamu marah, kamu akan berkata, 'Demi Tuhan Ibrahim!"

Aisyah segera tersenyum menyadari perhatian Sang Kinasih, dan berkata, "Ya, wahai Rasul. Demi Allah aku tidak menyebutkan apapun kecuali namamu!"

###

Senin, Rabiul Awwal, 11 H

Demam Sang Kinasih bertambah hari bertambah parah, dan sakit yang beliau alami bahkan membuat fisik beliau begitu lemah--beliau harus ditopang dua shahabatnya untuk berjalan.

Dan, atas seizin keluarganya, Nabi pun dirawat di rumah istri tercintanya, Aisyah. Aisyah pun setia merawatnya.

Nabi bersandar pada Aisyah pagi itu, ketika iparnya, Abdurrahman ibn Abi Bakr, masuk menjenguk keluarga Nabi.

Fisik beliau yang membuatnya sulit berkata-kata, membuat Aisyah begitu memperhatikan segala gerak-gerik Nabi--ia tak ingin sekali membuat Nabi kecewa ataupun bersedih. Dan kali ini, ia melihat pada siwak yang dibawa oleh Abdurrahman. Aisyah pun mengerti keinginan Nabi dan berkata, "apakah engkau ingin aku mengambil siwak itu?"

Nabi pun mengisyaratkan, "iya."

Aisyah pun segera mengambil siwak itu, menggingit ujungnya agar lebih lembut, dan mensiwakkan pada Nabi. Ludah Aisyah pun tercampur dengan ludah Sang Suami tercinta.

Tapi, tak lama, Rasul tiba-tiba menyudahi siwak tersebut, melihat ke arah atas dan berkata, "aku lebih memilih untuk bertemu Allah, Arrafiq al A'la."

Dan Nabi pun meninggalkan semua keluarga dan ummatnya, di pangkuan istri tercinta, Aisyah.

###

"Tak ada seorang Nabi pun yang akan meninggal, kecuali ia akan diberi pilihan: akankah ia masih ingin hidup, atau lebih ingin bertemu dengan Kekasih Termulia, Arrafiq al A'la?" ujar Nabi pada Aisyah, jauh hari sebelumnya.

Dan hari itu, Aisyah menyadari, bahwa Kekasihnya sedang memilih opsi yang diberikan dari malaikat maut.

###

Fikih Cinta, adalah modal terbesar untuk mendapat cinta yang sama dari Sang Kekasih.

Fikih Cinta pula adalah alasan terbesar untuk tidak pernah sekalipun mengecewakan Sang Kekasih.

Fikih Cinta juga pendorong terbesar, agar tak pernah menggantikan Sang Kekasih dengan yang lain.

Fikih Cinta pun menjadi alasan untuk selalu dapat meneladani setiap gerik Sang Kekasih, dan mentransferkannya sebagai sebuah ilmu yang harus disebarkan--bukan sekedar akuan belaka.

Fikih Cinta pula yang membuat seseorang dapat mengerti detail keinginan Sang Kekasih, lalu mewujudkan keinginan tersebut, membuktikan cinta pada alam nyata.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

@bangmiqo
@Makkah, Rabi'ul Anwar 14, 1436 H


Tuesday, January 6, 2015

FIQIH CINTA-nya BANG MIQO...(Assheeq Mustafa)


Fikih Cinta #1: Abu Ayyub al Anshari

Berikut catatan dari salah seorang sahabat facebook. Karena saya tidak bisa membacanya setiap kali tulisannya di upload, maka saya mengkopy-nya, saya simpan di blog. Berharap di waktu senggang saya lebih bisa fokus membacanya...( saat saya mengcopy tulisannya, saya juga belum sempat izin dari penulis....maaf ya Gus...) ^_^

 Tulisan pertama: 

Abu Ayyub al Anshari, radhiyallah anhu, hari-hari itu begitu bahagia. Bagaimana tidak? Seorang Nabi termulia yang sudah setahunan ia imani, kini tengah berada di Madinah, tinggal bersama mereka. Terlebih lagi, Sang Kinasih tinggal serumah dengan ia!

Beberapa hari sebelumnya, di atas Alqashwa', nama untanya, Sang Kinasih membiarkannya berjalan begitu saja, dan beliau sama sekali tidak memegang tali kekang kendalinya. Setiap melewati sebuah kaum di Madinah, mereka berebut mengambil kendali unta mulia itu sembari berkata, "Silahkan tinggal di rumah kami, wahai Nabi!" lantas beliau pun menjawab, "Biarkanlah ia, sesungguhnya ia diperintahkan (oleh Allah)."

Dan Alqashwa pun berjalan perlahan kesana-kemari, mencari tempat tinggal seperti yang telah diperintahkan oleh tuhannya yang dipersiapkan untuk Sang Nabi. Sampai akhirnya ia pun merundukkan kepala dan badannya, menandakan bahwa disitulah Nabi akan tinggal. Nabi pun berkata, "disinilah tempat tinggalku, insyaAllah."

Di saat Sang Kinasih sibuk mencari tahu milik siapakah tanah kosong itu, Abu Ayyub pun segera mengambil perlengkapan Nabi dan menaruhnya di dalam rumahnya yang dekat di tanah kosong tersebut. Beliau berharap sekali, agar Nabi benar-benar tinggal di rumahnya.

Di pertengahan mencari tahu siapa pemilik tanah tersebut, para shahabat pun masih berebut, "Tinggallah bersama kami!"

Tapi, setelah Nabi mengetahui bahwa semua barang bekalnya telah berada di rumah Abu Ayyub, beliau pun berkata, "Sudah seharusnya seseorang bersama dengan barang bawannya," sembari tersenyum menandakan terima kasih atas semua tawaran penuh keikhlasan dari para pecintanya.

Ya, sementara, Nabi akan tinggal di rumah dua tingkat yang ditempati Abu Ayyub itu.

###

500 tahun sebelumnya, Attubba', Raja Besar Yaman menginvasi seluruh Jazirah Arab, hingga ia pun berniat untuk menyerang Kakbah.

Tapi, seketika, usai ia berniat seburuk itu, tiba-tiba ia sakit keras dan muncul banyak luka disekujur tubuhnya. Luka dengan nanah busuk. Seorang Rabi Yahudi yang berjuang bersama Attubba' pun merasakan firasat buruk dan bertanya, "Akankah engkau berniat menyerang Baitullah yang berada di Makkah? Jika ya, maka karena niat burukmulah itu engkau terkena adzab!"

Mendengarnya, Attubba' pun segera bertaubat, menginfakkan banyak harta untuk Kakbah dan penduduk Makkah. Dan seketika semua penyakitnya tersembuhkan.

Lalu ia berjalan menuju Yatsrib. Di sana, ratusan Rabi yang bersamanya berkata, "Duhai Raja, disini kelak akan terutus Nabi Terakhir, Nabi Termulia, dan kami akan tinggal disini, menunggui Nabi tersebut!"

Mendengarnya, Attubba' pun segera membangun satu rumah untuk Sang Kinasih, dan memerintahkan satu Rabi terbaik untuk tinggal disana dan menuliskan sebuah surat agar ia wariskan terus menerus untuk disampaikan pada Nabi akhir zaman tersebut.

Dan Rabi tersebut terus mempunyai keturunan, hingga datanglah cucu mulia, Abu Ayyub al Anshari, yang pun bertugas menunggui rumah hadiah dari Attubba' itu.

Dan isi surat tersebut, adalah pernyataan iman Attubba' kepada Sang Kinasih. Surat itu untuk kali pertama dibuka, ketika Nabi sampai di Madinah.

###

Rabi'ul Awwal, 1 H, di tengah musim dingin yang mencekam.

Sebelumnya, Abu Ayyub menempatkan Nabi di lantai atas rumahnya, demi menghormati kedudukan Sang Kinasih. Tapi setelah beberapa hari, karena banyak sekali tamu yang mendatangi Nabi, Nabi pun berkata pada Abu Ayyub, agar beliau tinggal di lantai bawah saja--itu lebih baik, agar tak mengganggu keluarga Abu Ayyub dengan banyaknya tamu.

"Kami pun," kisah Abu Ayyub, "sangat berhati-hati berjalan di lantai atas. Kami tak ingin ada satu debupun yang jatuh kepada Nabi hanya karena kami berjalan di lantai atas." Bahkan Abu Ayyub bersama istri pun rela untuk berjalan hanya di pinggir tembok lantai atas.

Ya: hanya agar tak mengganggu Nabi, meski hanya dengan setitik debu.

Sampai suatu malam, tak sengaja mereka menumpahkan air. Segera saja Abu Ayyub membuka selimut yang ia kenakan bersama istrinya untuk mengeringkan air itu, agar tak merembes dan menetesi Nabi! Dan di malam dingin itu, mereka pun rela tidur tanpa selimut.

Hingga akhirnya, mereka pun meminta lagi pada Nabi agar tinggal di atas. "Kami tak berhak berada diatas engkau, wahai Rasulullah!"

###

Seperti hari-hari sebelumnya, Abu Ayyub selalu saja mengirimkan hidangan untuk Sang Kinasih. Usai menikmatinya, Abu Ayyub pun segera mengambil sisa hidangan itu. "Dan kami pun mencari-cari dimana bekas tangan Nabi menyentuh hidangan itu? Agar kami menikmati hidangan yang telah tersentuh oleh tangan beliau."

Itulah keseharian Abu Ayyub, selama bersama Nabi.

Hingga suatu hari, ia menunggu sisa hidangan Nabi. Tapi kali ini ia terkejut sekali: hidangan tersebut sama sekali tak berubah! Nabi sama sekali tidak memakannya!

Ia dan sang istri pun sangat takut, sangat terkejut, shock seketika. Mengapa Nabi tak mau menikmati hidangannya? Apakah ini sebuah hal haram, sehingga tak sengaja Abu Ayyub telah tak bersopan santun kepada Nabi? Ataukah karena Nabi telah diturunkan wahyu, bahwa Allah tak menyukai Abu Ayyub? Atau karena apa? Abu Ayyub sangat ketakutan!

Ia pun segera mendatangi Nabi, dengan segala kekhawatirannya. Ia ingin tahu, ada apa sebenarnya?

Nabi pun menjawab bahwa semua itu tidak benar. "Aku mencium bau bawang di hidangan tersebut, sedangkan aku adalah seorang Nabi, yang harus selalu menyebut Nama Allah, bersiap untuk menerima wahyu."

Ya, beliau tidak ingin bau mulutnya berubah hanya karena memakan bawang itu. Beliau harus selalu dalam keadaan bersih, sebagai seorang Nabi yang harus berbincang langsung dengan Jibril. Beliau pun harus selalu bertemu dengan para shahabat; tak mungkin beliau menemui mereka dengan bau yang tak sedap.

Abu Ayyub pun lega sekali mendengar itu. Dan ia pun berkata, "mulai saat ini, aku juga akan tak menyukai apapun yang tak disukai oleh Nabi!"

###

Fikih Cinta yang dibawa oleh para shahabat, selalu mendorong mereka untuk mengagungkan Nabi dengan pengagungan tertinggi, sebuah penghormatan termulia yang jujur terlahir dari hati dan iman yang sangat suci. Mereka selalu menyadari, bahwa Rasulullah bukanlah manusia biasa--beliau adalah manusia terbaik yang telah Allah pilih untuk menjadi KekasihNya, menerima dan menyampaikan wahyuNya, mengantarkan mereka kepada pintu Surga. Pintu Surga duniawi sebelum surga ukhrawi.

Fikih Cinta itu pun sekaligus mendorong mereka untuk mengikuti dan sebisa mungkin meniru apapun detail kehidupan Sang Kinasih. Mereka sadar, bahwa setiap detail yang beliau lakukan, adalah puncak segala penghambaan diri kepada Allah. Dan mereka pun ingin selalu bisa menghambakan diri kepada Allah sesempurna Sang Kinasih.

Fikih Cinta mengantarkan mereka untuk sama sekali tak melukai hati Sang Nabi, dan menempatkan keridhaan Sang Nabi sebagai prioritas utama kehidupan mereka. Karena mereka selalu sadar bahwa ridha Nabi adalah ridha Allah pula.

Fikih Cinta pun yang telah membangun hati mereka menjadi hati suci yang tercerahkan oleh hidayah petunjuk Allah.

Fikih Cinta pulalah yang akhirnya mengantarkan mereka pada tingkatan "era terbaik sepanjang masa," seperti yang telah Sang Kinasih ucap, "Masa terbaik adalah masaku." Ya, masa dimana semua pengikutnya benar-benar memahami dan menerapkan Fikih Cinta itu dalam kehidupan keimanan mereka, langsung dihadapan Sang Kinasih, shallallah alaih wasallam.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

@Makkah, Rabi'ul Awwal 9, 1436 H
di malam kelahiran Sang Nabi.

Fikih Cinta #2: Arrumaisha' Ummu Sulaim

Ummu Sulaim bint Milhan Al Anshariyyah, radhiyallah anha, pun ikut lebur dalam kegembiraan penduduk Madinah, atas kedatangan Sang Kinasih untuk tinggal bersama mereka.

Tapi ia bukan seorang kaya raya. Ia tak memiliki apapun, ketika kawan-kawannya sedang menuju rumah Rasul untuk memberikan hadiah cinta kepada beliau. Ia pun segera menuju rumah Rasul bersama putra tercintanya, Anas ibn Malik, yang masih berusia 10 tahun.

"Wahai Rasul," ucapnya, berharap Rasul menerima hadiahnya, "ini putraku, Anas, biarlah ia menjadi pembantu

mu, menjadi Khadimmu! Anas memandangi ibunya, dan memandangi Rasulullah--ia berharap agar Nabi menerimanya.
Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba; Rasulullah menerima Anas untuk menjadi Khadim!

Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ummu Sulaim segera berkata, "Wahai Rasul, doakanlah Anas!"

Dan Rasulullah pun segera mendoakan keberkatan dan kebaikan untuk anak kecil yang penuh cinta itu.

###

Beberapa bulan sebelum hijrah Nabi.

Malik ibn Annadhr, ayah kandung Anas, marah-marah mendobrak pintu rumahnya, "Wahai Ummu Sulaim! Apakah kau meninggalkan agama nenek moyangmu?! Apakah kau murtad?!"

"Tidak! Aku tak seperti yang kau katakan! Tapi, aku beriman!"

Malik tetap marah, lalu berkata, "jangan rusak keyakinan anakku juga!"
"Aku tak merusak anakmu. Aku mengajarinya iman!"

Lalu Ummu Sulaim mendekap Anas dan berkata, "Putraku, katakanlah: Laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah..." dan Anas pun menirukan ucapan sang ibunda yang penuh cinta itu.

Malik pun semakin emosi, lalu ia pergi meninggalkan rumahnya, pergi menuju padang sahara Madinah. Tapi, tak disangka, ia malah bertemu musuh bebuyutannya, saling bergelut, dan Malik pun terbunuh!

Mendengarnya, Ummu Sulaim segera mendekap Anas lagi dan berkata, "Demi Allah, aku tak akan melepaskanmu ke siapapun. Demi Allah, aku tak akan menikah dengan siapapun, hingga kau sendiri yang bisa menikahkan aku, wahai putraku."

###

Hari demi hari terus berlalu, dan Anas pun tetap saja berbangga dan berbahagia karena harus berkhidmah kepada Sang Kinasih. Ia tumbuh menjadi seorang anak muda yang terpuji dan tentu sangat dekat dengan Nabi.

Dan hingga suatu hari, Ummu Sulaim pun mendapatkan lamaran dari Abu Thalhah, seorang terpandang di Madinah yang saat itu belum mau masuk Islam.

"Seorang sepertimu tidak akan tertolak, wahai Abu Thalhah," jawab Ummu Sulaim. "Tapi, apakah yang menjadi sesembahanmu?"
"Aku menyembah berhala kayu," jawab Abu Thalhah.
"Tidakkah kau malu? Sedangkan kau menyembah tuhan buatan, dan aku menyembah Tuhan Yang Mahabenar. Jika kau mau masuk Islam, maka cukup hal itu yang menjadi maharku--aku tak butuh yang lain."
Dan tak berapa lama, Abu Thalhah pun akhirnya bersedia menerima Islam menjadi agama anutannya, dan ia kembali melamar Ummu Sulaim, wanita cerdas itu.

Mendengarnya, Ummu Sulaim pun berkata pada putranya, "wahai Anas, akadkanlah kami."

###

Perang berkecamuk, dan di putaran pertama, mereka yang baru mengenal Islam pun lari kocar-kacir tak dapat menahan serangan panah yang menghujani mereka di atas lembah-lembah Wadi Hunain, yang dilancarkan oleh penduduk Thaif.

Hampir seluruh barisan pasukan Islam semrawut tak karuan, hampir terpecah belah. Tapi Sang Nabi dengan gagah berani masih saja maju menunggangi keledainya, hewan yang sama sekali tak disiapkan untuk berperang. Keledainya tetap saja maju, sampai shahabat yang lain pun segera maju melindungi Nabi. Sangat berbahaya jika Nabi terus maju tanpa tameng, meski Nabi sama sekali tak gentar untuk maju tanpa perlindungan.

Dan akhirnya beberapa shahabat pun bersamanya, termasuk Abu Thalhah. Tapi ia pun melihat istri tercintanya, Ummu Sulaim, ikut melindungi Sang Nabi. Ia hanya membawa khanjar, pisau kecil khas Arab.

"Wahai Nabi, lihatlah, itu Ummu Sulaim, ia hanya membawa khanjar..." kata Abu Thalhah.

Mendengarnya, Ummu Sulaim segera menjawab, "Ya Rasulallah, aku membawanya, dan jika ada seorang musuh mendekat maka aku yang akan menusuknya!"

Dan Rasul pun tersenyum dan menenangkannya, "Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya Allah telah mencukupi (penjagaanku) dan berbaik (kepadaku)."

###

Dan kedekatan Ummu Sulaim pun membuat Rasulullah dengan senang hati bersedia untuk sering mendatangi rumah tinggalnya.

Hingga suatu hari, saat Ummu Sulaim sedang tidak berada di rumahnya, Rasulullah mendatangi tempat tinggal yang penuh keimanan itu untuk beristirahat tidur siang.

Mendengar itu, Ummu Sulaim segera pulang menuju rumahnya. Dan seperti biasanya, Nabi adalah seorang yang biasa berkeringat deras. Melihatnya, Ummu Sulaim segera mengambil kain dan mengusap keringat itu, lalu memeras keringat beliau dan menaruhnya di sebuah botol kecil.

Rasul pun terbangun dan berkata, "apa yang kau lakukan, wahai Ummu Sulaim?"
"Ini keringatmu, wahai Nabi, dan aku mencampurnya di parfumku. Karena keringatmu selalu beraroma harum semerbak!"

Ya, semua shahabat mengerti, bahwa meski tak memakai parfumpun, tubuh dan keringat Nabi selalu harum, sebagai bentuk kesempurnaan penciptaan Allah untuk KekasihNya itu.

Dan di kesempatan lain, Nabi terbangun dan berkata, "apa yang kau lakukan, wahai Ummu Sulaim?"
"Wahai Rasulullah, kami berharap berkah dari keringatmu!"
Dan Rasulpun menjawabnya, "apa yang kau lakukan adalah benar!"

###

Dan seperti biasanya, Sang Nabi mendatangi rumah Ummu Sulaim. Hanya saja, kali ini beliau langsung meminum air dari qirbah (kantung air yang terbuat dari kulit, dengan ujung mengerucut). Usai Sang Nabi meminumnya, Ummu Sulaim segera memotong ujung kerucut qirbah tersebut.
"apa yang kau lakukan?"
"ini adalah ujung qirbah yang pernah menyentuh mulut Rasulullah, dan aku akan selalu menyimpannya!"

###

Fikih Cinta, yang telah mendorong pecinta Sang Nabi untuk selalu berbuat apa saja, demi mendapat satu senyum keridhaan di mulut beliau, dan senyuman tersebut akan selalu menjadi kebanggaan dan kebahagiaan seumur hidup mereka.

Fikih Cinta pun menjadikan sang pecinta sejati rela melakukan apapun demi membela, melindungi dan membiakkan rasa aman dalam hati Sang Kekasih.

Fikih Cinta juga membuat mereka mengetahui, bahwa setiap detail kehidupan Sang Kekasih adalah pusat dari segala kebaikan duniawi dan ukhrawi.

Fikih Cinta membuat mereka tak lagi memikirkan diri sendiri, tapi menahbiskan seluruh kehidupannya untuk Sang Kekasih. Mereka sadar, inilah jalan satu-satunya untuk mencapai RidhaNya.

Fikih Cinta mengajari mereka bahwa ridhaNya hanya bisa diraih dengan melalui usaha menggapai ridha kekasihNya.

Fikih Cinta membuat mereka merasakan betapa berharga dan betapa mulia segala hal yang berhubungan dengan Sang Kinasih, meski hanya sekadar sentuhan saja.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

@bangmiqo
@Makkah, Rabi'ul Anwar 10, 1436 H

Fikih Cinta #3: Abu Bakr Asshiddiq
Abu Bakr Asshiddiq, radhiyallah anhu, hari itu mencari-cari teman karib sedari kecilnya yang lebih dewasa dua tahunan, Muhammad ibn Abdillah, karena memang beberapa hari ini ia jarang sekali bertemu dengannya. Ia sedang mengkhawatirkan keadaan temannya itu.

Hingga ia pun bertemu dengan temannya itu dan berkata, "Wahai Muhammad, kemana saja engkau? Orang-orang di setiap sudut Makkah sedang ramai membicarakanmu. Kata mereka, kau telah mengejek tuhan-tuhan mereka, membodohkan peribadahan nenek moyang mereka?"

Mendengar perkataan teman yang sama sekali tak pernah bersujud pada berhala itu, Rasulullah segera mengajaknya masuk Islam, "Wahai Abu Bakr, tidakkah engkau mau beriman kepada Allah yang Tiada Tuhan selainNya, dan beriman kepadaku, karena aku telah diutus oleh Allah menjadi Rasul bagi ummat manusia?"

Abu Bakr sejenak terhenyak, tapi ia tahu, tak pernah sekalipun temannya itu berbohong. Dan ia juga sadar, bahwa temannya sangat berkapasitas untuk menjadi seorang Nabi. Dan seketika, ia pun berkata, "ya, aku beriman bahwa tiada tuhan selain Allah, dan engkau adalah Rasulullah." Ya, tak ada sedikit keraguanpun akan kebenaran ini di hati Abu Bakr.

Mendengar itu, Rasul pun sangat berbahagia. Dan tak ada seorangpun yang lebih berbahagia daripada Rasul di hari itu, hanya karena teman akrabnya itu, Abu Bakr, kini telah menjadi shahabatnya.

###

Beberapa kali sudah Abu Bakr meminta izin kepada Rasul untuk berhijrah, mengikuti saudara-saudara berimannya menuju Madinah. Tapi berkali-kali pula Sang Kinasih melarangnya. Dan Abu Bakr sangat mengerti: larangan Nabi, pasti bersandar pada Perintah Allah. Ia pun memilih untuk mendengar apa perintahnya.

Gelombang hijrah terus berkelanjutan, hingga tak ada seorang muslimpun di Makkah, kecuali para orang-orang lemah yang tak memungkinkan untuk pergi dari Madinah, dan juga Nabi, Abu Bakr dan Ali ibn Abi Thalib. Abu Bakr sampai detik ini, pun ingin segera berhijrah, tapi ia menunggu izin Nabi.

Sampai hari itu, di siang hari, di waktu istirahat, pintu rumahnya diketuk.

Siapakah gerangan orang yang sedang menutupi wajahnya itu? Mengapa ia harus datang di saat seperti ini?

Abu Bakr pun segera membuka pintu. Dan ternyata itu adalah Rasulullah! Ia segera mempersilahkan Kekasihnya itu untuk masuk rumahnya.

"Bisakah kau keluarkan orang-orang yang di sini, wahai Abu Bakr?" ujar Rasul. Beliau ingin berbicara sangat rahasia. Tapi Abu Bakr pun segera berkata, "Wahai Nabi, mereka semua adalah keluargamu..."

Dan Nabi pun mempercayai Abu Bakr. Beliau pun segera membuka pembicaraannya, "Allah telah mengizinkanku untuk berhijrah."

Mendengar pembicaraan yang bersifat sangat rahasia itu, Abu Bakr segera berkata, "Apakah aku yang harus menemanimu berhijrah, wahai Rasul?"

Harapnya begitu tinggi, ketika ia menyadari Nabi hanya memberitahu rahasia itu kepadanya. Ia pun sangat berharap bisa menemani Rasul dan melindunginya. Ia sangat berharap, bahwa Allah telah memilihnya untuk menyertai hijrah NabiNya. Ia sangat berharap!

Dan Rasul pun berkata, "Ya, kau menemaniku berhijrah, wahai Abu Bakr..."

Dan seketika tangis haru Abu Bakr pun pecah. Hari ini, tak ada seorangpun yang lebih berbahagia daripadanya!

###

Makkah gempar ketika penduduknya mendengar mukjizat Isra' Nabi, dari Makkah menuju Palestina dalam satu malam. "Mustahil itu terjadi!" ujar musuh bebuyutan, Abu Jahl.

Ia pun segera berpikir, bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk membuat Abu Bakr meninggalkan Muhammad! Dan ia segera berlari menuju rumah Abu Bakr.

Usai menggedor pintu rumah Abu Bakr, ia berkata, "Tidakkah kau heran wahai Abu Bakr? Muhammad mengaku-ngaku bahwa ia pulang pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam! Kebohongan macam apa pula itu?!"

Dengan sepenuh keimanannya, Abu Bakr segera menjawab Abu Jahl dengan jawaban yang sangat menghentak otaknya, "Aku mempercayai itu jika memang Rasulullah berkata demikian! Aku mempercayainya ketika ia berkata bahwa malaikat dari atas langit ketujuh mendatanginya tiap hari, dan ini hanya Makkah dan Baitul Maqdis!"

###

Di tengah perjalanan menuju Madinah, Abu Bakr berjalan tak seperti biasanya: sesekali ia berjalan di depan unta Nabi. Sesekali di belakang. Sesekali di kanan. Dan sesekali di sebelah kiri. "Wahai Abu Bakr," kata Sang Kinasih, merasa heran dengannya, "Kau tidak berjalan denganku seperti biasanya. Ada apa?"

Dan dengan segala kejujuran, ia pun menjawab, "Aku mengkhawatirkanmu, wahai Nabi. Jika aku mengingat orang yang mengincarmu, aku lantas berjalan di depanmu. Jika aku mengingat orang yang mengejarmu, aku bersegera berjalan di belakangmu. Dan jika aku mengingat orang menyerangmu, aku bersegera berjalan di kanan atau kirimu!"

###

Beberapa hari sebelumnya, sebelum melanjutkan perjalanan Hijrah menuju Madinah.

Demi menyamarkan jejak kaki, Nabi berjalan menjinjit hingga terluka untuk menuju Gua Tsur. Abu Bakr pun tak tahan melihatnya, dan ia bersegera untuk menopang dan menggendong Sang Kekasih, menaiki gunung Tsur. Jalan terus dilalui, dan ia tak peduli dengan segala capai dan payah; ia lebih memikirkan Sang Kinasih.

Di depan Gua Tsur, "tunggu sebentar, wahai Rasul," ujar Abu Bakr, "biar aku memasuki gua ini terlebih dahulu." Ia masuk untuk memeriksa gua itu: keamanan, kenyamanan, semua demi Nabi. Semua liang berisi ular dan kalajengking ia tutup satu persatu. Dan akhirnya, ia mempersilahkan Nabi memasuki gua--ia sudah yakin, gua itu sudah aman dan nyaman.

Lantas, Nabi pun tidur dengan berbantal kaki Abu Bakr, dan Abu Bakr sebisa mungkin untuk tidak bergerak agar tak mengganggu istirahat Sang Nabi.

Tapi, ternyata disana ada satu liang belum tertutup! Abu Bakr pun segera menutup liang itu dengan kakinya. Dan, berkali-kali kakinya harus disengat hewan yang berada di dalamnya.

Dan tetap saja, ia sama sekali tidak bergerak. Biarlah kakiku di sengat seperti apapun, asal Nabi tidak terganggu!

Akhirnya, Abu Bakr pun tak tahan, dan ia mulai meringis kesakitan, meneteskan air mata--itupun tanpa suara. Hingga setetes air matanya pun mengenai Nabi, dan beliau segera terbangun. "Ada apa, wahai Abu Bakr?"

Kasih sayang yang sangat dalam untuk shahabat terutama itu. Abu Bakr pun menceritakan apa yang terjadi. Dan dengan mukjizatnya, Nabi pun segera menyembuhkan luka Abu Bakr.

###

Perjanjian Hudaibiyyah ini sangat membingungkan bagi Umar ibn al Khatthab. Bagaimana Nabi rela menyepakati poin-poin itu: setiap orang yang lari masuk Islam menuju Madinah, harus dikembalikan ke Makkah. Tapi jika ada seorang murtad dari Islam menuju Makkah, maka tidak boleh dikembalikan ke Madinah. Ummat Islam pun harus kembali ke Madinah kali ini, menunda keinginan umrahnya, dan baru boleh kembali tahun depan dan itu pula hanya tiga hari. Dan harus gencatan senjata selama sepuluh tahun, tak ada peperangan sama sekali.
"Bukankah engkau Rasulullah?" tanya Umar.
"Ya, aku Rasulullah," jawab Sang Nabi.
"Bukankah kita berada di jalan yang benar?"
"Ya, kita berada di jalan yang benar."
"Bukankah mereka, kaum kafir, berada dalam kebatilan?"
"Ya, mereka dalam kebatilan."
"Lalu mengapa kita harus rela memberi keremehan kepada diri kita dengan menerima syarat-syarat ini?"
"Wahai Umar, aku adalah Rasulullah..." tutup Sang Nabi. Beliau menjalani hidupnya dengan selalu dalam koridor wahyu.

Umar yang tak puas mendengar jawaban ini, pun segera keluar dari perkemahan Nabi, mencari-cari sahabatnya, Abu Bakr yang sedang berada di tempat lain.
"Wahai Abu Bakr, bukankah beliau adalah Rasulullah?"
"Ya, beliau Rasulullah," jawab Abu Bakr.
"Bukankah kita berada di jalan yang benar?"
"Ya, kita berada di jalan yang benar."
"Bukankah mereka, kaum kafir, berada dalam kebatilan?"
"Ya, mereka dalam kebatilan."
"Lalu mengapa kita harus rela memberi keremehan kepada diri kita dengan menerima syarat-syarat ini?"
"Wahai Umar, beliau adalah Rasulullah..."
Abu Bakr pun menjawab dengan jawaban yang sama dengan Sang Nabi! Ia sadar sekali, bahwa setiap apa yang Nabi lakukan, pasti atas perintah Allah.

###

Peperangan kali ini, pasukan Islam membutuhkan banyak biaya. Dan Nabi pun segera menyarankan para shahabat untuk bersedekah, semampu mereka. Dan berduyun-duyun para shahabat menyumbangkan apa yang ingin mereka sumbangkan untuk kekuatan pasukan Islam.

"Kali ini aku harus bisa lebih baik daripada Abu Bakr," ujar Umar ibn al Khatthab. Ia pun membawa setengah harta yang ia miliki, kepada Nabi.
"Apa yang kau sisakan untuk keluargamu, wahai Umar?"
"Aku menyisakan nominal yang sama untuk keluargaku, wahai Nabi..."

Lalu Abu Bakr pun datang, dengan membawa hartanya. Ia meletakkan sedekahnya di hadapan Nabi. "Ini seluruh harta yang aku miliki, wahai Rasulullah..."
"Apa yang kau sisakan untuk keluargamu, wahai Abu Bakr?"
"Aku menyisakan Allah dan RasulNya untuk keluargaku!"

Umar pun segera berujar, "Demi Allah, aku tak pernah bisa menjadi lebih baik darimu, wahai Abu Bakr!"


###

Semenjak menjadi Khalifah, Abu Bakr pun harus disibukkan dengan negara Islam keseluruhan. Harinya ia tahbiskan untuk Islam dan seluruh pemeluknya, juga untuk seluruh kemanusiaan.

Tapi itu tak menutup rasa rindunya.

Setiap malam tiba, usai segala kesibukan kenegaraan terselesaikan, ia pun segera bersimpuh di luar rumah Aisyah, tempat Nabi disemayamkan. Ia duduk bersimpuh, menempelkan kepalanya di temboknya, dan menangis penuh rindu kepada Sang Nabi.

Hingga di hari wafatnya, seakan bau daging terbakar semerbak dari mulut beliau. "Ini adalah hati yang setiap hari panas, 'terbakar' kerinduan kepada Sang Kinasih..."

Radhiyallah anhu.

###

Fikih Cinta adalah modal terbesar dalam mengenal dan membenarkan segala kebenaran, tanpa menyisakan lagi senoktah keraguanpun dalam hati.

Fikih Cinta pula yang mendorong seseorang untuk melakukan segala, menyerahkan segala, menghaturkan segala, untuk Sang Kekasih.

Fikih Cinta pun membuat seseorang siap kehilangan nyawa sekalipun demi membela dan melindungi Sang Kinasih.

Fikih Cinta juga yang membuat cinta itu tertanam kuat, tertancap jauh di dalam sanubari, tanpa ada sedikitpun keraguan dapat menggoyahkannya.

Fikih Cinta bukan hanya pengakuan, tapi Fikih Cinta adalah pembuktian nyata dengan segala ucap, gerak gerik dan keyakinan.

Fikih Cinta pun membentuk jiwa sang pecinta menjadi sama dan persis dengan Sang Kinasih Tercinta; mendorongnya untuk selalu meniti setiap langkah dan jalannya.

Fikih Cinta juga membuat hati benar-benar tertambat dalam satu sosok yang benar-benar layak dicintai, dan bertahan dalam cinta itu tanpa tergantikan sedikitpun.

Fikih Cinta: Sebuah pemahaman detail mengenai cinta sejati. Sebuah pemahaman detail untuk setiap mereka yang mengaku muslim, bagaimana seharusnya mencintai Sang Kinasih.

Shallallah alaih wa alih wa shahbih wasallam.

@bangmiqo
@Makkah, Rabiul Anwar 11, 1436 H


...bersambung..