Baca juga yang ini

Alhamdulillah...satu tahap perjuangan telah dilalui...

Rasulullah bersabda :"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fi sabilillah hingga ia kembali.(HR.Muslim) Jum'at...

Wednesday, April 6, 2016

Ini Tentang R U M A H....



Rasulullah pernah ditanya oleh para sahabat siapakah "orang-orang yang beruntung" Maka Rasul menjawab:  "Orang yang paling banyak ingat mati, paling baik dalam mempersiapkan kematian. Merekalah orang-orang yang paling beruntung di mana mereka pergi(meninggal) dengan membawa kemuliaan di dunia dan di akhirat.(HR. Ibnu Madjah (4259)


Rumahku adalah istanaku. Begitu sering saya dengar orang-orang mengumpamakan tempat huniannya. saya bersyukur, di jelang dua puluh lima tahun usia pernikahan, kami sudah memiliki tempat hunian yang asri dan nyaman. Jauh dari keramaian dan deru kendaraan. Untuk menjangkau tempat perhentian bis saya mesti berjalan kaki terlebih dahulu sejauh kurang lebih 400 meter 

Bila bepergian di pagi hari memang tidak terasa berjalan sejauh 400 m.  Angin sepoi-sepoi dan hijaunya sawah di kanan-kiri jalan serta rindangnya pohon-pohon di sepanjang jalan setapak  mendekatkan jarak dari rumah ke halte. Sebaliknya bila berjalan di siang hari, saat  matahari sinarnya menyengat menyentuh kulit, kami baru merasakan jauhnya. 



Ya, sudah satu setengah tahun kami menghuni rumah (baru) yang berlokasi di suatu desa di kecamatan Bumiayu. Sebelumnya kami tinggal di tengah kota Bumiayu. Berhubung rumah tersebut masih milik bersama, maka suami memutuskan untuk menempati rumah sendiri, meski terletak agak jauh dari pusat keramaian (kota) Bumiayu. 

Hanya bertiga, saya suami dan si bungsu. Kebetulan dua anak saya, yang sulung dan adiknya berada di kota Yogyakarta. Mereka sedang belajar dan berjuang mencari ilmu sebagai upaya menggapai harapan dan cita-cita mereka.  

Ya, kami cuma bertiga menghuni rumah. Kemanapun kami pergipun hampir selalu bertiga. Satu motor masih bisa muat. Entahlah, kelak bila si bungsu tumbuh dewasa. Mungkin saya harus naik motor sendiri ya.... Tapi untuk waktu sekarang saya belum berani. Eh, yang bener sih...suami belum mempercayai sepenuhnya. Mungkin rasa khawatir yang berlebihan ya...secara lebih satu dasawarsa( 15 tahunan) saya tak pernah lagi pegang motor. 

griya-anita

Selama ini saya selalu dimanjakan  naik ojek gratis suami. Bila suami berhalangan 'ngojeg' saya lebih nyaman naik angkutan umum. Naik kendaraan umum, terasa lebih nyaman dan tidak repot menurut saya. Hanya saja lebih memakan waktu. Untuk jalan ke tempat halte, untuk ngetem nunggu penumpang yang lain, belum untuk putar-putar jalannya. Tapi, jujur sepertinya saya lebih senang dan milih naik ankutan umum.

Secara lagi...mengendarai motor sendiri, sepertinya lebih repot ya... Mana motor harus selalu bersih...sementara bila musim hujan seperti akhir-akhir ini,  motor 'jlebud...harus mandi dulu dong....sebelum masuk rumah (Ssssstt......soalnya suami bersihan banget. ga suka liat yang kotor-kotor).

kembali soal Ini Tentang Rumah... gambar di bawah nampak si bungsu sedang bersiap memasuki rumah. Rumah tempat kami beristirahat setelah siang harinya berjibaku dengan kegiatan kami masing-masing. Suami bekerja sebagai guru mengajar di SMKN. Si bungsu  duduk di bangku  kelas 1 smp. Saya sendiri menghabiskan (waktu utama di rumah dari jam 4 sore hingga jam 6 pagi). dan waktu luang saya dari jam 8 - 4,  sebagai karyawan di sebuah lembaga pendidikan di kota kami. 


griya-anita
Si Bungsu Di depan pintu gerbang

Nah...Sahabat tersayang, tulisan kali ini, bukan bermaksud riya tentang 'rumah. Justru sebagai pengingat diri. Bahwasanya rumah kami di dunia hanyalah  tempat tinggal sementara. Numpang singgah saja. Rumah serupa apapun, sebagus istana Taj-Mahal, semewah kapal pesiar, selengkap supermarket...tidak akan berarti apa-apa bagi si empunya rumah.

Segala kemewahan di dunia akan menjadi tinggalan. Semua akan ditinggalkan bila ajal datang menjemput. Karenanya sungguh merugi, bila kita melupakan bakal rumah kita selanjutnya di kampung akhirat. Perlu dan harus kita persiapkan dengan sungguh-sungguh.  Rumah kita selanjutnya. 
Rumah kita di alam kubur. 

Akulah rumah orang yang merantau
Akulah menjadi rumah orang terpencil
Akulah menjadi rumah orang yang sussah, gelisah dan cemas
Akulah rumah yang gelap
Akulah rumah gelap
Akulah rumah ulat

Bagaimana kira-kira rumah(kubur) menyambut diri nanti? Adakah dengan ucapan:"Marhaban wa Ahlan Wa Sahlan..memang engkaulah orang yang lebih aku senangi berjalan di punggungguku. Lalu Rumah kubur kita diperluaskan seluas pandangan mata, dan dibuka pintu surga untuk disaksikan keindahan dan kenikmatannya...Aamiin Ya Allah
Ataukah dengan ucapan "La Marhaban Wa la ahlan wa sahlan: Seketika kubur menghimpit dan menjepit, hingga tulang rusuknya keluar terputus-putus. Na'udzu billah..

4 comments:

  1. Rumah yang paling abadi untuk manusia yaitu Kuburan, di rumah inilah kita semua akan kembali ... terima kasih mbak artikelnya sangat bagus sekali :)

    ReplyDelete
    Replies

    1. betul sekali kang Mhan..namun kebanyakan dari kita, lupa mempersiapkan isi/ perabot bakal rumah abadi kita..makasih telah mampir di griya saya

      Delete
  2. iya Mba, saya juga gak neko2 kalo mmebahas soal rumah. sayang juga rumah dibuat besar, megah dll. klao kita lupa ama mmebangun rumah yg hakiki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Membangun rumah di dunia kita iringi juga dengan membangun rumah akhirat,.

      Delete

tiada arti catatan saya, tanpa jejak komentar anda...
Salam Cinta