Baca juga yang ini

Alhamdulillah...satu tahap perjuangan telah dilalui...

Rasulullah bersabda :"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fi sabilillah hingga ia kembali.(HR.Muslim) Jum'at...

Tuesday, April 14, 2015

Antara Asa dan Rasa

Di dalam angkutan umun, menuju kantor...lamunanku berkisar antara asa dan rasa. Orang-orang yang teramat sangat aku sayangi...benar-benar sedang disayang Allah lewat teguran dan ujian2 yang menghampiri mereka

Putri sulungku..yang sedang berjuang keras menyelesaikan tugas akhirnya di fakultas biologi undip Semarang, Jum'at siang kemarin terjatuh dari motor. Entah karena tergesa atau beban pikiran, sepulang dari  ngasistensi adik-adik angkatan di kampusnya. Ia panik ketika berpapasan dengan mobil yang melaju  cepat. Sebuah motor yang dikendarai seorang ibu,  melaju disamping kiri mobil tersebut sedikit menyentuh ujung belakang motor.  Akibatnya ia lepas kendali.

...................................................................................................................................... 
Jum'at  10 April Jam dua siang,  hapeku berdering. Dan seperti biasa tiap kali ada dering telp.hati ini juga ikut bergetar.  Dan benarlah...diujung sana..suara putriku seperti sedang menahan rasa sakit.

"Bun..aku jatuh dari motor....'"
Aduuh, sakiit...ku dengar jeritannya di ujung telpon. 
Saat mendengar suara putriku menyeriang kesakitan ingin rasanya saat itu juga, jiwa dan raga ini langsung terbang ke Semarang untuk menolongnya.

Namun sadar itu tak mungkin, aku sekuat tenaga menyimpan panikku dan menjaga supaya suaraku tetap tenang. Aku tak mau...rasa gugupku...terdengar dan terbaca putriku. 
"Tapi kamu ga papa kan?"
Dimana....Mengapa, bagaimana kejadiannya menjadi pertanyaanku selanjutnya.

"Iya ga apa-apa Bun....tapi lututku sakit sekali....."
Sebenarnya hati ini sudah ga karuan karena khawatir yang amat sangat..tapi aku paksain untuk tenang. Putriku masih bisa telpon sendiri. Insyaallah putriku baik-baik saja.

"Oke sayang....kamu sekarang tenang.....ikuti kata orang yang sedang menolongmu"
"Matikan dulu hape ya......
Nanti bunda telp.lagi"
Masih dipenuhi rasa khawatir, kutunggu beberapa menit untuk memastikan kondisinya.

Alhamdulillah.......putriku cuma memar di kaki dan...tebeng motor lecet.-lecet bagian depan .(itu masalah nomer sekian), yang penting putriku baik-baik saja.
"Yang penting kamu ga papa..."
Masalah tebeng motor masih bisa diservis ya......

"Ya bun..." 

jawab putriku dari ujung sana, cukup membuat hati ini tenang. 

.........................................................Namun tak berselang beberapa menit.
Satu pesan sms masuk. Kubaca sekilas pengirimnya dari putra-ku.
"Uts(ujian tengah semester) sudah selesai.
Jalan2 sit ya bun."
kemana? Kupikir paling pamitan main ke rumah seorang teman, atau jalan2 ke malioboro untuk refresing setelah lelah berjibaku dengan tumpukan buku dan peralatan robotnya.
"Munggah(naik) gunung Sumbing Wonosobo bun...."

What..? Naik gunung lagi? Ini pendakiannya yang ke 6, setelah g.slamet, Merbabu, Merapi, g. Rinjani di p.Lombok, g. Merbabu lagi dan kali ini g.Sumbing.
Saya kira setelah berbulan-bulaan terakhir sibuk dengan Tim robot-nya hobby naik gunung terlupakan. Namun ternyata, jiwa petualangannya terus mengalir.  Pendakiannya kali ini bersama Tim robot UGM yang berjanggota 8 mahasiswa. Sepertinya pendakian Kali ini tidaklah main-main. Ada harapan dan tekad yang membara.

"Kapan berangkat?"
"Nanti sore bun..."
Ya...ya....akhirnya saya hanya pasrah. Hanya doa dan sedikit petuah yang cenderung didorong rasa khawatir merelakan putraku dan rombongannya memulai pendakiannya. 

Tiga hari dua malam, saya gelisah menanti kabar dari putraku. Baru hari  Minggu jam 10.00 malam...satu pesan masuk di hapeku.

"Baru nyampe Jogja"

Alhamdulillah. Sujud syukur kepada Allah yang telah melindungi pendakiannya kali ini. Berita2 miring tentang musibah yang dialami para pendaki gunung, membuatku tak bisa tidur lelap setiap kali putraku sedang melakukan pendakiannya. 

.................................................................
Minggu ini putri bungsuku mulai ujian sekolah. Entah karena kecapean belajar atau sedikit panik menghadapi ujian....sudah dua hari ini, badannya panas dan sedikit batuk. Namun itu tak mengurangi semangat belajarnya.  

Putriku sayang....
kau sudah berusaha belajar dengan sangat baik. Namun....Apa dan  bagaimana nanti hasil ujian...bunda tetap proud u.

Tetap berusaha...dengan belajar semampu kau bisa... untuk menghadapi ujian nasional bulan Mei besok...belajar sedikit demi sedikit ya..
berjalanlah terus... walau sedikit pelan tak mengapa, yang penting terus maju pantang mundur.
Keep smile ya.....


.............................................................
Ibuku, perempuan tertangguhku masih terbaring sakit. Stroke ringan Dan sakit jantungnya perginya pelan-pelan. Bahkan akhir -akhir  ini....sesak nafasnya seringkali kambuh. Pagi hari....setiap kali bangun tidur..ibuku tersengal-sengal nafasnya. Secepatnya obat inhaler dihirup untuk mengurangi sesak.

Ya...Sejak ibuku, perempuan tertangguh dalam hidupku jatuh sakit.....kurang lebih 6 bulan yang lalu, rasa was-was, 'runtag' Dan gelisah menelikungku . Selalu. Setiap hari, setiap waktu, setiap detik. Bahkan aku merasakan detak jantung yang lebih kencang tiap kali mendengar bunyi hape tanda sms masuk. Terlebih dering telpon...bahkan mungkin....detak jantungku melaju lebih cepat, dibanding detak jantung ibuku yang terkena penyakit jantung.

Ya Allah....jagalah ibuku....
perempuan yang menjadikanku ter lahir di bumi-Mu. 
Sayangi ibuku
Sebagaimana ibuku menyayangiku sejak aku kecil
Aamiin

(itu renungan yang melintas di pikiranku, selama 15 menit di dalam angkutan umum)




di puncak g.Sumbing
sibuk belajar
ibuku masih terbaring lemah

Monday, April 6, 2015

Beras Miskin...Milik Kita

Ini cerita tadi pagi, saat saya berangkat ke kantor.  Di tikungan menuju pangkalan angkot, saya berpapasan dengan ibu berusia separoh baya. Ibu Nurhayati. Saya biasa memanggilnya bu Nur. Beliau tinggal di gang sebelah. Nafasnya nampak tersengal. Sementara tangan kanan merengkuh buntelan plastik kresek.

"Assalamualaikum bu Nur..."
"Waalaikum salam.."
"Dari mana ibu..." sapaku pelan. Khawatir mengganggu langkahnya yang terseok menahan beban digendongannya..
"Dari rumah pak Rt...ambil jatah...eh...beras sembako.."
Mendengar kata sembako, keinginan-tahuanku yang selama ini terpendam jauh di lubuk hati, tentang rupa alias wujud si 'sembako', mendorongku untuk lebih mendekati bu Nur.
Sejauh yang saya dengar dari banyak pemberitaan, kualitas beras miskin (RASKIN) sangat tidak baik dan tidak kayak konsumsi. Benarkah?
"Maaf bu...boleh saya lihat berasnya..?"
"nggih...monggo....Ada apa ya..? Tatap matanya penuh dengan tanya.
"ga ada apa-apa, maaf ya bu...", Saya terima buntelan tas kresek dari tangan bu Nur.

Dari bungkus kreseknya saja sudah nampak warna kecoklatan...dan begitu bungkusnya dibuka...
Saya benar-benar terhenyak..napas sejenak berhenti..
Ya Allah...beras seperti inikah yang dibagikan kepada rakyat? Benar-benar tidak layak konsumsi. Warna sudah kuning cenderung men'coklat, karena lamanya tersimpan di gudang. Dan bentuk rupanya lembut sedikit menggumpal. Duuuuh...miris..!!

Membayangkan Ibu Nur dan ibu-ibu lainnya(sebagian rakyat miskin di Indonesia) menerima jatah beras serupa ini.  
Membayangkan sebagian saudara-saudaraku dengan amat terpaksa (karena ga ada pilihan lain) mengkonsumsi nasi dari beras miskin(RASKIN)...nelangsa. Lihat rupa dan warnanya, sangat mengenaskan.

warna kuning, keruh, lembut dan agak menggumpal
serupa makanan untuk ternak..
Bandingkan dengan beras berkualitas berikut. Terlihat bersih, bersinar laksana mutiara. Harusnya seperti inilah beras yang dikonsumsi saudara-saudaraku. Bukan beras yang semestinya  sudah dihanguskan (didaur ulang menjadi bahan lain, misal tepung), atau diperuntukkan untuk makanan ternak( meski saya ga yakin, apakah ternak mau memakannya atau tidak), namun kenyataannya, masih tega dibagikan kepada rakyat.

Siapa yang salah?
Mereka para pejabat terkait yang buta mata buta hati (maaf kalau sedikit kasar) ataukah  rakyat yang tetep mau menerima meski sudah tahu kondisi beras?Duh...duuh...aduuuuhh....kini saya hanya bisa bertanya pada pada rumput yang bergoyang(pinjam judul lagu mas Ebiet G.Ade)
Salah siapa....Ini salah siapa?
Sambil ngebayangin...
kapan saudara-saudaraku menerima beras bagian serupa ini?

putih, bersih, sedikit mengkilap

Saturday, April 4, 2015

Sekali, Hidup Sepenuh Hati


Tulisan ini aku tujukan untuk diri sendiri, anak-anakku dan orang –orang yang sepenuh hati berkenan membaca tulisan ini(sengaja ataupun tidak).

Kemarin saya baru baca resensinya Muhammad Rasyid Ridho. Buku yang diresensi berjudul Sekali, Hidup Sepenuh Hati karya Muhammad Fahrizal. Dan semalam putraku mengeluh cape ,pengin istrirhat. Gara-gara tenaga dan pikirannya terforsir memikirkan tim robotnya yang pada tgl 14,15, dan 16 mei besok, akan mengikuti ajang lomba robot antar universitas. Sudah berbulan-bulan sejak ia masuk tim robot, setiap hari, setiap malam ia dan timnya bekerja keras membuat program untuk calon robotnya. Bukan hanya otak dan pikirannya yang diperas, kadang finansial merekapun harus keluar bila diperlukan. Terpaksa mereka harus ngirit dana untuk biaya sehari-hari..makan dan lain-lain.

Sementara putri sulungku semester ini juga sedang berjibaku dengan tugas akhirnya. Penelitiannya tentang jamur memaksa putriku harus betah menghabiskan waktunya di laborat selama berminggu-minggu. Dan minggu-minggu ke depannya, ia harus bekerja keras mengerjakan hasil peneltiannya. Pastinya dibutuhkan energy ekstra untuk menyelesaikannya. Perencanaan putriku,  selesai menulis laporan bulan april. Bulan Mei sidang skripsi. Dan bulan Juni Wisuda. Semoga lancar perencanaan putriku.
salah satu foto jamur: Tugas Akhir putriku 


Sedang putri bungsuku tak kalah sibuk seperti kakak-kakanya. Ia mulai sibuk dengan persiapan ujian akhir Sekolah Dasarnya. Setiap hari belajar mengerjakan soal-soal. Tiada hari tanpa membaca dan menggarap contoh soal dari buku kumpulan soalnya. Paling malam ia tidur jam 11. Itu kesadaran sendiri, tanpa sekalipun kami menyuruhnya. Siangpun…hampir tak pernah ia gunakan untuk tidur siang. Paling sesekali acara selingannya, lihat video lucu anak-anak korea yang menggemaskan.

Sementara saya lirik ke diri sendiri. Batinku dipenuhi tanda tanya. Apa saya sudah sepenuh hati memerankan diri di atas panggung-Nya sebagaimana putra dan putriku berjuang menuntut ilmu? Apakah sekali hidup, saya sepenuh hati menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi-Nya? Setiap hari, berbagi waktu untuk suami, anak, orangtua dan kerja. Setiap saat apakah sudah sepenuh hati dalam mengoptimalkan potensi dan kemampuan diri yang diberikan Allah?

Untuk anak-anakku yang sedang berjuang...
Sekali, hidup sepenuh hati, tergantung diri membawa ke mana arah tujuan hidup. Dengan potensi yang sama yang diberikan Allah, apakah kalian bisa mencapai impian? Kerja keras, bersakit-sakit dulu sepertinya syarat mutlak untuk meraih suatu kesuksesan dan kebahagiaan. Cobaan, ujian dan tantangan harus dihadapi dalam proses menuju sebuah keberhasilan dan Kebahagiaan. Maka bertahanlah...kalian pasti bisa melewati rintangan, ujian dan kesulitan yang menghadang. Sekali,  hidup sepenuh hati kita jalani  bersama.
Doa bunda menyertai langkah-langkah kalian. Walau mungkin langkah kalian pelan, tapi pastikan  tidak akan pernah  mundur
hidup bagai menganyam, susah, sulit..tapi indah pada waktunya



Renungan hari ini, 4 April 2015

Wednesday, April 1, 2015

Asyiknya Meresensi Buku


Saya barusan membaca tulisan tentang asiknya meresensi buku oleh Muhammad Rasyid Ridho. Sepertinya memang asyiik ya…hanya mengomentari sebuah karya orang lain, kita dapat fee juga buku-buku gratis (untuk yang referensi bagus pastinya…). Duuuh,..ngiler nih mas… mau doong. Tanpa sungkan dan takut tersaingi mas Ridho memberi kita  tips-tips jitu bagaimana meresensi buku. Lengkap bin komplit sekali…

Ada keinginan untuk mencoba meresensi sebuah buku. Tapi bisa ga ya….Bisa enggaknya memang harus dicoba untuk menulis, menulis dan menulis. Ya..pasti akan saya coba menulis. Hehe…mungkin dari sebuah buku yang tipis dulu ya…tapi lain kali. Tidak sekarang.
Kali ini, saya akan memulai meresensi tulisan mas Ridho dengan judul diatas…hehe, mungkin baru saya ya…meresensi tulisan atau sebuah artikel pendek. Bukan sebuah buku. Tapi ga pa pa kan? Namanya baru belajar…bisa di mulai dari mana dan apa saja. Hehe…Yang penting ada kemauan untuk mencoba menulis resensi…..

Hmm…yang pertama  saluuuut buat mas Muhammad Rasyid Ridho. Saya mengenalnya saat saya masih rajin ikut lomba nulis di Fb. Bahkan ada satu buku antologi saya bareng mas Ridho dan kawan-kawan. Judulnya Selaksa Makna Sahabat.  


Jujur saya ingin mengacungkan dua jempol buat mas ridho yang berkenan berbagi ilmunya tanpa khawatir tersaingi. Dia memberi judul tulisannya Asyiknya menulis Resensi. Dan memang benar-benar asyik dan sedap menikmati sajiannya. Komplit sekali. Ibarat demo memasak ditampilkan bagaimana menyiapkan sebuah resep, cara mengolahnya, plus tips menyajikannya.

Untuk memulai merensesi kita bisa belajar dengan banyak membaca resensi yang ada di media cetak atau on-line. Lalu kita coba metode ATM (amati, Tiru, dan modifikasi). Atau  mencoba mempraktekkan pengalaman mas Ridho yang disebutkan sampai 9 point. Diantaranya memilih buku-buku terbitan tahun teranyar, lalu baca sampai tuntas…tas, hingga titik terakhir di lembar terakhir. Catat hal-hal yang menarik yang kita temukan didalamnya. Judul yang menarik juga penting agar resensi kita diminati. Lalu kirim ke media, kirim lagi dan lagi. Terakhir siapkan mental bila resensi kita di tolak, mungkin kurang layak atau kedahuluan oleh yang lain.

Kemudian mas Ridho menyebutkan banyak  sekali manfaat yang didapat dengan merensi buku. Antara lain, bisa kenal dengan penulisnya, kenal marketing penerbit, jalan2 gratis plus bonus2 lainnya bila resensi kita diterbitkan oleh media...wow senengnya..!!

Asyiknya menulis resensi dari mas Ridho kali ini,  membuat saya langsung ingin  mencoba mempraktekkan…walau baru bisa mencoba resensi  tulisan mas Ridho ini. Padahal niat awal hari ini, saya  menulis tema yang lain... Tapi apalah daya...jemari saya maunya mencoba membuat resensi. hehe...Saya mengArtikan, tulisan mas Ridho telah berhasil menarik si pembaca untuk mencoba menulis resensi seperti yang ia inginkan.

Masih kata mas ridho, Untuk menulis sebuah resensi, pasti ada sebuah buku yang harus dibacanya sampai tuntas..tas, hingga titik terakhir di lembar terakhir. Tulis bila kita menemukan hal-hal yang unik didalamnya. Entah itu EYD,  istilah  atau hal unik lainnya. Tulis kekurangan dan kelebihan dari buku yang kita baca. Selanjutnya kita kirim ke media cetak atau online. Dan terakhir siapkan mental…bila resensi ditolak. Yang pasti proses tidak pernah bohong. Suatu hari nanti...resensi saya pasti...(tergantung saya ya, mau menindak lanjuti apa tidak setelah menulis ini...). 
contoh resensi buku"Sekali Hidup Sepenuh Hati oleh Muhammad Rasyid Ridho


Okelah kalau begitu, untuk lebih jelasnya silahkan baca aja di :

www.penulispembelajar.wordpress.com/category/kisah-hiduo-2